Liputan6.com, Ramallah - Pagar kawat milik Israel baru sedang didirikan di pinggiran Sinjil, sebuah kota Palestina di utara Ramallah, Tepi Barat tengah yang diduduki.
Pagar penghalang itu punya panjang 1.500 meter (4.921 kaki) dan tinggi enam meter (20 kaki), demikian pengakuan dari warga Palestina. Mereka mengatakan, hal ini mengubah kampung halaman mereka, rumah bagi hampir 6.000 orang, menjadi penjara bertembok yang dikendalikan oleh seorang tentara pendudukan Israel yang ditempatkan di gerbang yang terkunci.
Advertisement
Strukturnya membentang di sepanjang Rute 60, sebuah jalan raya yang menghubungkan Ramallah dan Nablus yang sering dikunjungi oleh para pemukim ilegal Israel yang bepergian antara permukiman ilegal yang dibangun di atas tanah Palestina.
"Ini adalah operasi terkoordinasi antara tentara Israel dan pemukim ilegal," kata Ayed Ghafri, seorang aktivis lokal yang menentang perluasan permukiman, dikutip dari laman middleeastmonitor, Minggu (11/5/2025).
"Pendudukan mencekik kota dengan memagarinya, memotong lahan pertanian, dan membiarkan pemukim ilegal meneror penduduk."
Tahanan di Tanah Sendiri
Ghafri mengatakan, pagar tersebut telah memblokir pintu masuk samping ke kota, menghancurkan sekitar 30 dunam (7,4 hektar) lahan pertanian Palestina, dan secara efektif memotong 70 persen tanah Sinjil dari penduduknya.
Beberapa rumah sekarang terletak di luar penghalang, terisolasi dari bagian kota lainnya.
"Sinjil dulunya adalah pusat komersial," tambahnya.
“Sekarang ini adalah kota hantu."
Bagi Walid Fuqaha, seorang petani dan penggembala berusia 33 tahun, tembok telah membalikkan rutinitas hariannya. Apa yang dulunya hanya beberapa menit berjalan kaki ke ladangnya sekarang memakan waktu lebih dari setengah jam, jika dia bahkan diizinkan untuk pergi.
"Terkadang seorang tentara menolak untuk membuka gerbang," katanya.
“Kami adalah tahanan di tanah kami sendiri."
Strategi Pemukiman
Fuqaha mengatakan, pagar itu adalah bagian dari strategi pemukim yang lebih luas untuk mengusir warga Palestina dari tanah mereka.
“Mereka membiarkan sapi mereka menghancurkan tanaman kita. Mereka ingin kita menyerah, meninggalkan ladang untuk ekspansi mereka,” katanya.
Bagi penduduk seperti Umm Muhammad Fuqaha, pesan di balik tembok itu jelas.
“Mereka mengatakan, itu untuk keamanan. Tapi itu untuk mencekik kita,” katanya. "Mereka telah menutup semua jalan kecil dan meninggalkan kami dengan satu pintu masuk yang dikendalikan oleh tentara."