Liputan6.com, Athena - Seorang wanita di Yunani memutuskan untuk mengakhiri pernikahan selama 12 tahun setelah ChatGPT mengklaim bahwa suaminya berselingkuh — hanya dengan "membaca" bubuk kopi dari secangkir kopi yang difoto.
Kisah ini terungkap dalam program pagi "To Proino" di televisi Yunani, saat sang suami membagikan pengalamannya.
Advertisement
Ia mengungkapkan bahwa istrinya mengikuti tren media sosial yang melibatkan ChatGPT untuk menafsirkan pola bubuk kopi — sebuah pendekatan modern terhadap seni tradisional tasseografi, atau membaca nasib melalui sisa kopi.
Dalam percobaan tersebut, istrinya mengunggah foto sisa bubuk kopi dari cangkir mereka berdua ke ChatGPT, dikutip dari Oddity Central, Sabtu (10/5/2025).
Chatbot itu kemudian memberikan interpretasi yang mengejutkan: suaminya dikatakan berselingkuh dengan seorang wanita misterius yang namanya diawali huruf "E" dan dinilai akan merusak keluarga mereka. Tanpa memverifikasi informasi tersebut, sang istri marah dan segera mengajukan gugatan cerai.
"Saya awalnya menertawakan itu sebagai sesuatu yang tidak masuk akal," ujar sang suami dalam wawancaranya. "Namun, istri saya menganggapnya sangat serius. Dia meminta saya keluar dari rumah, memberi tahu anak-anak bahwa kami akan bercerai, dan saya kemudian menerima telepon dari pengacaranya. Saat itulah saya menyadari situasinya benar-benar serius."
Suami Terima Gugatan Cerai
Hanya dalam tiga hari setelah kejadian tersebut, pria itu menerima surat gugatan cerai. Meski begitu, pengacaranya menyatakan akan menentang gugatan tersebut, karena tuduhan yang didasarkan pada hasil interpretasi AI tidak memiliki kekuatan hukum, dan kliennya tetap dianggap tidak bersalah sampai terbukti sebaliknya.
Menurut sang suami, istrinya memang memiliki kecenderungan kuat terhadap praktik ramalan. Ia mengenang bahwa beberapa tahun lalu, istrinya pernah sangat percaya pada prediksi seorang astrolog, dan butuh waktu hampir satu tahun untuk meyakinkannya agar kembali pada realitas.
Seiring viralnya kisah ini, sejumlah praktisi tasseografi di Yunani menegaskan bahwa membaca nasib melalui kopi melibatkan lebih dari sekadar bubuk sisa. Mereka juga memperhatikan busa, pola di dasar cangkir, serta posisi cangkir itu sendiri — keterampilan yang tentu tidak dapat digantikan oleh kecerdasan buatan.