Liputan6.com, Bandung - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengeklaim program pendidikan karakter berbasis militer yang digagasnya kini menuai respons positif dari para orangtua.
Saat ini, kata dia, banyak orangtua yang berdatangan mendaftarkan anak-anak mereka untuk mengikuti pendidikan karakter tersebut.
Advertisement
"Makin ke sini malah makin banyak yang daftar, artinya ada kegelisahan," ucap Dedi dalam unggahan di akun Instagram miliknya @dedimulyadi71, dikutip pada Rabu, 7 Mei 2025.
Ke depannya, Dedi akan membuka beberapa gelombang. Dengan demikian, program tersebut akan terus berlangsung selama setahun penuh.
"Nanti kita bikin gelombang-gelombang saja, nanti gelombang pertama misalnya 500, gelombang kedua 500, terus berkesinambungan dalam setahun tidak pernah berhenti,"
Di sisi lain, Dedi menuturkan bahwa program pendidikan karakter tersebut bukan lagi terkait dengan perilaku khusus anak.
"Banyak yang hari ini mungkin sudah berbondong-bondong nitipin anaknya sehingga nanti kita tidak lagi bicara persoalan anak yang berperilaku khusus, anggap saja ini pendidikan kebangsaan dan kepemimpinan bagi anak-anak Jawa Barat," ucap Dedi.
Dedi Klaim Ada Progress Positif
Sementara itu, Dedi mengklaim adanya progress positif dari program pendidikan karakter berbasis militer yang digagasnya. Menurut Dedi, anak-anak yang menjalani pendidikan karakter itu kini telah memiliki kesadaran untuk berubah.
"Secara umum, mereka sudah punya kesadaran bahwa dirinya ingin berubah, dan mungkin di rumah mereka tidak bisa berubah," kata Dedi dalam unggahan di akun Instagram miliknya @dedimulyadi71, dikutip pada Rabu, 7 Mei 2025.
Menurut Dedi, anak-anak tersebut kini telah menunjukkan perubahan yang signifikan. "Ini adalah cara membangun kedisiplinan mereka, dan saya lihat baru dua malam, biasa tidur jam 4 sekarang tidur jam 9, biasa merokok berhenti merokok, nanti kita pelajari kualifikasinya, karena ada problem-nya," ucapnya.
Adapun latar belakang dari anak-anak tersebut, kata Dedi, beragam. Dedi pun memastikan adanya peran psikolog untuk mendampingi anak-anak itu, termasuk memeriksa kesehatan mental mereka.
"Ada orangtuanya baik-baik saja, anaknya nakal. Memang ada yang orangtuanya berpisah, ada orangtuanya bertengkar terus, tetapi variatif dan semuanya harus ditangani dengan baik. Nanti psikolognya harus monitor setiap hari dan saya minta semua anak-anak diperiksa kesehatannya total, sehingga nanti kita bisa melihat arah ke depannya," tutur Dedi.
Sementara itu, Dedi mengungkap perilaku kenakalan dari anak-anak tersebut beragam. Mulai dari kecanduan game online hingga terlibat dalam geng motor.
"Yang datang ke sini secara umum ada yang problem-nya kecanduan minuman, game online, ada yang kecanduan merokok, ada yang terlibat dalam geng motor, satu kelompok," ujarnya.
Penulis: Arby Salim