Liputan6.com, Vatikan City - Di sebuah sudut tersembunyi di pusat Roma, keluarga Gammarelli telah menjahit pakaian untuk rohaniwan selama lebih dari 200 tahun. Toko khusus ini membuat cassock atau jubah putih untuk delapan paus terakhir, termasuk Paus Fransiskus.
"Kami selalu bekerja dengan standar lebih tinggi untuk mereka, siapapun pausnya - suka atau tidak," kata Massimiliano Gammarelli, kepala penjahit, kepada ABC yang dikutip Rabu (7/5/2025).
Advertisement
Gammarelli, yang telah 40 tahun menjadi penjahit, bersama sepupunya meneruskan bisnis keluarga generasi keenam ini. Sejak buka tahun 1798, mereka menjadi pemasok utama Vatikan setelah mengalahkan banyak pesaing.
Mereka telah menjahit untuk ribuan imam dan ratusan kardinal, tapi membuat jubah paus adalah kehormatan tertinggi.
"Ketika kami harus bekerja untuk Sri Paus, semua orang ingin terlibat dalam menjahit jubahnya — kami tidak mengesampingkan siapa pun," kata Gammarelli. "Kami selalu bekerja dengan cara yang sama untuk semua paus, baik yang lebih flamboyan maupun yang lebih sederhana."
Sementara Gereja Katolik berduka atas meninggalnya paus berusia 88 tahun itu, keluarga Gammarelli bekerja keras memastikan pengganti Fransiskus tampil sempurna dalam penampilan publik pertamanya.
Ada 135 calon potensial untuk posisi paus, jadi menyiapkan jubah yang pas untuk kardinal yang terpilih bukanlah hal mudah.
Menjelang konklaf pemilihan paus baru, Gammarelli menyiapkan tiga ukuran jubah putih lengkap - kecil, sedang, dan besar. Pakaian ini akan "kurang lebih cocok" untuk semua 135 kardinal, dari yang terpendek hingga yang tertinggi.
Namun sistem ini tak selalu sempurna, jubah yang sudah disiapkan tidak selalu pas untuk semua paus. Paus Yohanes XXIII (bertubuh besar) pernah terpaksa memakai jubah kecil yang dibelah belakang. Sebaliknya, Paus Yohanes Paulus II yang berbahu lebar kesulitan dengan jubah besar.
Perlombaan Melawan Waktu, Kerja Cepat 15 Hari
Bagi para penjahit kepausan, ini adalah perlombaan melawan waktu untuk membuat pakaian "satu ukuran untuk kebanyakan orang".
"Begitu Takhta Suci memberi tahu kami bahwa kami harus membuat jubah, kami segera memulainya," kata Gammarelli."Prosesnya rumit karena satu orang membuat lubang kancing, yang lain menghitung ukuran, yang lain memotong, yang lain lagi menjahit... untuk menyelesaikan satu set, kami membutuhkan sekitar 15 hari."
Mungkin terdengar cepat untuk salah satu pakaian paling terkenal di dunia, tetapi 15 hari adalah waktu yang sangat ketat.
Waktu yang ketat mengingat konklaf harus dimulai 15-20 hari setelah paus wafat. Padahal paus baru harus tampil sempurna di balkon dalam satu jam setelah terpilih.
Konklaf kepausan — proses berabad-ahun untuk memilih paus baru — harus dimulai antara 15 hingga 20 hari setelah kematian paus. Proses ini bahkan bisa selesai dalam waktu kurang dari 24 jam.
Paus baru biasanya muncul di balkon yang menghadap Lapangan Santo Petrus dalam waktu satu jam setelah terpilih, jadi tidak ada banyak waktu untuk menyesuaikan keliman atau mengendurkan sabuk agar pas.
Namun, Gammarelli mengatakan, "kurang lebih, mereka bisa memakainya."
Meskipun telah bekerja sama dengan Gereja selama dua abad, tidak ada jaminan bahwa paus berikutnya akan memilih Gammarelli untuk memenuhi seluruh kebutuhan pakaiannya.
Perbedaan Gaya Antara Paus Fransiskus dan Benediktus XVI
Pilihan gaya Paus Fransiskus lebih sederhana dibandingkan pendahulunya, Paus Benediktus XVI — yang menghidupkan kembali sepatu merah ikonis paus. Namun, Gammarelli mengatakan hanya ada sedikit perbedaan pada jubah yang mereka kenakan.
Fransiskus melakukan sedikit penyesuaian pada manset jubahnya, tetapi bahan, warna, dan potongannya tetap sama. Namun, dia memilih aksesori sederhana seperti sepatu hitam polos dan menyimpang dari tradisi dengan memilih Fisherman's Ring (Cincin Nelayan) berlapis emas daur ulang. Sementara itu, Benediktus memilih cincin dari emas padat.