Kritik Kebijakan Tarif Trump, Warren Buffett Sebut Perdagangan Bukan Jadi Senjata

Miliarder Warren Buffett menilai, penerapan tarif pada negara lain adalah kesalahan besar.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 05 Mei 2025, 16:52 WIB
Miliarder atau Orang Terkaya Dunia Warren Buffet. Foto: AFP

Liputan6.com, Jakarta - Miliarder sekaligus CEO Berkshire Hathaway Warren Buffett pada Sabtu, 3 Mei 2025 mengkritik kebijakan perdagangan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, tanpa menyebut nama secara langsung.

Warren Buffett menuturkan, penerapan tarif pada negara lain adalah kesalahan besar. "Perdagangan seharusnya tidak menjadi senjata," ujar Buffett dalam rapat pemegang saham Berkshire Hathaway, di Omaha, Nebraska, seperti dikutip dari CNBC, Senin (5/5/2025).

"Saya pikir semakin makmur negara lain di dunia, itu tidak akan merugikan kita, semakin makmur kita, dan semakin aman kita, dan anak-anak Anda akan merasa suatu hari nanti,” ia menambahkan.

Investor legendaris itu menuturkan, tarif dan perdagangan “dapat menjadi tindakan perang”. “Dan saya pikir itu mengarah pada hal-hal buruk. Hanya sikap yang ditimbulkannya. Di Amerika Serikat, maksud saya, kita harus berusaha untuk berdagang dengan negara lain di dunia dan kita harus melakukan apa yang terbaik bagi kita dan mereka harus melakukan apa yang terbaik bagi mereka,” ia menambahkan.

Pernyataan Buffett yang paling langsung sejauh ini mengenai tarif muncul setelah Gedung Putih memberlakukan tarif impor tertinggi dalam beberapa generasi yang mengejutkan dunia bulan lalu memicu volatilitas ekstrem di wall street.

Kemudian Presiden AS Donald Trump mengumumkan jeda tiba-tiba selama 90 hari terhadap sebagian besar negara kecuali China. Hal ini seiring Gedung Putih berupaya membuat kesepakatan dengan negara-negara lain. Jeda tersebut telah menstabilkan pasar.

Akan tetapi, Donald Trump telah mengenakan tarif 145% pada barang-barang impor China tahun ini yang mendorong China untuk mengenakan tarif balasan sebesar 125%. China mengatakan pekan lalu sedang mengevaluasi kemungkinan memulai negosiasi perdagangan dengan AS.

 

 

Dampak Kebijakan Proteksionisme

Miliarder atau Orang Terkaya Dunia Warren Buffet. Foto: Yuri Gripas/AFP

Buffett menuturkan, kebijakan proteksionis dapat memiliki konsekuensi negatif dalam jangka panjang bagi AS setelah menjadi negara industri terkemuka di dunia.

“Menurut saya, ini adalah kesalahan besar, ketika ada 7,5 miliar orang yang tidak menyukai Anda, dan ada 300 juta orang yang bersorak-sorai tentang seberapa baik kinerja mereka, menurut say aitu tidak benar, dan menurut saya itu tidak bijaksana,” kata dia.

"Amerika Serikat menang. Maksud saya, kita telah menjadi negara yang sangat penting, dimulai  dari tidak apa-apa 250 tahun yang lalu. Tidak ada yang seperti itu,” ujar dia.

Investor telah menunggu untuk mendengar dari "Oracle of Omaha" berusia 94 tahun itu untuk mendapatkan arahannya dalam menavigasi lingkungan makro yang tidak pasti serta penilaiannya tentang keadaan ekonomi.

 

Geopolitik Timbulkan Ketidakpastian

Berbagai macam bisnis asuransi, transportasi, energi, ritel, dan bisnis lainnya yang bernilai triliunan dolar milik Berkshire, dari Geico hingga Burlington Northern hingga Dairy Queen, membuat Buffett memiliki kualifikasi unik untuk mengomentari kesehatan ekonomi Amerika saat ini. PDB kuartal pertama baru saja dilaporkan mengalami kontraksi untuk pertama kalinya sejak 2022.

Berkshire mengatakan dalam laporan pendapatan kuartal pertamanya tarif dan peristiwa geopolitik lainnya menciptakan "ketidakpastian yang cukup besar" bagi konglomerat tersebut. Perusahaan tersebut mengatakan tidak dapat memprediksi potensi dampak dari tarif saat ini.

Buffett telah berada dalam mode defensif, menjual saham selama 10 kuartal berturut-turut. Berkshire menjual saham senilai lebih dari USD 134 miliar pada 2024, terutama karena memangkas dalam dua kepemilikan ekuitas terbesar Berkshire yakni Apple dan Bank of America. Sebagai hasil dari penjualan besar-besaran tersebut, tumpukan uang tunai Berkshire yang sangat besar tumbuh ke rekor lainnya, yaitu USD 347 miliar pada akhir Maret.

Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya