Mengenal Ngiling Bumbu, Tradisi Khas Warga Merangin Jambi

Tradisi ini biasanya digelar dalam berbagai momen penting, seperti persiapan turun ke ladang, panen raya, kenduri pernikahan, hingga pembangunan rumah baru. Tradisi ini sekaligus menjadi bagian dari tradisi beselang atau tradisi gotong royong masyarakat Jambi.

oleh Switzy SabandarDiterbitkan 08 Mei 2025, 00:00 WIB
Atraksi Silek Penyudon di Rumah Tuo Merangin. (Foto: Dok Disbudparpora Kabupaten Merangin/B Santoso)

Liputan6.com, Jambi - Ngiling bumbu merupakan salah satu tradisi yang berkembang di Desa Rantau Panjang, Kabupaten Merangin, Jambi. Tradisi ini digelar di sebuah bangunan yang disebut rumah tuo.

Mengutip dari laman Indonesia Kaya, ngiling bumbu merupakan tradisi bernapaskan kebersamaan, solidaritas, dan gotong royong. Tradisi ini sekaligus menjadi pertemuan jodoh antara pemuda dan pemudi.

Adapun lokasi rumah tuo konon telah menjadi saksi bisu perjalanan sejarah selama lebih dari 700 tahun. Rumah tuo telah menjadi pusat kehidupan budaya, termasuk menjadi tempat tradisi ngiling bumbu.

Tradisi ini biasanya digelar dalam berbagai momen penting, seperti persiapan turun ke ladang, panen raya, kenduri pernikahan, hingga pembangunan rumah baru. Tradisi ini sekaligus menjadi bagian dari tradisi beselang atau tradisi gotong royong masyarakat Jambi.

Dalam pelaksanaannya, tradisi ngiling bumbu selalu dipenuhi canda tawa yang mempererat ikatan masyarakat. Bersamaan dengan itu, tradisi ini juga bertujuan menjaga nilai-nilai warisan leluhur.

Tradisi ngiling bumbu diikuti oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Biasanya, para gadis akan sibuk menumbuk rempah-rempah, seperti kunyit, jahe, lengkuas, dan serai.

Sementara yang lainnya sibuk memarut kelapa untuk diolah menjadi santan. Para pemuda akan menangkap belut yang nantinya diolah oleh para gadis.

Belut dianggap sebagai lambang kekuatan dan kegigihan. Memancing belut pun menjadi perlombaan tradisional yang sekaligus menguji kemahiran, kegagahan, dan mempererat ikatan sosial para pemuda. Kegiatan memancing belut juga mengajarkan nilai kerja sama tim dan keterampilan.

Bahan-bahan tersebut dikumpulkan dari ladang-ladang subur di sepanjang Sungai Lamuih. Air sungai tersebut mengalir hingga ke Sungai Tabir dan bermuara ke Sungai Batanghari.

 

Tradisi dan Pertemuan Jodoh

Pada masa lalu, ngiling bumbu bukan sekadar menyiapkan bahan makanan. Tradisi ini juga dikenal dengan istilah ba usik sirih bergurau pinang, yang menggambarkan pertemuan jodoh antara pemuda dan pemudi.

Biasanya, tradisi diisi dengan pantun-pantun jenaka. Para pemuda akan memulai perkenalan mereka dengan pantun:

"Batang salih di tepi rimboRebah sebatang ke dalam payoKalun bulih abong betanyoKak baju abang siapo namo?”

Selanjutnya, diisi sesi berbalas pantun yang diselingi perkenalan nama. Para gadis akan menyambut pantun tersebut dengan gaya khas mereka:

“Eee, Bong ehDari mano hendak ke manoDari Jepun ke Bando CinoDado salah abong betanyoAdik nak malang Miah namonyo.”

Usai berbalas pantun, belut hasil tangkapan para pemuda akan diserahkan kepada para gadis untuk dimasak. Selanjutnya, para gadis akan menggiling bumbu dan dilanjutkan dengan ngukuih, yaitu memasak gulai belut yang dicampur daun pakis.

Proses memasaknya dilakukan dengan menggunakan tungku kayu. Sajian ini akan disantap bersama nasi yang dibuat dari padi hasil ladang yang baru dipanen. Adapun proses penyajiannya dilakukan di beberapa rumah di sepanjang kompleks rumah tuo.

Penulis: Resla

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya