Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkap belum ada keputusan jumlah tambahan impor minyak mentah hingga LPG dari Amerika Serikat (AS). Pasalnya negosiasi tarif antara Indonesia dengan AS sampai saat ini masih terus berjalan.
Rencana penambahan impor itu jadi poin bahasan negosiasi atas tarif impor yang diberlakukan pemerintah Amerika Serikat. Bahlil bilang rencana impor masih dibahas dengan tim Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Advertisement
"Sampai dengan sekarang kan tim negosiasi dengan pemerintah Amerika kan lagi berjalan. Dan kemarin tim saya dengan tim dari Kemenko lagi membahas," ungkap Bahlil Lahadalia di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (2/5/2025).
Dia menjelaskan, dalam proses negosiasi Indonesia-AS, belum ada keputusan mengenai tambahan impor komoditas minyak mentah, BBM, maupun LPG. "Karena belum ada satu keputusan yang pasti tentang poin-poin mana saja yang akan disepakati, maka kami sampai dengan sekarang belum melakukan eskalasi terhadap impor tambahan," tuturnya.
Dia menerangkan, sejauh ini porsi impor LPG dari AS cukup besar, mencapai 59 persen. Kemudian, 6-7 persen impor minyak mentah Indonesia juga didatangkan dari Negeri Paman Sam.
Angka ini bisa bertambah ketika sudah ada keputusan yang diambil menyusul perkembangan negosiasi perdagangan Indonesia-AS.
"Yang ada sekarang adalah masih dalam 59 persen LPG kita impor dari Amerika. Kemudian crude-nya kita juga impor, kurang lebih sekitar 6-7 persen," ucap dia.
"Nah itu yang kita akan tingkatkan nanti setelah ada keputusan bersama," sambung Bahlil.
Hitung Tambahan Impor LPG
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mulai menghitung impor Liquified Petroleum Gas (LPG) dan minyak bumi dari Amerika Serikat. Menyusul kebijakan tarif resiprokal yang diambil Presiden AS Donald Trump.
Dia mengatakan telah memerintahkan tim di Kementerian ESDM untuk mulai menghitungnya. Tujuannya, sebagai bagian menyeimbangkan neraca dagang antara Indonesia dan AS.
"Saya lagi meng-exercise dengan tim saya agar kita bisa melakukan pembelian di sana supaya bisa membuat meraca pedangan kita balance," kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (11/4/2025).
Dia mengatakan, alasan penerapan kebijakan tarif resiprokal Donald Trump adalah neraca dagang yang defisit di sisi AS. Maka, sejumlah negara mitra dagang AS dikenakan tarif tinggi.
Seimbangkan Neraca Dagang
Bahlil bilang, upaya Indonesia agar terhindar dari penerapan tarif bea masuk 32 persen adalah dengan menyeimbangkan neraca dagang kedua negara.
"Kita tahu bahwa data BPS neraca pedangan kita kan surplus 14,6 miliar dolar. Nah kemudian keinginan dari pemerintah Amerika itu kan pertama adalah bagaimana membuat balance. Nah kalau seperti itu maka kita harus melakukan langkah-langkah komprensif dalam langkah membuat balance ini agar tidak kita kena pajak ekspor kita 32 persen," tuturnya.
Di sektor ESDM, impor migas bisa jadi salah satu pilihannya untuk membuat neraca dagang Indonesia dan negeri 'Paman Sam' itu sedikit lebih seimbang.
"Maka salah satu strateginya adalah kita akan memperkuat untuk pembelian beberapa komoditas di Amerika. Pertanyaan kalau seandainya sektor ESDM, maka kita akan memperbanyak di sektor LPG sama minyak," terangnya.