Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, diberi koin simbolis dari era Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda. Pemberian tersebut sebagai bukti persahabatan antara Belanda dan Indonesia.
"Dengan cara ini, persahabatan kami (Indonesia dan Belanda) tetap terjaga," kata Duta Besar Belanda untuk Indonesia Marc Gerritsen dalam acara perayaan King's Day di Erasmus Huis, Selasa (29/4/2025).
Advertisement
Dubes Gerritsen merujuk pemberian tersebut sebagai balasan sebuah hadiah bermakna — sebuah Keris — yang diberikan sebelumnya oleh Fadli Zon.
Pada kesempatan tersebut, Fadli Zon juga menegaskan pentingnya diplomasi budaya sebagai fondasi baru hubungan bilateral Indonesia-Belanda.
"Diplomasi budaya adalah jembatan penting yang mempertemukan nilai, warisan, dan harapan bersama. Melalui kerja sama ini, kita membangun masa depan yang saling menghormati dan menginspirasi," ujar Fadli di hadapan Dubes Gerritsen seraya mengucapkan selamat kepada Raja Belanda Willem-Alexander dan menyampaikan apresiasi atas hubungan budaya yang terus berkembang antara Indonesia dan Belanda.
Fadli Zon juga menyebut bahwa hubungan tersebut tidak hanya dibangun dari sejarah masa lalu, tetapi juga dari semangat rekonsiliasi dan kerja sama masa kini dan masa depan. Ia juga menggarisbawahi langkah besar dalam proses repatriasi benda budaya Indonesia dari Belanda.
"Hingga saat ini, tercatat 828 objek telah berhasil dikembalikan melalui kerja sama yang erat antara kedua negara, termasuk 68 objek dari koleksi Museum Rotterdam yang diserahterimakan pada tahun lalu di Museum Nasional Indonesia," papar Fadli Zon.
"Kami berterima kasih atas komitmen Belanda dalam proses repatriasi ini, yang menjadi tonggak penting dalam pemulihan dan penghormatan terhadap warisan budaya bangsa," tutur Fadli.
Guna mendukung upaya tersebut, Kementerian Kebudayaan RI (Kemendikbud RI) menyatakan membentuk Tim Repatriasi Nasional yang bekerja aktif melakukan penelitian provenance guna memastikan proses yang transparan dan kolaboratif.
Tak hanya perihal repatriasi benda-benda bersejarah, Fadli Zon juga menyoroti pentingnya digitalisasi warisan budaya. Ia menyebut bahwa budaya bukanlah sesuatu yang statis, melainkan terus berkembang seiring dengan zaman. Kerja sama dalam dokumentasi digital, produksi audiovisual, dan pertukaran seniman menjadi prioritas.
"Kita telah menandatangani MoU koproduksi audiovisual dan berkomitmen memperkuat ekosistem budaya digital yang dapat diakses lintas generasi dan negara," ucapnya.
Puji Peran Penting Erasmus Huis
Dalam pidatonya di perayaan King's Day, Menteri Fadli Zon juga turut memuji peran aktif Erasmus Huis di Jakarta sebagai satu-satunya pusat budaya Belanda di dunia dan perannya dalam mempererat hubungan kultural antara masyarakat Indonesia dan Belanda.
"Keberhasilan pameran budaya Indonesia di Amsterdam pada September tahun lalu sebagai langkah strategis promosi Indonesia di kancah global," ucap Fadli Zon.
Di akhir pidatonya, Fadli Zon menegaskan posisi Indonesia sebagai negara dengan kekayaan budaya luar biasa. Dengan 1.340 kelompok etnis, 718 bahasa daerah, dan 16 warisan budaya takbenda yang telah diakui UNESCO, Indonesia siap mengambil peran lebih besar dalam diplomasi budaya internasional.
Indonesia bahkan tengah mempersiapkan diri untuk menjadi anggota Komite Antarpemerintah UNESCO untuk pelestarian warisan budaya takbenda periode 2026–2030.
"Mari kita jadikan budaya sebagai kekuatan untuk membangun perdamaian, pemahaman, dan pembangunan berkelanjutan," ucap Fadli Zon menutup pidatonya.
Adapun Menteri Fadli Zon hadir di perayaan King's Day didampingi oleh Wakil Menteri Kebudayaan RI Giring Ganesha dan Menteri BUMN sekaligus Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Erick Thohir.