Liputan6.com, Betawi - Bagi masyarakat Betawi, batik telah menjadi pakaian adat yang kerap dikenakan untuk acara-acara penting. Bahkan, orang Betawi tempo dulu juga kerap mengenakan batik untuk busana sehari-hari.
Batik biasanya dipadukan dengan kebaya. Masyarakat Betawi kerap mengenakan batik khasnya yang identik dengan warna-warna cerah.
Advertisement
Mengutip dari laman Seni & Budaya Betawi, batik Betawi yang saat ini dikenal sebenarnya lahir dari ragam akulturasi budaya. Sejak paruh pertama di era 1960-an, Jakarta dikenal sebagai salah satu sentra industri di Indonesia.
Namun pada 1970-an, industri di Jakarta mulai menyusut. Pada masa jaya tersebut, industri batik menjadi salah satu yang paling unggul.
Batik Betawi memiliki ragam motif yang menonjolkan ikon-ikon Jakarta, seperti Tugu Monas, kembang kalapa, Si Pitung, tumbuh-tumbuhan tempo dulu, hingga kuliner Betawi. Ada juga motif yang memperlihatkan kedekatan masyarakat Betawi dengan alam dan kesenian.
Pengaruh Budaya China pada Batik Betawi
Lahirnya batik Betawi dipengaruhi oleh budaya lain, salah satunya budaya China. Pengaruh budaya dari luar ini terlihat dari penggunaan warnanya yang didominasi dengan warna cerah, seperti merah, hijau, kuning, dan biru.
Warna-warna Ini merupakan ciri khas dari China. Warna ini sekaligus menjadi pembeda yang sangat jelas antara batik Betawi dengan batik-batik Nusantara lainnya.
Pengaruh Budaya Islam pada Batik Betawi
Selain pengaruh budaya China, batik Betawi juga mengalami akulturasi dengan budaya Islam. Secara umum, budaya Betawi telah terimplementasi budaya Islam.
Pengaruh perkembangan Islam tersebut salah satunya dibawa oleh pasukan Islam dari Demak dan Cirebon. Mereka membawa pengaruh terhadap penggunaan motif pada batik Betawi, seperti penggunaan ragam hias Timur Tengah berupa medalion, wajit, hingga arabest (kembang-kembangan). Selain itu, terdapat larangan menggambar mahluk hidup.
Berbagai akulturasi budaya dalam batik Betawi ini akhirnya melahirkan keunikan yang menjadi ciri khas tersendiri. Hingga kini, batik khas Betawi masih kerap digunakan dalam berbagai acara penting.
Penulis: Resla