5 Ancaman Serius Akibat Sampah Antariksa

Dari jumlah tersebut, sekitar 3.000 adalah satelit mati yang dibiarkan membusuk di orbit. Jumlah dari sampah luar angkasa bisa melebihi jumlah tersebut karena tidak semuanya dapat terlacak oleh peneliti.

oleh Switzy SabandarDiterbitkan 01 Mei 2025, 05:00 WIB
Ilustrasi sampah antariksa di orbit Bumi (NASA)

Liputan6.com, Jakarta - Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi ruang angkasa, muncul pula permasalahan baru, yakni sampah luar angkasa. Sampah antariksa ini terdiri dari berbagai benda buatan manusia yang tertinggal di orbit bumi, seperti satelit yang tidak berfungsi, sisa roket, dan bahkan pecahan kecil dari peralatan astronaut.

Melansir laman Live Science Rabu, (30/04/2025), jurnal Protect Earth's Orbit: Avoid High Seas Mistakes menyebutkan bahwa sampah luar angkasa semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan industri antariksa di bumi. Jaringan Pengawasan Luar Angkasa Amerika Serikat melacak lebih dari 23.000 keping sampah terdapat di luar angkasa.

Dari jumlah tersebut, sekitar 3.000 adalah satelit mati yang dibiarkan membusuk di orbit. Jumlah dari sampah luar angkasa bisa melebihi jumlah tersebut karena tidak semuanya dapat terlacak oleh peneliti.

Bahkan, mereka memperkirakan bahwa ada lebih dari 100 triliun keping sampah luar angkasa yang masih belum terlacak. Sampah-sampah luar angkasa tersebut dapat menimbulkan masalah serius.

Berikut ini beberapa

1. Tabrakan dengan Satelit Aktif

Salah satu dampak paling nyata dari sampah antariksa adalah risiko tabrakan dengan satelit yang masih beroperasi. Dengan kecepatan yang bisa mencapai 28.000 km/jam, serpihan kecil sampah antariksa pun dapat menyebabkan kerusakan serius.

Pada 2009, satelit komunikasi Iridium 33 milik AS bertabrakan dengan satelit nonaktif Kosmos-2251 milik Rusia. Tabrakan ini menciptakan ribuan kepingan puing baru.

Tabrakan semacam ini bisa menyebabkan gangguan pada layanan komunikasi, navigasi, dan bahkan pemantauan cuaca yang bergantung pada satelit. Selain itu, setiap tabrakan juga akan memperbanyak jumlah sampah di orbit sehingga meningkatkan kemungkinan insiden serupa di masa depan.

2. Kessler Syndrome

Fenomena Kessler Syndrome menggambarkan situasi di mana tabrakan antar benda di luar angkasa menciptakan lebih banyak puing, yang kemudian memicu tabrakan berantai yang tidak terkendali. Ilmuwan NASA, Donald J. Kessler, pertama kali mengemukakan teori ini pada 1978.

Ia memperingatkan bahwa jika jumlah sampah antariksa terus meningkat, orbit bumi bisa menjadi terlalu berbahaya untuk kegiatan eksplorasi. Efek domino ini dapat menyebabkan orbit tertentu menjadi tidak dapat digunakan lagi karena terlalu banyak puing yang bertebaran.

Jika ini terjadi, akses ke luar angkasa akan semakin sulit dan mahal serta menghambat perkembangan teknologi antariksa. Beberapa ahli bahkan khawatir bahwa Kessler Syndrome bisa mengakibatkan hilangnya infrastruktur komunikasi global yang bergantung pada satelit luar angkasa.

 

Mengancam Astronaut

3. Ancaman Bagi Stasiun Luar Angkasa dan Astronaut

Sampah antariksa juga menjadi ancaman serius bagi Stasiun Internasional Luar Angkasa (ISS) dan astronaut yang bertugas di luar angkasa. Partikel kecil sekalipun bisa menembus dinding ISS atau pakaian luar angkasa astronaut sehingga berpotensi menyebabkan kebocoran udara yang berbahaya.

Pada 2021, NASA harus menunda aktivitas luar angkasa astronaut karena adanya ancaman dari serpihan satelit yang meledak. ISS sendiri sering melakukan manuver untuk menghindari tabrakan dengan puing-puing luar angkasa yang terdeteksi.

Jika tidak ada langkah pencegahan, risiko bagi awak ISS akan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah sampah antariksa. Beberapa negara dan perusahaan kini sudah mulai mengembangkan teknologi untuk membersihkan orbit bumi guna mengurangi ancaman ini.

Namun, tantangan teknis dan biaya tinggi masih menjadi hambatan dalam menerapkan solusi yang efektif.

4. Ancaman Bagi Bumi

Beberapa sampah antariksa dapat jatuh ke bumi. Kebanyakan puing kecil akan terbakar saat memasuki atmosfer, tetapi benda yang lebih besar berisiko mencapai permukaan.

Pada 1979, sisa-sisa stasiun luar angkasa Skylab milik NASA jatuh di Australia Barat. Meskipun tidak menimbulkan korban jiwa, tapi insiden seperti ini tetap berpotensi membahayakan.

Insiden serupa terjadi pada 2020 ketika bagian roket Long March 5B milik China jatuh di dekat sebuah desa di Pantai Gading. Jika tidak dikendalikan dengan baik, serpihan dari luar angkasa bisa jatuh di daerah berpenduduk dan menyebabkan kerusakan.

 

Misi Masa Depan Sulit

5. Menyulitkan Misi Masa Depan

Sampah antariksa juga dapat menyulitkan misi eksplorasi masa depan, terutama untuk pengiriman satelit baru maupun perjalanan ke luar angkasa. Setiap peluncuran roket kini harus mempertimbangkan jalur orbit yang aman agar tidak bertabrakan dengan puing-puing luar angkasa.

Pada 2021, misi Crew-2 SpaceX yang membawa astronaut ke ISS harus melakukan manuver darurat untuk menghindari serpihan luar angkasa yang melintas. Jika jumlah sampah terus bertambah, kemungkinan peluncuran tertunda atau bahkan dibatalkan dan adanya aksi darurat seperti ini akan semakin besar.

Selain itu, eksplorasi luar angkasa ke bulan dan Mars juga bisa terhambat. Hal ini disebabkan karena jalur keluar dari orbit bumi dipenuhi sampah yang berbahaya.

(Tifani)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya