Liputan6.com, Yogyakarta - Serat Munasihat Jati merupakan salah satu naskah Jawa klasik yang berisi ajaran tasawuf dan konsep pengobatan tradisional. Kitab ini termasuk dalam kategori sastra wulang (karya sastra yang berisi petuah kehidupan) dan menggabungkan keseimbangan lahir-batin dengan pengetahuan kesehatan berbasis budaya Jawa.
Mengutip dari berbagais sumber, naskah ini memuat berbagai ajaran tentang penyakit, penyebab, dan cara pengobatannya. Salah satu prinsip utamanya adalah keyakinan bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya, sesuai dengan sumber dan sifat penyakit tersebut.
Advertisement
Misalnya, penyakit yang dianggap berasal dari unsur api harus diobati dengan sesuatu yang panas. Seperti halnya mengompres demam dengan air hangat.
Serat Munasihat Jati juga mengaitkan hari kelahiran seseorang dengan jenis penyakit yang mungkin diderita. Contohnya, orang yang lahir pada Selasa Pon dipercaya rentan terhadap sakit kepala.
Konsep ini tidak hanya menjelaskan gejala penyakit tetapi juga asal-usul dan akibatnya. Sehingga pengobatan dapat dilakukan secara menyeluruh.
Pengobatan tradisional Jawa memiliki sejarah panjang yang diwariskan dari generasi ke generasi. Bentuk pengobatan ini terbagi menjadi dua jenis utama.
Pertama adalah bentuk memori atau lisan, yang diturunkan dari orang tua kepada anak secara langsung. Contohnya adalah penggunaan daun dadap serep untuk menurunkan demam.
Kata serep dalam bahasa Jawa berarti reda, sehingga tanaman ini dipercaya dapat mendinginkan tubuh yang panas. Bentuk kedua adalah pengobatan yang tertulis dalam berbagai kitab atau naskah kuno seperti primbon, Serat Centhini, dan Serat Munasihat Jati.
Ramuan Herbal
Naskah-naskah ini berisi berbagai pengetahuan tentang ramuan herbal, cara mendiagnosa penyakit berdasarkan hari kelahiran seseorang, dan petunjuk tentang pengobatan yang bersifat spiritual. Sebagai kitab tasawuf, Serat Munasihat Jati tidak hanya membahas fisik tetapi juga keseimbangan spiritual.
Misalnya, terdapat peringatan bahwa mengonsumsi makanan berduri dapat membuat seseorang mudah terluka, baik secara fisik maupun nasib. Naskah-naskah Jawa kuno, termasuk Serat Munasihat Jati, menjadi sumber pengetahuan autentik tentang pengobatan tradisional.
Berbagai kitab pengobatan Jawa kuno seperti Boekoe Primbon Djampi Djawi dan Serat Primbon Djawi telah mengklasifikasikan penyakit ke dalam beberapa kelompok. Pengelompokan ini mencakup penyakit umum seperti demam, cacingan, dan kejang yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Pengobatan tradisional Jawa banyak mengandalkan jamu. Ramuan herbal ini telah digunakan sejak abad ke-7.
Relief di Candi Borobudur dan Prambanan menunjukkan bahwa tradisi ini sudah ada sejak zaman kerajaan. Kelebihan jamu antara lain efek samping rendah dan kandungan multi-farmakologi. Contohnya, alang-alang bisa digunakan untuk membersihkan darah, mengobati penyakit kelamin, hingga luka kurap.
Penulis: Ade Yofi Faidzun