Liputan6.com, Yogyakarta - Pasar malam adalah festival rakyat. Dahulu sebelum orang-orang berkerumun di ruang daring, pasar malam adalah media bertemunya segenap lapisan masyarakat untuk bersuka ria dan bertegur sapa.
Pasar malam selalu dirindukan. "Ada pasar malam," demikian kabar yang beredar dari mulut ke mulut. Bagi para pemuda, ini isyarat datangnya momentum mengintai gadis pujaan hati, seraya merancang pertemuan yang seolah-olah tak sengaja.
Advertisement
Kini pasar malam bukan satu-satunya media berkumpul. Banyak jalur lain di ruang luring bahkan daring menjadi fasilitas orang bersua. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan hiburan digital, pasar malam kian terpinggirkan.
Namun, pasar malam masih eksis, menyelinap di pinggiran urban dan di desa-desa. Pesona pasar malam masih tersisa, menghadirkan keceriaan, juga kenangan.
Seperti terlihat di Pasar Malam Banjarejo, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, pada penghujung April lalu. Aroma sate cumi yang menggoda bercampur dengan tawa anak-anak memenuhi udara menghangatkan suasana.
Pasar malam keliling ini menghadirkan berbagai wahana permainan, seperti odong-odong, komedi putar, trampolin, hingga kincir bianglala yang memancing gelak tawa para pengunjung. Usai lelah bermain, berbagai pilihan jajanan khas pasar malam menanti untuk disantap, mulai dari bolang-baling, es krim putar, hingga wedang ronde yang menghangatkan malam.
Salah satu primadona di area kuliner ini adalah stand sate cumi. Dengan racikan bumbu khas dan teknik pembakaran yang sempurna, sate cumi di sini menjadi favorit para pengunjung. Harga satu tusuknya berkisar antara Rp10.000 hingga Rp20.000, tergantung ukuran dan jumlah potongan cumi.
"Kalau hari biasa, omzet sekitar Rp300 ribu. Tapi kalau malam libur, bisa lebih dari Rp700 ribu," ujar Indah, salah satu pedagang sate cumi sembari melayani pelanggan yang terus berdatangan. Stand-nya buka mulai pukul 17.00 hingga sekitar 21.00 WIB.
Tak hanya sate cumi, stand Indah juga menyajikan aneka camilan lain seperti kebab, burger, tahu gejrot, sosis, tempura, dimsum, serta hidangan kerang. Aneka minuman, dari pop ice hingga kopi hitam, juga melengkapi menu.
Tak jauh dari situ, ada pula stand permainan milik Lilis yang menawarkan pasir ajaib dan permainan memancing ikan lele. Stand ini juga tak kalah ramai, terutama saat malam liburan, ketika omzetnya bisa mencapai Rp500 ribu.
Wawan, salah satu kru pengelola pasar malam, menjelaskan bahwa semua stand yang berjualan di sini menyewa tempat dari kelompok pasar malam yang dipimpin oleh Sigit.
"Satu event biasanya berlangsung dua minggu, lalu kami pindah ke lokasi lain di wilayah Gunungkidul dan sebagian Bantul," kata Wawan.
Dalam setahun, kelompok ini bisa mengadakan sekitar 12 event, meskipun tidak selalu berbuah keuntungan. "Kalau harus nombok buat makan 30 karyawan, sewa lahan, itu sudah biasa," ujarnya.
Kegiatan ini juga melibatkan pemuda Karang Taruna setempat yang bertugas mengelola area parkir.
Di tengah keramaian, tampak Basuki dan Kartinem, warga setempat dari Pedukuhan Padangan, Banjarejo, duduk santai bersama ibunda mereka yang sudah lanjut usia. Mereka membawa kursi sendiri, menikmati suasana penuh keceriaan.
"Waktu kecil, ibu kami yang membawa kami ke pasar malam. Sekarang, giliran kami yang mengajak beliau menikmati suasana ini," kata Basuki, sambil tersenyum.
Pasar malam di Banjarejo bukan sekadar tempat hiburan, tetapi juga ruang untuk mengenang masa kecil, membangun kebersamaan, dan menjaga tradisi hiburan rakyat tetap hidup di tengah derasnya arus modernisasi.