Liputan6.com, Jakarta - Rujak juhi merupakan varian rujak khas Betawi. Meski tergolong sebagai rujak, tetapi rujak juhi memiliki beberapa perbedaan dibandingkan rujak pada umumnya.
Mengutip dari laman Seni & Budaya Betawi, perbedaan rujak juhi dengan rujak lainnya terletak pada penggunaan bumbu atau saus dan isiannya. Rujak juhi tidak menggunakan buah-buahan, melainkan juhi atau cumi kering. Rujak ini juga menggunakan bahan-bahan segar dan alami lainnya, seperti kol, kentang, selada, dan timun.
Advertisement
Untuk sausnya, rujak juhi menggunakan saus kacang. Sebagai pelengkap, biasanya makanan ini disantap dengan tambahan kerupuk mi.
Sebagai informasi, juhi merupakan cumi-cumi yang telah melalui proses fermentasi dan dikeringkan. Penamaan ini diberikan oleh orang-orang Tionghoa yang menyukai jenis olahan ini.
Konon, asal-usul rujak juhi memang memiliki keterkaitan yang cukup erat dengan dua kebudayaan besar, yaitu Jawa dan Tionghoa. Dalam Profil Orang Betawi: Asal Muasal, Kebudayaan, dan Adat Istiadat, budayawan Betawi Ridwan Saidi mengatakan bahwa rujak dipengaruhi oleh kuliner Tionghoa.
Simak Video Pilihan Ini:
Troktok
Cina memperkenalkan mi, bihun, dan sohun. Orang-orang Tionghoa juga memperkenalkan jenis-jenis sayuran, seperti tauge, kucai, lokio, dan sawi. Atas dasar ini, ia mengatakan bahwa ada kemungkinan orang Tionghoa pulalah yang mengonsumsi dan memperkenalkan daging cumi-cumi (seafood).
Menurut penulis buku Pasar Gambir, Komik Cina dan Es Shanghai, Zeffry Alkatiri mengatakan bahwa rujak juhi sebenarnya berasal dari makanan bernama troktok atau trotok. Julukan ini diberikan karena penjualnya selalu mengetuk potongan bambu saat menjajakan dagangannya. Saat mengetuk potongan bambu tersebut, terdengar bunyi trotok.
Trotok terbuat dari campuran kacang panjang, kentang, juhi, mi, dan kol. Makanan ini memiliki kuah yang dibuat dari cuka dan kacang. Trotok kemudian berkembang menjadi rujak juhi yang dijajakan dengan gerobak.
Sementara itu menurut penulis Pedoman Tamasja Djakarta dan Sekitarnja, R.O. Simatupang, rujak juhi adalah hidangan Tionghoa yang sudah ada sejak 1960-an yang dinikmati bersama-sama saat nongkrong. Rujak juhi bahkan disebut sebagai salah satu hidangan yang menarik banyak tamu selain wedang sekoteng khas Tionghoa, rujak Shanghai, pie-oh (sup kura-kura), nasi tim, bebek tim (sekba), serta bakso sapi.
Hal ini sesuai dengan keterangan beberapa penjual rujak juhi di Jakarta yang mengaku telah berjualan sejak 1960-an. Salah satu warung rujak juhi legendaris yang hingga kini masih eksis adalah Rujak Juhi Haji Misbach di Petojo, Jakarta Pusat.
Penulis: Resla