Liputan6.com, Jakarta - Kisah dongeng sepak bola yang mengharu biru telah mencapai final. Jamie Vardy, sang pahlawan legendaris Leicester City, secara resmi mengumumkan kepergiannya dari klub setelah musim 2024/2025 berakhir, mengakhiri petualangan luar biasa selama 13 tahun penuh prestasi.
Pengumuman ini datang di tengah momen paling kelam The Foxes. Kekalahan pahit 0-1 dari Liverpool akhir pekan lalu telah memastikan Leicester terdegradasi ke Championship musim depan, dengan posisi 19 di klasemen Premier League yang sulit diperbaiki.
Advertisement
Penyerang berkarakter ini memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya yang berakhir musim ini, setelah musim lalu masih menerima perpanjangan selama satu tahun.
Chairman Leicester, Aiyawatt Srivaddhanaprabha, memberikan penghormatan mendalam kepada ikon klubnya, "Jamie itu unik. Dia pemain spesial dan bahkan pribadi yang spesial. Dia selalu ada di hati semua orang yang ada di Leicester City, dan saya sangat respek serta kagum dengannya. Saya begitu bersyukur atas apa yang diberikan untuk klub ini."
"Meski karier Jamie bersama kami sudah berakhir, atas segala yang telah diraihnya di sini, dia dan keluarga akan selalu disambut oleh King Power Stadium. Saya mendoakan yang terbaik untuk Vardy dan keluarga. Saya tahu suporter kami akan memberikan perpisahan yang pantas dia dapatkan akhir musim ini."
Jejak Keemasan Jamie Vardy
Kisah Jamie Vardy di Leicester City dimulai pada Mei 2012, ketika sang penyerang didatangkan dari klub non-liga Fleetwood Town. Langkah yang saat itu dianggap berisiko ternyata berbuah manis, saat ia berhasil menjadi pilar utama yang mengangkat The Foxes kembali ke panggung elite Premier League pada musim 2013/2014.
Musim perdananya di kasta tertinggi sepakbola Inggris membuktikan ketajaman Vardy dengan torehan delapan gol yang krusial, menjadi penyelamat Leicester dari jurang degradasi dengan finish di posisi ke-14. Namun, prestasi terbesar yang mencengangkan dunia sepakbola terjadi dua musim kemudian.
Dalam kampanye ajaib 2015/2016, Vardy memimpin Leicester menciptakan kisah dongeng paling luar biasa dalam sejarah sepakbola modern. Dengan 24 gol spektakuler, termasuk rekor fenomenal mencetak gol dalam 11 pertandingan beruntun, ia menghantarkan klub yang nyaris terdegradasi menjadi juara Premier League.