Saham BBCA Naik Lagi, Bos BCA Buka Suara

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sempat mengalami koreksi signifikan beberapa waktu lalu bahkan sampai di bawah Rp 8.000.

oleh Pipit Ika RamadhaniDiperbarui 23 April 2025, 20:42 WIB
Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk, Jahja Setiaatmadja, dalam konferensi pers kinerja BCA Kuartal I 2025, Rabu (23/5/2025). (Pipit/Liputan6.com) 

Liputan6.com, Jakarta - Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sempat mengalami koreksi signifikan beberapa waktu lalu, namun kini mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Salah satu faktor pendorong rebound saham BBCA adalah aksi buyback yang telah dilakukan perseroan sejak 10–11 April 2025 dengan total nilai sebesar Rp 1 triliun.

Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja menyampaikan bahwa koreksi saham tidak hanya terjadi pada BBCA, namun juga dialami oleh sejumlah emiten perbankan lainnya. Sentimen negatif dipicu oleh pengumuman kebijakan tarif dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang memicu ketidakpastian pasar dan membuat investor bereaksi dengan aksi jual.

“Setelah menyentuh titik terendah, terjadi rebound termasuk karena aksi buyback yang memang sudah dilakukan sejak 10–11 April,” ujar Jahja dalam konferensi pers Kinerja BCA Kuartal I 2025, Rabu (23/4/2025).

Terkait proyeksi harga saham ke depan, manajemen menegaskan bahwa BCA tidak memiliki target harga saham tertentu, termasuk apakah BBCA akan kembali ke level Rp 10.000 pada tahun ini. Fokus utama perusahaan tetap pada penguatan fundamental dan kinerja bisnis jangka panjang.

“Kami tidak menargetkan harga saham, tapi fokus pada kinerja fundamental,” tegas Jahja.

 

BCA Raih Laba Rp 14,1 Triliun pada Kuartal I 2025

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk, Jahja Setiaatmadja, dalam konferensi pers kinerja BCA Kuartal I 2025, Rabu (23/5/2025). (Pipit/Liputan6.com)

BCA mengumumkan kinerja kuartal I 2025 yang berakhir pada 31 Maret 2025. Pada periode tersebut, laba BCA dan entitas anak tumbuh 9,8% mencapai Rp 14,1 triliun.

Bersamaan dengan itu, BCA dan entitas anak membukukan total kredit sebesar Rp 941 triliun, naik 12,6% secara tahunan (year-on-year/YoY). Pertumbuhan kredit ini ditopang oleh ekspansi pembiayaan di berbagai sektor serta pertumbuhan pendanaan berkelanjutan. Pendanaan inti berupa giro dan tabungan (CASA) tumbuh 8,3% YoY, mencapai Rp 979 triliun atau sekitar 82% dari total Dana Pihak Ketiga (DPK).

Menurut Jahja, momentum Ramadan dan Idul Fitri tahun ini berdampak positif terhadap penyaluran kredit BCA hingga Maret 2025. Pelaksanaan BCA Expoversary 2025 turut menopang pertumbuhan kredit perusahaan. BCA berkomitmen untuk mendukung perekonomian nasional dengan mendorong penyaluran kredit ke berbagai sektor dan segmen secara prudent.

"Kami optimistis menatap pertumbuhan bisnis ke depan di tengah dinamika dan tantangan pasar. Pertumbuhan pembiayaan BCA ditopang oleh kredit korporasi yang naik 13,9% year-on-year menjadi Rp 443,4 triliun. Kredit komersial tumbuh 9,9% menjadi Rp 137,4 triliun," kata Jahja.

Penyaluran kredit UKM tumbuh 12,9% menjadi Rp 124,5 triliun. Kredit konsumer naik 11,3% YoY menjadi Rp 225,7 triliun, didukung oleh pertumbuhan KPR BCA sebesar 10,5% menjadi Rp 135,3 triliun.

Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) tumbuh 12,3% menjadi Rp67,1 triliun. Outstanding pinjaman konsumer lainnya, yang sebagian besar berupa kartu kredit, meningkat 13,9% menjadi Rp 23,3 triliun. Penyaluran kredit ke sektor-sektor berkelanjutan tumbuh 19% YoY, menyentuh Rp 235,5 triliun.

"Ini mencerminkan komitmen BCA terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG)," kata Jahja. Nilai tersebut mencakup sekitar 25% dari total portofolio pembiayaan. BCA juga menyediakan promo suku bunga spesial bagi debitur SME untuk kegiatan usaha berwawasan lingkungan dan sektor pendidikan.

 

DPK

Total DPK BCA naik 6,5% YoY menjadi Rp1.193 triliun. Dana CASA menjadi kontributor utama pendanaan BCA, seiring meningkatnya volume transaksi. Frekuensi transaksi secara keseluruhan tumbuh 19% YoY menjadi 9,9 miliar transaksi. Frekuensi transaksi melalui mobile dan internet banking BCA mencapai 8,8 miliar, naik 22,2% YoY.

Dari sisi pendapatan, pendapatan bunga bersih (net interest income) BCA tumbuh 7,1% YoY menjadi Rp 21,1 triliun. Pendapatan non-bunga naik 8,1% menjadi Rp 6,8 triliun, sehingga total pendapatan operasional mencapai Rp 27,9 triliun, tumbuh 7,4% YoY. Rasio cost to income terkelola dengan baik di level 28,5%.

Rasio loan at risk (LAR) dan non-performing loan (NPL) tetap terjaga masing-masing di level 6% dan 2%. Rasio pencadangan NPL dan LAR berada pada level solid masing-masing 180,5% dan 66,5%. Laba BCA dan entitas anak tumbuh 9,8%, mencapai Rp 14,1 triliun pada kuartal I 2025.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya