Wall Street Anjlok Usai Ketua The Fed Jerome Powell Ingatkan Dampak Perang Tarif

Wall street telah melemah dalam ketidakpastian karena investor bergulat dengan kebijakan pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang berubah-ubah.

oleh Agustina MelaniDiperbarui 17 April 2025, 08:08 WIB
Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street anjlok pada perdagangan Rabu, 16 April 2025. (Foto: Unsplash/Aditya Vyas)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street anjlok pada perdagangan Rabu, 16 April 2025. Hal ini setelah ketua the Federal Reserve (the Fed) Jerome Powell memperingatkan tarif Presiden AS Donald Trump yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern, dengan dampak yang masih sangat tidak pasti.

Mengutip CNN, Kamis (17/4/2025),indeks Dow Jones anjlok 700 poin atau 7,3 persen ke posisi 39.669,39. Indeks S&P 500 melemah 2,24 persen ke posisi 5.275,70. Indeks Nasdaq terperosok 3,07% ke posisi 16.307,16.

“Tingkat kenaikan tarif yang diumumkan sejauh ini lebih besar dari yang diantisipasi. Hal yang sama kemungkinan besar akan terjadi pada dampak ekonomi yang akan mencakup inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat,” ujar Jerome Powell dalam sebuah acara di Chicago.

Wall street telah terperosok dalam ketidakpastian karena investor bergulat dengan kebijakan pemerintahan Trump yang berubah-ubah.

Komentar Powell menghadirkan kekhawatiran yang muncul dalam beberapa minggu terakhir saat konsumen dan bisnis bergulat dengan tarif Trump.

Belanja di peritel AS melonjak pada Maret dengan laju bulanan terkuat dalam lebih dari dua tahun, berdasarkan data Departemen Perdagangan. Hal ini terjadi saat warga AS bergegas menghindari kenaikan tarif besar-besaran Trump.

Saham Nvidia merosot 6,87% pada Rabu pekan ini setelah produsen chip menuturkan akan menanggung kerugian USD 5,5 miliar. Hal ini karena pemerintah AS memberlakukan pembatasan baru pada ekspor chip kecerdasan buatannya ke China.

Pembatasan ekspor Nvidia merupakan langkah lain dalam persaingan yang semakin ketat antara AS dan China untuk mendominasi AI. Pertarungan itu memanas sejak Januari, ketika perusahaan baru DeepSeek mengejutkan Silicon Valley dengan model AI-nya yang murah dan mirip ChatGPT yang telah memacu ledakan AI di China.

"Meskipun kami berharap bahwa pembicaraan perdagangan pada akhirnya akan menghasilkan kemajuan, pertikaian antara AS dan China tampaknya akan terus berlanjut dalam waktu dekat,” kata Chief Investment Officer UBS Global Wealth Management Solita Marcelli, dalam sebuah catatan pada Rabu.

Dibayangi Kebijakan Perdagangan AS

Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)

Saham mengalami sedikit penurunan pada Selasa. Investor waspada terhadap pembaruan dari Gedung Putih yang mungkin menandakan perkembangan dalam kebijakan perdagangan. Pemerintahan Trump pada Senin memulai penyelidikan terhadap impor farmasi dan chip semikonduktor (pendahulu dari potensi tarif), menurut pemberitahuan yang diunggah ke Federal Register.

Trump mengatakan pada Minggu akan mengumumkan tarif pada semikonduktor impor. Ia juga menambahkan akan ada fleksibilitas dengan beberapa perusahaan di sektor tersebut.

S&P 500 pada Senin membukukan kenaikan berturut-turut pertamanya dalam dua minggu setelah pemerintahan Trump mengumumkan pengecualian tarif pada barang elektronik yang diimpor dari China, selain Trump mengatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan pengecualian tarif pada produsen mobil.

Meskipun reli singkat, S&P 500 turun pada Selasa dan Rabu dan masih diperdagangkan di bawah harga penutupan pada 2 April, tepat sebelum Trump awalnya menetapkan tarif "timbal balik"-nya.

"Sementara itu, jika perubahan arah baru-baru ini seputar tarif AS dan penerapannya (seperti penangguhan tarif pada teknologi pada hari Jumat lalu) menjadi acuan, satu-satunya kepastian adalah bahwa pelaku pasar akan dipaksa untuk menanggung periode ketidakpastian pasar yang berkepanjangan," kata analis di Citi dalam catatan Senin.

Prospek Ekonomi Global

(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)

Prospek ekonomi global telah terpukul karena perang dagang Trump, menurut laporan baru oleh Organisasi Perdagangan Dunia. WTO mengatakan pihaknya memperkirakan produk domestik bruto global akan tumbuh sebesar 2,2% tahun ini. Pertumbuhan itu akan menjadi 0,6 % lebih rendah dari tingkat yang diharapkan dalam skenario tanpa tarif tambahan.

Sementara itu, emas melonjak lebih dari 3% pada Rabu ke rekor tertinggi baru di atas USD 3.300 per troy ons. Emas dianggap sebagai tempat berlindung yang aman di tengah gejolak ekonomi dan geopolitik.

Analis di Goldman Sachs pada Jumat menaikkan perkiraan harga emas menjadi USD 3.700 hingga akhir 2025, menggarisbawahi bagaimana permintaan untuk logam kuning tersebut diperkirakan terus berlanjut di tengah meningkatnya perang dagang AS-China.

Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya