Jauh Sebelum Ingin Dijadikan Pangkalan Militer Rusia, Biak Papua Telah Jadi Medan Tempur Perang Dunia II

Jauh sebelum Rusia melirik Biak sebagai pangkalan militer Rusia, Pulau Biak telah menjadi meda tempur perang dunia II di kawasan barat Samudera Pasifik antara Jepang dan Amerika Serikat. Sejumlah sisa-sisa peperangan hingga kini masih tertinggal di darat maupun wilayah laut.

oleh Tim NewsDiterbitkan 16 April 2025, 16:09 WIB
Monumen Perang Dunia ke II di Biak Numfor. (dok. kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah Rusia dilaporkan telah meminta izin kepada Indonesia untuk menempatkan pesawat Angkatan Udara Rusia (VKS) di Biak, Papua. Kabar yang disampaikan  oleh situs militer Janes, Senin, 14 April 2025 ini langsung membuat gempar banyak pihak, termasuk pihak Indonesia dan Australia, yang menjadi ‘tetangga dekat’ Papua. 

Laporan situs militer Janes menyatakan, sumber dari pemerintah Indonesia menyebut permintaan tersebut diterima oleh kantor Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin setelah pertemuannya dengan Sekretaris Dewan Keamanan Federasi Rusia Sergei Shoigu pada Februari 2025.

Dalam permintaan tersebut, Rusia berupaya untuk menempatkan beberapa pesawat jarak jauh di Pangkalan Angkatan Udara Manuhua, yang berbagi landasan pacu dengan Bandara Frans Kaisiepo Biak.

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) bereaksi atas kabar yang menyebutkan bahwa Rusia mengajukan permintaan izin resmi untuk menempatkan pesawat-pesawat militernya di Papua.

"Kami belum pernah mendengar mengenai permintaan Rusia untuk menempatkan pesawatnya di pangkalan udara milik Indonesia di wilayah Papua," demikian pernyataan tertulis juru bicara Kemlu RI Rolliansyah Soemirat atau yang akrab disapa Roy, Selasa (15/4/2025) malam. 

Sementara itu, Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Setjen Kemhan  Brigjen TNI Frega Wenas Inkiriwang dalam pernyataan singkatnya membantah laporan tersebut. 

"Terkait pemberitaan tentang usulan penggunaan pangkalan Indonesia oleh Rusia, Kemhan mengklarifikasi bahwa berita tersebut tidak benar," ungkap Frega dalam pernyataan tertulisnya. 

Sebelum munculnya kabar keinginan Rusia menjadikan Pulau Biak seagai pangkalan militernya, jauh puluhan tahun lalu Biak telah menjadi medan pertempuran Perang Dunia II antara antara Jepang dan Amerika Serikat. Pertempuan di wilayah Biak ini menjadi medan pertempuan paling krusial di Pasifik selama Perang Dunia II.

Meskipun tidak melibatkan Rusia, pertempuran ini memiliki dampak strategis signifikan dalam upaya Sekutu merebut kembali wilayah Pasifik dari kekuasaan Jepang. 

 

Biak Numfor, Titik Strategis Militer di Pasifik pada Perang Dunia II

Letak geografis Kabupaten Biak Numfor Papua yang berada di bagian barat wilayah Pasifik, menjadikan daerah itu tempat strategis untuk mempersiapkan segala taktik dan strategi penguasaan wilayah di pasifik. (Liputan6.com/ Dok Google Map)

Letak geografis Kabupaten Biak Numfor yang berada di kawasan barat Samudera Pasifik menjadikannya wilayah yang sangat strategis untuk kepentingan militer selama Perang Dunia II. Dalam bukunya The War in The Pacific, sejarawan militer Robert Ross Smith mencatat pentingnya posisi Biak Numfor dalam penyusunan taktik dan penguasaan kawasan Pasifik oleh pasukan tempur.

Temuan arkeologis yang dipublikasikan Balai Arkeologi Papua pada tahun 2016 memperkuat fakta sejarah tersebut. Penelitian mereka menemukan bukti fisik berupa sisa-sisa peralatan militer dan struktur pertahanan yang tersebar di hampir setengah wilayah Biak Numfor.

Ini menegaskan bahwa daerah tersebut pernah difungsikan sebagai pangkalan militer aktif, baik oleh Jepang maupun Sekutu.

Lebih lanjut, dalam sebuah artikel ilmiah yang dimuat dalam Jurnal Arkeologi Papua edisi 2019, peneliti Sonya M. Kawer menyoroti peran Biak Numfor sebagai salah satu pusat kekuatan udara strategis selama masa perang. Ia mencatat adanya tiga pangkalan udara utama di kawasan ini, masing-masing terletak di Pulau Owi, Pulau Numfor, dan Kota Biak.

Tiga dari pangkalan udara yang dibangun Jepang berlokasi di wilayah Kota Biak, dengan satu pangkalan terletak dekat Pantai Ambroben. Dua lainnya berada di kawasan Borokoe dan Sorido, yang secara geografis dilindungi oleh tebing dan perbukitan, membuatnya lebih sulit diakses musuh. Seluruh fasilitas ini dibangun di atas batu gamping yang kokoh, memungkinkan konstruksi infrastruktur militer yang kuat dan tahan lama.

Penelitian itu juga mengungkap total 11 lokasi pangkalan udara yang tersebar di Biak Numfor, terdiri dari pangkalan Jepang dan Sekutu. Di antaranya adalah Pangkalan Udara Frans Kaisiepo (Mokmer), dua pangkalan udara Jepang di Borokoe dan Sorido, serta empat pangkalan milik Sekutu di Pulau Owi. Selain itu, terdapat dua pangkalan lainnya di Yemanu, satu di Kornasoren (Yemburwo), dan satu lagi di Namber yang juga dikuasai Sekutu.

Jepang diketahui membangun sebelas pangkalan udara berlapis baja di dua pulau kecil dan satu pulau utama sebagai bagian dari sistem pertahanan berlapis mereka. Langkah ini menunjukkan betapa pentingnya Biak Numfor dalam peta strategi militer Jepang.

Penelitian tersebut menegaskan bahwa baik Jepang maupun Sekutu sama-sama memanfaatkan Biak Numfor sebagai basis logistik dan operasional. 

Pertempuran ini menyebabkan korban signifikan di kedua belah pihak. Amerika Serikat kehilangan sekitar 474 prajurit dan 2.428 luka-luka, sementara Jepang mengalami kerugian lebih dari 6.100 prajurit tewas dan ratusan lainnya ditangkap. Kemenangan di Biak memungkinkan Sekutu menggunakan lapangan udara di pulau tersebut untuk mendukung operasi militer selanjutnya di Filipina dan wilayah Pasifik lainnya.

 

Warisan Sejarah  

Jejak pertempuran masih dapat ditemukan di Pulau Biak. Salah satu yang menjadi destinasi wisata sejarah yaitu Monumen Perang Dunia II terletak di Pantai Kampung Paray/Anggraidi Distrik Biak Kota. Letak monumen ini berada di pinggir pantai yang sering dikunjungi sebagai tempat rekreasi di kota Biak. 

Monumen ini dibangun 24 Maret 1994 berdasarkan kesepakatan antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Jepang. Di bagian utama monumen terdapat tembok yang dibuat sedikit melengkung dengan tulisan “MONUMEN PERANG DUNIA KE II”.

Di bagian dalam monumen terdapat ruangan berupa lorong sepanjang 10 meter. Di dalam lorong tersebut terdapat bendera Jepang, foto-foto tentara Jepang, serta abu kremasi jenazah tentara Jepang yang tewas pada Perang Dunia II saat sekutu membom Pulau Biak yang tersimpan dalam kotak alumunium. Semuanya terawat dan tertata dengan rapi.

Di sisi kiri luar monumen terdapat prasasti dalam tiga bahasa yaitu bahasa lnggris, Jepang dan Indonesia yang bertuliskan “Monumen untuk mengingatkan umat manusia tentang kekejaman perang dengan segala akibatnya agar tidak terulang lagi”. Tulisan tersebut menjadi pengingat untuk umat manusia betapa perang sangat menyengsarakan umat manusia dan jangan sampai terulang kembali. 

INFOGRAFIS JOURNAL_Konflik Ukraina dan Rusia Ancam Krisis Pangan di Indonesia? (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya