Ingin Evakuasi Warga Gaza, Langkah Prabowo dinilai Mirip PM Malaysia

Dato Sri Anwar Ibrahim pada tahun 1980 pernah melakukan langkah serupa ketika terjadi krisis Afganistan

oleh Edhie Prayitno IgeDiterbitkan 14 April 2025, 23:00 WIB
Presiden Prabowo Subianto bertolak menuju Abu Dhabi, Persatuan Emirat Arab (PEA) pada Rabu, 9 April 2025 untuk memulai rangkaian kunjungannya ke kawasan Timur Tengah. Prabowo akan berkunjung ke lima negara yakni PEA, Turki, Mesir, Qatar, dan Yordania. (Foto: Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden)

Liputan6.com, Semarang - Rencana Prabowo untuk membawa 1.000 warga Gaza ke Indonesia diungkapkan ketika akan melakukan lawatan ke Turki, Uni Emir Arab, Qatar, Jordania dan Mesir. Prabowo akan meminta dukungan politik dari negara-negara Islam yang dikunjunginya.

Dr. Hilmy Bakar Almascaty, pengamat Timur Tengah dari Lembaga Kajian Sabang Merauke Circle, menilai langkah Presiden Prabowo tersebut tergolong revolusioner.

BACA JUGA: SDA Melimpah, Prabowo Heran Indonesia Belum Punya Mobnas

"Ini mirip dengan yang dilakukan Dato Sri Anwar Ibrahim (DSAI), tahun 80an lalu dalam kasus Afganistan," kata Hilmy.

Menurut Hilmy, Indonesia akan menjadi pemimpin dalam urusan Palestina ke depan. Hilmy, dahulu adalah penghubung khusus Dato Sri Anwar Ibrahim yang sekarang Perdana Menteri Malaysia.

Menurutnya, dahulu Anwar memfasilitasi pengiriman mujahidin Nusantara ke Afghanistan untuk melawan Uni Sovyet. Anwar Ibrahim juga mendirikan Universitas Islam Internasional Malaysia untuk menolong berbagai pemuda Islam dunia dari daerah-daerah konflik.

"Bagi yang tak setuju, mungkin mereka kurang pergaulan Islam pada level dunia," kata Hilmy.

Sementara itu, pengamat politik global dari GREAT Institute, Dr Teguh Santosa, memuji lawatan Prabowo ke Timur Tengah dan Turki. Menurutnya, lawatan itu adalah respons strategis menghadapi tekanan politik dan ekonomi yang dilakukan Amerika. 

 

Simak Video Pilihan Ini:

Harapan Untuk Efek Kebijakan Trump

Mantan Stafsus Dr. Datuk Sri Anwar Ibrahim, Hilmy Bakar Almascaty, Presiden RI Prabowo Subianto, dan pengamat politik global GREAT Institute Teguh Santosa dalam sebuah acara. Foto: liputan6.com/edhie prayitno ige 

Salah satu tantangan besar yang dihadapi setiap negara adalah memenuhi kebutuhan ekonomi dan keamanan geopolitiknya. Salah satunya dengan menjalin hubungan dengan aktor-negara lain. Namun semestinya tidak menciptakan ketergantungan. 

“Slogan politik luar negeri pemerintah saat ini, menjadi good neighbor atau tetangga yang baik, juga komunikasi intens yang dilakukan Presiden Prabowo dengan pemimpin negara-negara lain adalah dalam rangka menciptakan situasi the absence of dependency atau ketidaan ketergantungan,” kata Teguh. 

Hanya dengan kondisi ini, Indonesia dapat menjalankan politik bebas aktif yang diamanatkan pendiri bangsa dan untuk menjaga kehidupan dunia berdasarkan prinsip peaceful coexitence yang dirumuskan dalam Konferensi Asia Afrika.

“Mudah-mudahan kunjungan Prabowo berulang kali ke Timur Tengah dan Turki tersebut mampu mengatasi kesulitan ekonomi dan investasi akibat kebijakan Trump saat ini,” katanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya