Liputan6.com, Jakarta - Wakil Gubernur Lemhannas, Laksamana Muda TNI Edwin Rajo Mangkuto, menggagas inovasi strategis demi memperkuat sistem pertahanan dan pemantauan wilayah maritim Indonesia melalui pemanfaatan teknologi kedirgantaraan buatan dalam negeri.
Salah satu inovasi unggulan yang didorongnya adalah pengembangan Pesawat Udara Tanpa Awak (PUTA) SE-01, yang dirancang dengan kemampuan operasional ganda: mampu terbang di darat maupun di atas perairan.
Advertisement
"Pesawat ini memiliki spesifikasi teknis yang mumpuni, dengan bentang sayap 4,5 meter, panjang 3,1 meter, dan tinggi 0,9 meter. Terbuat dari bahan komposit ringan dan kuat, PUTA memiliki berat maksimum saat tinggal landas (MTOW) sebesar 60 kg, serta dapat membawa muatan hingga 15 kg," kata Edwin dalam keterangan pers diterima, Jumat (4/4/2025).
Edwin menjelaskan, pesawat tersebut ditenagai bahan bakar Pertamax sebanyak 10 liter. Sehingga PUTA mampu mengudara selama 3 sampai 4 jam dan menjangkau ketinggian antara 300 hingga 6.000 kaki.
"Kecepatan jelajahnya 75 km/jam, dengan kecepatan maksimum 130 km/jam," beber Edwin.
Edwin menambahkan, mesinnya dua langkah berkapasitas 170 cc dengan daya 17,5 HP menjadi sumber tenaganya, mampu berputar hingga 9.000 RPM. Sistem propeller dua bilah berukuran 30"×12" dipasang dengan konfigurasi pusher untuk mendukung efisiensi dan stabilitas saat terbang.
Dia pun meyakini, kemampuan lepas landas dan mendarat di darat maupun air menjadikan PUTA sangat ideal digunakan di wilayah-wilayah terpencil, seperti pulau terluar, garis pantai, maupun kawasan terdampak bencana.
Terus Dikembangkan
Meskipun telah unggul secara teknis, Edwin mengungkapkan bahwa PUTA masih akan dikembangkan lebih lanjut agar sanggup menghadapi kondisi cuaca ekstrem dan ombak laut tinggi (sea-state), dengan target untuk digunakan di atas kapal-kapal perang TNI AL.
"PUTA adalah langkah nyata dalam memperkuat pengawasan wilayah maritim nasional. Fitur take off dan landing di permukaan air menjadikannya perangkat strategis untuk menjaga kedaulatan laut kita," jelas Edwin.
Lebih jauh, Edwin juga menyoroti potensi PUTA dalam berbagai misi non-militer, seperti kemanusiaan, perlindungan lingkungan, dan dukungan ketahanan pangan.
“Ini bukan sekadar urusan pertahanan. PUTA adalah bukti kesiapan kita dalam menjaga kedaulatan sekaligus hadir melayani masyarakat di wilayah-wilayah yang sulit diakses,” dia memungkasi.
Sebagai informasi, PUTA SE-01 merepresentasikan kemajuan teknologi lokal yang fleksibel, efisien, dan mampu menjawab tantangan geografis kompleks Indonesia sebagai negara kepulauan.