Liputan6.com, Jakarta - Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) memberikan opsi kepada para pendaki yang sudah mendaftar secara online sejak sepekan terakhir untuk dijadwal ulang setelah pendakian dibuka kembali.
Diketahui, pendakian di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dibuka 3 April 2025, namun kembali ditutup menyusul terjadi peningkatan gempa vulkanik dalam (VA) hingga mencapai 21 kali, yang berpotensi bahaya berupa letusan freatik.
Advertisement
Humas Balai Besar TNGGP Agus Deni, mengatakan penutupan pendakian Gunung Gede diperpanjang berdasarkan Surat Edaran Kepala Balai Besar TNGP. Penutupan pendakian ini dalam upaya antisipasi aktivitas peningkatan gempa vulkanik dalam di Gunung Gede.
"Maka dari itu untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, kegiatan pendakian di TNGGP ditutup sementara mulai tanggal 3 April sampai dengan 7 April 2025 atau sampai menunggu informasi lebih lanjut hasil pemantauan dari Badan Geologi Kementerian ESDM," kata Deni, Jumat (4/4/2025).
Namun, untuk mereka yang sudah mendaftar dan membayar uang administrasi, untuk dilakukan penjadwalan ulang pendakian ketika sudah diizinkan kembali untuk dibuka.
"Bagi pendaki yang akan melakukan jadwal ulang dapat menghubungi call center TNGGP," kata dia.
Aktivitas Gunung Gede
Sebelumnya, aktivitas Gunung Gede kembali menunjukkan peningkatan signifikan. Dalam enam jam terakhir, tercatat 21 kali gempa vulkanik dalam (Gempa Vulkanik Tipe A/VA) dengan jumlah yang jauh melebihi rata-rata harian bulan sebelumnya.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada, terutama terhadap potensi letusan freatik dan hembusan gas beracun di sekitar kawah.
Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid, menyampaikan bahwa lonjakan aktivitas kegempaan ini cukup signifikan dibandingkan kondisi sebelumnya.
"Pada 1 April 2024, dalam rentang pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, terjadi peningkatan gempa vulkanik dalam hingga mencapai 21 kejadian. Sebagai perbandingan, rata-rata kejadian gempa vulkanik dalam di Gunung Gede selama periode 1-31 Maret 2024 hanya berkisar 0-1 kali per hari," kata Wafid dalam keterangannya.
Menurutnya, peningkatan aktivitas ini menunjukkan adanya tekanan yang meningkat di dalam tubuh Gunung Gede, yang berpotensi menyebabkan letusan freatik atau hembusan gas berbahaya jika konsentrasinya terlalu tinggi.
Meski aktivitas meningkat, PVMBG belum menaikkan status Gunung Gede dari Level I (Normal). Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental hingga 1 April 2024 pukul 10.00 WIB, aktivitas vulkanik Gunung Gede masih berada pada Level I (Normal).
"Kami mengimbau masyarakat, pengunjung, dan wisatawan untuk tidak menuruni, mendekati, atau bermalam dalam radius 600 meter dari Kawah Wadon," jelasnya.
Erupsi Terakhir
Gunung Gede merupakan gunung api tipe strato dengan ketinggian 2.958 mdpl. Secara administratif berada di Kabupaten Cianjur, Sukabumi, dan Bogor, Jawa Barat. Pemantauan dilakukan secara visual dan instrumental dari Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) Gede di Desa Ciloto, Kecamatan Pacet, Cianjur.
Erupsi terakhir Gunung Gede terjadi pada 1957 dari Kawah Ratu, dengan kolom letusan mencapai 3.000 meter di atas puncak. Saat ini, aktivitas hembusan terpantau berasal dari Kawah Wadon, dengan ketinggian asap berkisar antara 50 hingga 100 meter selama Maret 2024.