Liputan6.com, Jakarta- Major League Soccer (MLS) baru-baru ini membuat keputusan kontroversial dengan melarang Yassine Cheuko, bodyguard Lionel Messi, berada di pinggir lapangan selama pertandingan. Keputusan ini diambil alih oleh MLS untuk meningkatkan kendali keamanan di seluruh stadion liga.
Yassine Cheuko, yang dikenal karena melindungi Messi dari penggemar yang menerobos lapangan, kini hanya diizinkan berada di ruang ganti dan zona campuran. Larangan ini terjadi setelah serangkaian insiden di mana penggemar menerobos lapangan untuk mendekati Messi.
Advertisement
Keputusan ini menimbulkan kontroversi, terutama dari Cheuko sendiri. Ia merasa kinerjanya justru membantu tim keamanan stadion. Ia membandingkan jumlah insiden penonton menerobos lapangan di Eropa (6 insiden dalam 7 tahun) dengan di Amerika Serikat (16 insiden dalam 20 bulan).
Perbedaan signifikan ini menurutnya menunjukkan bahwa masalah keamanan di MLS jauh lebih serius. Meskipun kecewa, Cheuko menyatakan memahami keputusan MLS dan akan tetap bekerja melindungi Messi di luar lapangan.
MLS menegaskan bahwa mereka bertanggung jawab penuh atas keamanan semua pemain, termasuk Messi, di dalam lapangan. Namun, pernyataan Cheuko telah memicu perdebatan publik tentang standar keamanan di MLS dan apakah langkah ini benar-benar meningkatkan keamanan atau justru sebaliknya. Banyak yang mempertanyakan apakah larangan terhadap bodyguard berpengalaman seperti Cheuko merupakan solusi tepat untuk masalah keamanan yang lebih kompleks.
Kontroversi Larangan Bodyguard Messi
Larangan terhadap Yassine Cheuko telah menimbulkan gelombang reaksi beragam. Banyak yang mendukung keputusan MLS, menekankan pentingnya konsistensi protokol keamanan dan menghindari potensi konflik antara bodyguard pribadi dan petugas keamanan stadion. Namun, tidak sedikit juga yang mempertanyakan efektivitas langkah ini. Beberapa bahkan berpendapat bahwa pengalaman dan keahlian Cheuko justru sangat berharga dalam menjaga keamanan Messi.
Cheuko sendiri, dalam wawancara dengan media Spanyol, mengungkapkan kekecewaannya. "Saya tidak diizinkan berada di lapangan lagi. Selama tujuh tahun saya di Eropa, bekerja untuk Ligue 1 dan Liga Champions, hanya enam orang yang pernah menginvasi lapangan," ujarnya seperti dilansir dari ESPN.
Ia menyoroti perbedaan signifikan antara tingkat keamanan di Eropa dan Amerika Serikat, menekankan bahwa pengalamannya dapat berkontribusi pada peningkatan keamanan di MLS.