Tanda-Tanda Orang Beriman Menurut UAH, Bisa Dilihat dari Matanya

UAH bongkar mata menakjubkan orang-orang yang beriman.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 01 April 2025, 16:00 WIB
Ustadz Adi Hidayat (UAH). (SS TikTok)

Liputan6.com, Cilacap - Ulama Muhammadiyah yang menjabat sebagai Wakil Ketua I Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Periode 2022-2027, Ustadz Adi Hidayat (UAH) menerangkan mata yang dimiliki orang-orang beriman.

Menurut UAH, Iman dan mata ternyata sangat erat kaitannya. Bukan hanya hati di mana tempat iman ini tertanam dan terpatri dengan kuat. Rupanya iman sangat memengaruhi anggota tubuh manusia.

Al-Jurjani memaknai iman sebagai membenarkan dengan hati. Sementara menurut syariat, iman adalah meyakini dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengerjakan dengan anggota badan.

Lantas bagaimana pandangan UAH tentang mata orang beriman ini? Begini penjelasannya.

 

Simak Video Pilihan Ini:

Mata Orang Beriman itu Begini

Ustadz Adi Hidayat (UAH) saat menjelaskan tentang menepuk pundak jika ingin bermakmum di pertengahan sholat. (Foto Akhyar TV via YouTube Audio Dakwah)

UAH menjelaskan bahwa mata orang beriman itu pasti berakhlak. Berakhlak yang dimaksud UAH ialah orang beriman senantiasa menjaga pandangannya dsari hal-hal yang buruk. 

“Jadi mata orang beriman itu pasti berakhlak,” terangnya dikutip dari tayangan YouTube Short @IsChannell, Sabtu (29/03/2025).

Lebih dalam UAH menegaskan bahwa supaya mata memiliki akhlak, maka bisa dirunut dari ibadah sholatnya. Apakah ia melaksanakan sholat dengan benar atau tidak. Jika benar maka akan berpengaruh pada akhlaknya.

“Kalau sholatnya sukses itu pasti ada akhlak dalam pandangannya,” tandasnya.

“Nah itu kita yang punya itu Karena itu mata orang beriman karena dibimbing oleh akhlak, oleh imannya tidak semua dilihat ada batasan,” tegasnya.

Amalan untuk Meningkatkan Iman

Ilustrasi muslim berzikir,berdoa. (Photo Copyright by Freepik)

Mengutip umsb.ac.id, berikut ini beberapa amalan untuk meningkatkan iman.

1. Memperbaiki Salat

Salat adalah wahana komunikasi hamba dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan kesempatan bagi hamba untuk banyak mengadu dan bercengkerama dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala Tuhan kita. Jika manusia sebagai seorang hamba dapat membuat ibadah sholatnya untuk bisa berkomunikasi tentang banyak hal dengan Allah, maka kita akan menjadi hamba yang baik yang dapat menjalani hidup dengan baik pula.

Allah SWT berfirman:

’’Bacalah Kitab Al-Qur’an yang telah diwahyukan kepadamu Muhammad dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan ketahuilah mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan shalat itu lebih besar keutamaannya dari ibadah yang lain. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut : 45)

2. Peduli dan Menjaga Ukhuwah

Menjaga ukhuwah Islamiyah dan memupuk rasa peduli kepada sesama muslim menjadi hal penting dalam rangka menjaga kedamaian dan kenyamanan persaudaraan. Sejatinya, muslim satu dengan muslim lainnya ibarat satu tubuh, bagian satu dengan bagian lainnya saling membutuhkan dan saling melengkapi.

Ketika manusia hidupnya nyaman dan damai serta penuh dengan kasih sayang akan lebih mudah dan baik dalam beribadah sehingga imannya lebih terjaga bahkan lebih kuat lagi. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga tidak bisa tidur dan panas turut merasakan sakitnya.” (HR. Muslim)

3. Perbanyak Introspeksi Diri

Banyak manusia merasa bahwa dirinya telah banyak berbuat baik, bahkan berasa menjadi ahli surga, karena cenderung yang diingat adalah amal baik yang telah dilakukan, melupakan hal buruk yang telah dilakukan.

Oleh karenanya sangat perlu untuk sering melakukan hisap diri dan koreksi diri dengan baik dan maksimal agar lebih mengetahui seberapa besar kebaikan- kebaikan yang dilakukan dikomparasi atau dikurangi dengan keburukan yang sudah dilakukan sebelum mendapat sampai pada hisabnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Jika kita sering menghisap diri, maka akan lebih mengontrol terhadap perbuatan- perbutan kita di masa datang jika kebaikan dan rahmat Allah yang kita inginkan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

’’Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok atau akhirat, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

4. Bergaul dengan Orang yang Saleh

Manusia adalah makhluk sosial, karenanya manusia membutuhkan teman, dan semakin banyak teman dia semakin baik dalam sosialisasinya. Teman yang baik akan memengaruhi kebaikan teman lainya, begitu juga sebaliknya.

Rasulullah saw bersabda:

’’Seseorang yang duduk berteman dengan orang sholeh dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari 2101)

5. Memperbanyak Doa Kebaikan Iman kepada Allah

Doa merupakan harapan makhluk kepada Tuhan agar memperoleh seperti apa yang di cita- citakan. Kebaikan- kebaikan disampaikan agar terwujud yang diharapkan. Semakin sering doa disampaikan pada watu dan tempat yang mustajabah menjadi penting, karenanya perlulah mengetahui waktu-waktu dan tempat yang mustajabah.

Doa yang disampaikan kepada Allah pasti Allah akan kabulkan. Soal kapan dan bagaimana pengabulannya itu menjadi hak prerogatif Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jika belum terkabul itu artinya belum waktunya yang pas untuk dikabulkan doanya oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sehingga yang berdoa agar berdoa di waktu dan tepat yang benar serta diulang-ulang karena keseriusannya.

Sepenggal doa yang Allah ajarkan dalam Al-Qur’an:

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi karunia.” (QS. Ali Imran: 8)

Penulis: Khazim Mahrur / Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya