Ilmuwan: Gelombang Panas dan Krisis Iklim Jadi Ancaman Nyata bagi Manusia dan Bumi

Lonjakan suhu global mengancam kesehatan dan kesejahteraan miliaran orang.

Oleh DW.comDiterbitkan 28 Maret 2025, 21:30 WIB
Para ilmuwan mengatakan pemanasan global memperparah cuaca buruk, dan Vietnam adalah salah satu dari sekian banyak negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara yang mengalami rekor suhu tertinggi dalam beberapa minggu terakhir. (Photo by Nhac NGUYEN / AFP)

, Jakarta - Saat suhu global terus meningkat, menjaga kesejukan bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga menyangkut kesehatan, ekonomi, dan bahkan kelangsungan hidup manusia.

Gelombang panas ekstrem telah menjadi ancaman serius di berbagai belahan dunia, dan para ilmuwan memperingatkan bahwa dampaknya akan semakin parah jika tidak ada tindakan nyata untuk mengurangi emisi karbon.

Mengutip DW Indonesia, Jumat (28/3/2025), menurut para ilmuwan, jika suhu global meningkat 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri, sekitar 2,3 miliar orang akan berisiko mengalami gelombang panas ekstrem. Tanpa langkah mitigasi, peningkatan suhu ini diperkirakan terjadi di awal tahun 2030-an.

Saat ini, cuaca panas telah menyebabkan sekitar 12.000 kematian setiap tahunnya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan memperkirakan bahwa pada 2030, jumlah kematian akibat dampak panas pada lansia bisa meningkat hingga 38.000 jiwa per tahun.

Gelombang panas juga berdampak pada produktivitas kerja, terutama di sektor yang mengandalkan tenaga fisik. Selain itu, beban ekonomi akibat meningkatnya kebutuhan energi dan layanan kesehatan akibat penyakit terkait panas semakin membebani negara-negara di seluruh dunia.

 

Dilema Penggunaan AC

Sedangkan Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu akan cerah berawan. (merdeka.com/Imam Buhori)

Saat suhu meningkat, penggunaan air conditioner (AC) menjadi solusi instan bagi banyak orang. Namun, peralatan ini bukan tanpa konsekuensi. AC mengonsumsi banyak energi dan berkontribusi terhadap pemanasan global, baik melalui penggunaan listrik berbasis fosil maupun kebocoran senyawa kimia berbahaya yang merusak lapisan pendingin bumi.

“Kita harus keluar dari siklus ini,” ujar Lily Riahi dari Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kepada DW.

"Cara kita mendinginkan rumah dan tempat kerja saat ini berkontribusi besar pada perubahan iklim.”

Untuk menghadapi gelombang panas secara efektif, diperlukan solusi pendinginan yang lebih ramah lingkungan. Beberapa langkah yang dapat diambil meliputi:

  • Desain bangunan ramah iklim yang menggunakan material reflektif dan ventilasi alami untuk mengurangi kebutuhan pendingin buatan.
  • Penghijauan perkotaan melalui penanaman pohon dan taman vertikal untuk menurunkan suhu lingkungan.
  • Teknologi pendinginan inovatif seperti AC berbasis energi terbarukan dan sistem pendinginan pasif yang lebih hemat energi.
Infografis Penjelasan Cuaca Panas Melanda Wilayah Indonesia. (Liputan6.com/Trieyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya