Tradisi Lebaran di Jepang: Perayaan Sederhana di Tanah Sakura

Lebaran di Jepang unik dan sederhana, berbeda dengan Indonesia yang meriah, mari kita telusuri tradisi tersebut.

oleh Ruly RiantrisnantoDiterbitkan 19 Maret 2025, 17:30 WIB
Gunung Fuji terlihat dari kuil Arakura Fuji Sengen di kota Fujiyoshida, prefektur Yamanashi, pada Kamis (22/4/2021). Prefektur Yamanashi terletak di sebelah barat Tokyo yang memiliki spot-spot wisata terkenal, salah satunya gunung tertinggi di Jepang, Gunung Fuji. (Behrouz MEHRI / AFP)

Liputan6.com, Jakarta Lebaran atau Idul Fitri adalah momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh umat Muslim di seluruh dunia, termasuk di Jepang. Meskipun jumlah umat Muslim di Jepang tergolong minoritas, tradisi Lebaran di sini tetap dijalani dengan penuh semangat. Namun, perayaan ini tentu berbeda jauh dari yang kita lihat di Indonesia. Di Jepang, Lebaran tidak dijadikan hari libur nasional, sehingga perayaannya cenderung lebih sederhana.

Di Jepang, sholat Idul Fitri dilaksanakan di masjid-masjid yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Meskipun jumlah masjid hanya sekitar 80, umat Muslim tetap berkumpul untuk melaksanakan sholat bersama. Setelah sholat, mereka melakukan silaturahmi dengan keluarga dan kerabat, saling bermaaf-maafan, meskipun waktu berkumpul tidak lama karena harus kembali beraktivitas seperti biasa.

Makanan khas Lebaran di Jepang juga menarik untuk dibahas. Meski Jepang terkenal dengan sushi dan udon, menu Lebaran di sini dipengaruhi oleh masakan Timur Tengah.

Hidangan seperti biryani dan barfi sering disajikan, dan beberapa keluarga bahkan menyajikan makanan khas Lebaran Indonesia, seperti rendang, opor ayam, dan ketupat yang dimasak menggunakan rice cooker. Ini menunjukkan betapa beragamnya pengaruh budaya dalam perayaan Lebaran di Jepang.


Silaturahmi dan Dekorasi Sederhana

Seorang pria berjalan di bawah tori di kuil Arakura Fuji Sengen saat Gunung Fuji terlihat dari kota Fujiyoshida, prefektur Yamanashi, Jepang, pada Kamis (22/4/2021). Gunung Fuji merupakan gunung tertinggi di Jepang dengan tinggi sekitar 3.776 meter dari atas permukaan laut. (Behrouz MEHRI / AFP)

Setelah sholat Idul Fitri, silaturahmi menjadi bagian penting dari perayaan. Umat Muslim di Jepang saling berkunjung satu sama lain, meskipun waktu yang tersedia sangat terbatas. Mereka saling mengucapkan selamat dan bermaaf-maafan, mempererat tali persaudaraan meskipun dalam suasana yang lebih tenang dibandingkan di Indonesia.

Berbicara soal dekorasi, Lebaran di Jepang tidak semeriah di Indonesia. Di sini, dekorasi lebih sederhana, seringkali hanya menggunakan kaligrafi dan lampu-lampu untuk menghiasi rumah. Meskipun begitu, pernak-pernik Lebaran dapat ditemukan di toko-toko souvenir tertentu, terutama di Distrik Asakusa yang terkenal.

Beberapa keluarga Muslim di Jepang juga mengadakan open house, di mana mereka menyambut tamu dengan hidangan Lebaran. Ini menjadi kesempatan bagi mereka untuk berbagi kebahagiaan meskipun dalam lingkup yang lebih kecil. Keunikan lain dari perayaan Lebaran di Jepang adalah seringnya bertepatan dengan musim semi, saat bunga sakura bermekaran.

Lanjut Baca:

Suasana ini menciptakan keindahan tersendiri, meskipun bagi sebagian warga negara Indonesia yang merayakan Lebaran di Jepang, suasana tersebut terasa berbeda karena tidak adanya tradisi sungkem dan kumpul keluarga besar seperti di tanah air.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya