Apa Itu Mansplaining? Perlakuan yang Merendahkan Perempuan, Ini Cara Menghadapinya

Mansplaining, istilah yang viral di media sosial, merujuk pada perilaku pria yang menjelaskan sesuatu kepada perempuan dengan cara merendahkan. Artikel ini akan membahas tuntas apa itu mansplaining, asal-usulnya, ciri-ciri, contoh, dampak buruknya, dan cara menghadapinya.

oleh Anugerah Ayu SendariDiterbitkan 18 Maret 2025, 22:23 WIB
Mansplaining yang merugikan perempuan (Foto: Pexels/Igreja Dimensão)

Liputan6.com, Jakarta Pernah merasa kesal karena pria menjelaskan sesuatu padamu dengan nada meremehkan, seolah kamu tidak mengerti, meskipun sebenarnya kamu sudah paham bahkan mungkin lebih ahli? Itu mungkin saja mansplaining.

Istilah yang akhir-akhir ini viral di media sosial ini menggambarkan perilaku pria yang menjelaskan sesuatu kepada perempuan dengan cara yang merendahkan atau menganggap perempuan tersebut tidak mengerti. Padahal, kenyataannya perempuan tersebut sudah memahami topik tersebut, bahkan mungkin lebih ahli darinya.

Mansplaining bisa sangat merugikan dan meremehkan perempuan. Maka dari itu, penting mengenali perlakuan ini dan cara menghadapinya. Artikel ini akan mengupas tuntas apa itu mansplaining, dari asal-usul istilah hingga cara menghadapinya. Berikut ulasannya, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa (18/3/2025).

Apa Itu Mansplaining?

perbedaan laki laki dan perempuan ©Ilustrasi dibuat AI

Mansplaining adalah gabungan kata "man" (pria) dan "explaining" (menjelaskan). Ini adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan situasi ketika seorang pria memberikan penjelasan yang meremehkan kepada seseorang yang sebenarnya sudah mengerti.

Definisi ini diperkuat oleh Oxford English Dictionary yang menyebutnya sebagai "menjelaskan sesuatu kepada seseorang, biasanya pria kepada perempuan, dengan cara yang dianggap meremehkan atau merendahkan" (Steinmetz, 2014). Perilaku ini bukan sekadar penjelasan biasa, melainkan diiringi dengan sikap superioritas dan kurangnya penghargaan terhadap pengetahuan dan pemahaman perempuan.

 

Asal Usul Istilah Mansplaining

Ilustrasi perempuan berkarisma/Copyright Freepik/cookie_studio

Istilah "mansplaining" muncul dari esai Rebecca Solnit, 'Men Explain Things to Me,' yang kemudian masuk ke dalam kamus Merriam-Webster pada tahun 2018. Dalam esainya, Solnit menceritakan pengalamannya di sebuah pesta di mana seorang pria menjelaskan padanya tentang buku yang ditulisnya sendiri, meskipun pria tersebut belum pernah membacanya.

Pengalaman ini menggambarkan inti dari mansplaining: seorang pria menjelaskan sesuatu kepada perempuan dengan cara yang meremehkan, tanpa mempertimbangkan pengetahuan perempuan tersebut. Meskipun Solnit sendiri tidak menggunakan kata "mansplaining", esainya menjadi cikal bakal munculnya istilah ini dan memicu perdebatan luas tentang ketidaksetaraan gender dalam komunikasi.

Lily Rothman, dalam tulisannya "Cultural History of Mansplaining," menambahkan bahwa mansplaining adalah 'penjelasan tanpa mempertimbangkan fakta bahwa orang yang dijelaskan sudah lebih tahu daripada yang menjelaskan, sering dilakukan oleh pria kepada wanita' (Rothman, 2012). Meskipun istilah ini baru muncul, perilaku ini sendiri sudah ada selama berabad-abad.

Studi menunjukkan bahwa pria lebih cenderung menyela pembicaraan, terutama dengan cara yang mengganggu (Anderson dan Leaper, 1998). Sementara perempuan lebih sering disela, baik oleh pria maupun perempuan lain (Hancock dan Rubin, 2015). Sayangnya, penelitian seringkali fokus pada aspek bicara yang mudah diukur, bukan pada isi pembicaraan itu sendiri. Oleh karena itu, dibutuhkan lebih banyak penelitian untuk memastikan seberapa sering perilaku meremehkan dalam mansplaining terjadi dan seberapa besar kaitannya dengan gender (Zimmer, 2013).

Ciri-ciri Mansplaining

Mengenal rekan kerja (Foto: Freepik.com)

Berikut beberapa ciri khas mansplaining:

  1. Penjelasan yang meremehkan dan merendahkan.
  2. Menganggap perempuan tidak mengerti, meskipun sebenarnya perempuan tersebut sudah paham.
  3. Penjelasan yang bertele-tele dan tidak perlu.
  4. Penjelasan yang tidak diminta.
  5. Mengabaikan pendapat dan pengetahuan perempuan.
  6. Nada bicara yang superior dan condescending.

Contoh Mansplaining

illustrasi sibuk mengurusi hidup orang copyright/pexels/Mikhail Nilov

Berikut beberapa contoh perilaku mansplaining:

  1. Seorang pria menjelaskan cara menggunakan aplikasi tertentu kepada seorang perempuan yang sudah berpengalaman menggunakan aplikasi tersebut.
  2. Seorang pria menjelaskan detail teknis suatu pekerjaan kepada seorang perempuan yang sudah ahli di bidangnya.
  3. Seorang pria menjelaskan tentang feminisme kepada seorang aktivis perempuan.
  4. Seorang pria menjelaskan tentang pengalaman pribadi perempuan tersebut kepada perempuan tersebut.

Kenapa Mansplaining Bisa Merugikan?

Ilustrasi perpisahan rekan kerja. (Photo by cottonbro studio/Pexels)

Mansplaining sangat merugikan, terutama bagi perempuan. Perilaku ini memperkuat stereotip gender yang menganggap perempuan kurang berpengetahuan dan kompeten.

Hal ini dapat berdampak negatif pada produktivitas, mengurangi rasa memiliki (sense of belonging) di tempat kerja, dan menghambat kemajuan karier perempuan. Selain itu, mansplaining juga menciptakan lingkungan kerja yang tidak nyaman dan tidak inklusif.

Cara Menghadapi Mansplaining

Ilustrasi Rekan Kerja Credit: unsplash.com/Linkedin

Berikut beberapa cara untuk menghadapi mansplaining:

  1. Tetapkan batasan dan katakan dengan tegas bahwa kamu sudah mengerti.
  2. Tunjukkan bukti bahwa kamu sudah paham topik tersebut.
  3. Jangan ragu untuk menyela dan mengoreksi jika penjelasannya salah.
  4. Ajukan pertanyaan untuk menunjukkan bahwa kamu mendengarkan dan memahami.
  5. Jika situasi memungkinkan, minta orang tersebut untuk menghentikan penjelasannya.
  6. Laporkan perilaku tersebut ke atasan atau pihak berwenang jika terjadi di lingkungan kerja.

Intinya, komunikasi yang sehat adalah komunikasi yang saling menghargai dan menghormati. Hindari mansplaining dan ciptakan lingkungan yang inklusif dan setara bagi semua orang.

 

Sumber: Psychologytoday, merriam-webster, psychology.msu.edu

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya