Optatissimus, Laki-Laki yang Mencari Tuhan

Dalam perjalanan hidupnya dia sebenarnya penuh keberuntungan, Namun ia menganggap hal itu hanya sebuah kebetulan-kebetulan belaka.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 25 Mei 2013, 11:38 WIB
GOD

Citizen6, Jakarta: Niat menonton film ini sebenarnya tidak ada, karena sebelumnya kabar tentang film ini nyaris tak terdengar. Menonton film ini hanya karena judulnya yang unik, Optatissimus, doa pertama. Sehingga sampai film dimulai pun tak punya pengharapan apa-apa, bagus syukur kalau tidak ya risiko. Di teather 5 Blok M Square malam itu yang menonton film ini hanya sembilan orang. Aku kira mereka orang-orang yang terberkati. Seperti Andreas (Rio Dewanto) yang sebenarnya adalah laki-laki yang terberkati, namun ia tak mengenali tanda-tanda yang dikirimkan Tuhan kepadanya. Dalam perjalanan hidupnya dia sebenarnya penuh keberuntungan, Namun ia menganggap hal itu hanya sebuah kebetulan-kebetulan belaka. Ia tidak (belum) percaya Tuhan. Dan sutradara Dirmawan Hatta menggambarkan Andreas yang atheis itu dengan piawai. Misalnya Andreas tak pernah mensinisi atau menyinyiri isterinya, pemeluk yang taat.

 

Perjalanan “mencari” Tuhan memang selalu unik, tak pernah ada yang sama satu sama lain. Ada seribu satu jalan atau cara dan tak ada satupun yang salah. Namun tak semua para pencari akan menemukan, apalagi yang tak pernah mencari.Perjalanan Andreas diawali dengan pertanyaan-pertanyaan. Benarkah mobilnya yang tiba-tiba mogok di tepi hutan adalah sebuah kebetulan/ Apakah orang yang tiba-tiba berhenti dan menolongnya juga sebuah kebetulan belaka?Lalu pertanyaan lain, benarkah kita ini tidak akan binasa, lalu kemana orang pergi sesudah mati? Andreas sebenarnya telah ditemukan dengan tanda-tanda itu. Seperti pertemuannya dengan perempuan misterius yang memberinya air ketika ia tersesat di gunung semeru. Atau pertemuannya dengan seeorang yang dianggap gila dan diasingkan ke tengah telaga yang sunyi? Lokasi film ini sebagian besar berada di gunung semeru yang memperlihatkan gambar-gambar indah, penuh kedamaian. Ini kontras dengan suasana Andreas yang “galau” dengan bermacam-macam pertanyaan.Sepanjang film ini, penata musik Risky Summerbee memainkan pianonya dengan memukau. Film ini nyaris datar, tak ada gejolak, nyaris datar namun penuh perenungan yang tidak terjebak pada menceramahi atau khutbah.Untuk mengisi akhir pekan, film ini sebaiknya tidak dilewatkan. Dan semoga tidak segera hilang dari jadwal bioskop. (Karmin Winarta)

*Keterangan foto: https://www.facebook.com/optatissimus*Anda juga bisa mengirimkan artikel disertai foto seputar kegiatan komunitas atau opini anda tentang politik, kesehatan, keuangan, wisata, social media dan lainnya ke citizen6@liputan6.com

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya