Efek Rumah Kaca, Voice of Baceprot dan Sederet Musisi Indonesia Lain Gaungkan Isu Lingkungan di Sonic/panic Jakarta

Deretan musisi Indonesia mulai dari Efek Rumah Kaca, Voice of Baceprot, Barasuara, hingga Petra Sihombing, belum lama ini menyuarakan isu lingkungan dalam acara Sonic/panic Jakarta.

oleh Ruly RiantrisnantoDiterbitkan 01 Maret 2025, 18:00 WIB
Voice of Baceprot di acara Sonic Panic Jakarta pada 25 Februari 2025. (Dok. via Contentro)

Liputan6.com, Jakarta Gelaran sonic/panic Jakarta sukses digelar di M Bloc Space, menghadirkan perpaduan antara musik dan aksi nyata dalam merespons krisis lingkungan. Acara ini merupakan kolaborasi antara IKLIM (The Indonesian Climate Communications, Arts & Music Lab) dan M Bloc Entertainment, yang bertujuan mengamplifikasi urgensi perlindungan lingkungan di tengah kebijakan yang dinilai kurang berpihak pada keberlanjutan.

Dengan tajuk Hutan Punah, Kota Musnah, lebih dari 500 penonton turut hadir menyaksikan penampilan musisi seperti Efek Rumah Kaca ft. Adrian Yunan, Barasuara, Endah N Rhesa, Voice of Baceprot, Navicula, REP & Tuantigabelas, Matter Mos, Petra Sihombing, Made Mawut, dan Bachoxs.

Tak sekadar panggung hiburan, sonic/panic Jakarta menjadi ruang bagi para musisi untuk menyuarakan keresahan mereka terhadap situasi sosial-politik yang kian hangat di Indonesia. Di tengah meningkatnya pembatasan kebebasan berekspresi, para musisi menjadikan lagu-lagu mereka sebagai bentuk perlawanan dan solidaritas atas berbagai isu yang dihadapi masyarakat.

Dari segi musikalitas, acara ini menampilkan kolaborasi lintas genre yang dinamis. Efek Rumah Kaca menghadirkan reuni penuh nostalgia dengan mantan personelnya, Adrian Yunan, sebelum kemudian berkolaborasi dengan Robi Navicula, Iga Massardi, Petra Sihombing, dan Endah Widiastuti dari Endah N Rhesa. Sementara itu, Petra Sihombing dan Matter Mos juga mendapat kejutan dengan kehadiran Teddy Adhitya di atas panggung.


Komentar Iga Massardi

Acara Sonic Panic Jakarta pada 25 Februari 2025. (Dok. via Contentro)

Saat ditanya mengenai pengaruh sonic/panic terhadap proses kreatifnya, Iga Massardi mengungkapkan, “Rasanya sangat berbeda, ya. Dalam proses menciptakan lagu, saya semakin terdorong untuk membahas hal-hal yang lebih nyata dan memiliki dasar yang kuat. Hal ini juga berpengaruh pada album terbaru saya."

"Secara artistik, saya ingin menyampaikan pesan, tetapi dari sisi humanis, saya semakin menyadari bahwa setiap hal yang kita konsumsi dan gunakan sehari-hari memiliki dampak. Kesadaran ini membuat saya lebih berhati-hati dan bijak dalam memilih produk yang saya gunakan,” sambungnya mengutip keterangan tertulis, Jumat (28/2/2025).

 


Musik sebagai Perlawanan terhadap Krisis Iklim

Acara Sonic Panic Jakarta pada 25 Februari 2025. (Dok. via Contentro)

Sonic/panic Jakarta hadir di tengah kekhawatiran terhadap kebijakan yang berisiko memperparah eksploitasi sumber daya alam, deforestasi, serta ancaman terhadap ruang hidup masyarakat adat dan ekosistem perkotaan.

Lanjut Baca:

Isu pembatasan kebebasan berekspresi di ranah musik juga menjadi perhatian, dengan munculnya tagar #IndonesiaGelap sebagai bentuk keresahan publik terhadap situasi sosial-politik saat ini. Selain menyuarakan urgensi perlindungan lingkungan, penyelenggara sonic/panic Jakarta juga menerapkan langkah-langkah berkelanjutan dalam acara ini. Beberapa inisiatif yang dilakukan antara lain menyediakan water refill station untuk mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai, melarang penggunaan kemasan plastik sekali pakai baik bagi musisi maupun pengunjung, serta menyajikan makanan dan minuman dalam wadah yang dapat didaur ulang. Bahkan, gelang panitia dibuat dari kain perca sebagai bentuk komitmen terhadap pengurangan limbah. Langkah-langkah ini menegaskan bahwa industri musik dapat berperan dalam menciptakan ekosistem yang lebih ramah lingkungan, sekaligus menginspirasi praktik berkelanjutan dalam penyelenggaraan acara musik lainnya.  

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya