Tradisi Nyadran, Momen Silaturahmi dan Budaya Masyarakat Jawa Jelang Ramadan

oleh Helmi FithriansyahDiterbitkan 18 Februari 2025, 11:00 WIB
Tradisi Nyadran, Momen Silaturahmi dan Tradisi di Masyarakat Jawa Jelang Ramadan
Secara umum, tradisi Nyadran dilaksanakan pada bulan Ruwah untuk menyambut kedatangan bulan suci Ramadan. Nyadran merupakan sebuah tradisi yang mengakar kuat dalam kebudayaan masyarakat Jawa, ketika orang-orang berkumpul untuk mendoakan para leluhur serta kerabat mereka yang sudah meninggal dunia sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Nyadran tercipta melalui proses akulturasi antara budaya Jawa dan Islam. Tradisi Nyadran dilakukan di bulan Sya'ban atau Ruwah untuk mengucapkan rasa syukur dengan mengunjungi makam leluhur serta kerabat yang ada di suatu kelurahan atau desa. Nyadran juga menjadi sarana melestarikan tradisi dan budaya gotong royong sekaligus upaya menjaga keharmonisan masyarakat melalui kegiatan kembul bujono (makan bersama).
Umat Muslim berdoa bersama saat ritual tradisi Nyadran di depan sebuah pemakaman umum di Boyolali, Jawa Tengah, Senin 17 Februari 2025. (DEVI RAHMAN/AFP)
Nyadran merupakan sebuah tradisi yang mengakar kuat dalam kebudayaan masyarakat Jawa, ketika orang-orang berkumpul untuk mendoakan para leluhur serta kerabat mereka yang sudah meninggal dunia sebelum memasuki bulan suci Ramadan. (DEVI RAHMAN/AFP)
Nyadran tercipta melalui proses akulturasi antara budaya Jawa dan Islam. (DEVI RAHMAN/AFP)
Tradisi Nyadran dilakukan di bulan Sya'ban atau Ruwah untuk mengucapkan rasa syukur dengan mengunjungi makam leluhur serta kerabat yang ada di suatu kelurahan atau desa. (DEVI RAHMAN/AFP)
Nyadran menjadi sarana melestarikan tradisi dan budaya gotong royong sekaligus upaya menjaga keharmonisan masyarakat melalui kegiatan kembul bujono (makan bersama). (DEVI RAHMAN/AFP)
Secara umum, Nyadran dilaksanakan pada bulan Ruwah untuk menyambut kedatangan bulan suci Ramadan. (DEVI RAHMAN/AFP)

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya