[VIDEO] Segudang Prestasi Angkie Yudistia Meski Tuna Rungu

Meski menyandang tuna rungu, Angkie Yudistia mampu mengukir segudang prestasi dan memiliki tutur kata yang inspiratif.

oleh Addy HasanDiterbitkan 20 Mei 2013, 14:01 WIB

Meski menyandang tuna rungu saat usia belia, namun Angkie Yudistia tak pernah mengumbar kesedihan. Segudang prestasi dan tutur kata yang menggelora menjadikan gadis kelahiran 5 Juni 1987 itu menjadi nominator Liputan 6 Award 2013.

Angkie tak pernah tahu secara pasti penyebab kerusakan indera pendengarannya. Ia mengatakan, belum ada penelitian yang valid yang dapat menyingkap penyebabnya. Dugaan terbesar, ia mengalami efek samping dari tingginya konsumsi antibiotik. Semasa kecil ia mendapat daerah endemik malaria dan sering diberi antibiotik ketika demam.

Orangtua Angkie menempuh banyak cara untuk mengusahakan kesembuhan Angkie. Ia pernah diperiksakan ke dokter di dalam maupun luar negeri, bahkan ke pengobatan alternatif. Tak satupun cara itu berhasil membawa Angkie keluar dari dunia yang senyap. Kenyataan itu tak membuat Angkie tumbuh menjadi gadis yang minder. Ia belajar untuk berkomunikasi dengan cara lain.

"Saya membaca bibir orang untuk bisa mengikuti pembicaraan," ujar Angkie di Studio SCTV, Senayan City, Jakarta, Senin (20/5/2013).

Ketegaran Angkie terbentuk seiring waktu. Saat usia remaja, Angkie mulai menganggap gangguan pendengaran sebagai bagian dari hidupnya. Satu per satu kelebihannya muncul dan membuat orang tak lagi terfokus pada kelemahannya. Pada usia 21 tahun, perempuan yang amat tertolong dengan alat bantu dengar ini berhasil menjadi finalis None Jakarta 2008 mewakili Jakarta Barat. Di tahun yang sama, dia juga terpilih sebagai The Most Fearless Female Cosmopolitan 2008.

Lulus dengan gemilang dari London School of Public Relations pada 2009, Angkie sempat bekerja di bagian Marketing Communication IBM Indonesia. Setahun berikutnya ia bergabung dengan corporate public relations PT Geo Link Nusantara. Angkie kini sibuk menjadi penulis dan pembicara di berbagai forum. Buku terbarunya bertajuk 'Invauble Experience to Pursue Drea : Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas' (2001).

"Lewat buku ini saya hanya ingin berbagi warna-warni pengalaman dengan menoleh ke belakang dan melihat proses naik dan turun sepanjang perjalanan hidup saya sebagai perempuan Tuna Rungu,' ujar Angkie yang dikutip dari situs angkieyudistia.com.

Dengan begitu, semoga pandangan teman-teman mengenai Tuna Rungu bisa berubah dan akhirnya bersedia menyatakan semua manusia itu sama. "Percayalah, kita semua adalah bagian dari masa depan," tukas Angkie. (Adi/*)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya