Liputan6.com, Jakarta: Parlemen Filipina secara resmi meminta bantuan pemerintah Indonesia untuk menangkap buronan Faturrahman Al-Ghozi yang melarikan diri dari Penjara Camp Crime, Manila, dua pekan silam. Permintaan tersebut disampaikan, karena Filipina belum menemukan titik terang tentang keberadaan terpidana 15 tahun penjara karena kasus pengeboman itu. Demikian dikatakan Juru Bicara Parlemen Filipina Jose de Venecia setelah menemui pimpinan MPR di Jakarta, Selasa (22/7).
Menurut Jose, pemerintahnya mengharapkan kerja sama dengan lembaga intelijen Indonesia dan Polri untuk kembali menangkap pria yang diduga anggota Jamaah Islamiyah, sebuah organisasi teroris. Lelaki kelahiran Kampung Mejorejo, Madiun, Jawa Timur, itu diciduk di Distrik Quiapo, Manila, Januari 2002, karena kepemilikan bahan peledak ilegal. Saat ini Al-Ghozi masuk dalam daftar pencarian orang Kepolisian Filipina. Pemerintah setempat juga menjanjikan hadiah 10 juta peso atau sekitar Rp 1,5 miliar bagi siapa pun yang mampu menangkapnya [baca: Filipina Membentuk 63 Tim Pelacak Al-Ghozi].
Belum lama berselang, anggota Kepolisian Pelaksana Pengamanan Pelabuhan Manado, Sulawesi Utara, menjaga ketat pelabuhan selama 24 jam untuk mengantisipasi kemungkinan masuknya Al-Ghozi. Besar kemungkinan Al-Ghozi masuk ke Indonesia melalui pulau-pulau di gugusan Kepulauan Sangir Talaud, seperti Tagulandang dan Siau yang memang berbatasan langsung dengan Filipina [baca: Mengantisipasi Al-Ghozi Masuk, Pelabuhan Manado Diperketat]. Perkiraan ini didasarkan bahwa Al-Ghozi pernah menjadikan jalur tersebut sebagai transit sebelum masuk ke Filipina.(COK/Olivia Rosalia dan Eko Purwanto)
Menurut Jose, pemerintahnya mengharapkan kerja sama dengan lembaga intelijen Indonesia dan Polri untuk kembali menangkap pria yang diduga anggota Jamaah Islamiyah, sebuah organisasi teroris. Lelaki kelahiran Kampung Mejorejo, Madiun, Jawa Timur, itu diciduk di Distrik Quiapo, Manila, Januari 2002, karena kepemilikan bahan peledak ilegal. Saat ini Al-Ghozi masuk dalam daftar pencarian orang Kepolisian Filipina. Pemerintah setempat juga menjanjikan hadiah 10 juta peso atau sekitar Rp 1,5 miliar bagi siapa pun yang mampu menangkapnya [baca: Filipina Membentuk 63 Tim Pelacak Al-Ghozi].
Belum lama berselang, anggota Kepolisian Pelaksana Pengamanan Pelabuhan Manado, Sulawesi Utara, menjaga ketat pelabuhan selama 24 jam untuk mengantisipasi kemungkinan masuknya Al-Ghozi. Besar kemungkinan Al-Ghozi masuk ke Indonesia melalui pulau-pulau di gugusan Kepulauan Sangir Talaud, seperti Tagulandang dan Siau yang memang berbatasan langsung dengan Filipina [baca: Mengantisipasi Al-Ghozi Masuk, Pelabuhan Manado Diperketat]. Perkiraan ini didasarkan bahwa Al-Ghozi pernah menjadikan jalur tersebut sebagai transit sebelum masuk ke Filipina.(COK/Olivia Rosalia dan Eko Purwanto)