Liputan6.com, Jakarta Salah satu grup musik internasional yang cukup memberi pengaruh pada perkembangan genre musik metal adalah Sepultura. Band asal Brazil ini berdiri sejak 1984 dengan mengusung sub-genre thrash metal. Para personelnya pun memiliki kharisma yang disegani para metalhead dunia.
Kala berdiri, Sepultura dibentuk oleh dua bersaudara, yakni kakak beradik Max Cavalera (vokal, gitar) dan Igor Cavalera (drum). Mereka lalu merekrut sejumlah personel yang dua di antaranya adalah Paulo Jr (bass, sejak 1984). dan Andreas Kisser (gitar), yang masih bertahan hingga sekarang.
Advertisement
Sayangnya, Sepultura yang identik dengan sosok Max Cavalera dan Igor Cavalera, harus ditinggal pelan-pelan oleh dua kakak beradik ini. Max Cavalera, pertama kali keluar pada Desember 1996 dengan alasan merasa dikhianati oleh rekan-rekannya di Sepultura. Max lalu membentuk band Soulfly.
Lalu pada 2006, Igor Cavalera mengikuti jejak kakaknya meninggalkan Sepultura. Keluarnya kakak beradik pendiri Sepultura ini rupanya membuahkan terbentuknya Cavalera Conspiracy pada 2007. Mulanya, band ini bernama Inflikted, namun diganti karena alasan legal.
Terbentuknya Cavalera Conspiracy menjadi babak baru hubungan mereka dengan Sepultura yang masih memanas. Meskipun tak saling menjatuhkan di depan media, namun atmosfer itu terasa dari tidak pernahnya Max dan Igor bertemu lagi dengan Sepultura di atas panggung maupun acara musik yang sama.
Awal Mula Masalah Max dan Sepultura
Menghimpun berbagai sumber, alasan di balik keluarnya Max Cavalera terbilang sangat memilukan. Pada Agustus 1996, anak tiri Max Cavelera, Dana Wells, tewas dalam sebuah kecelakaan mobil. Max tentunya sangat terpukul hingga ia mengambil cuti singkat untuk menghadiri pemakaman putranya itu.
Namun, hal tersebut justru memicu ketegangan internal dalam band perihal manajer seolah memperlakukan Max secara istimewa dibandingkan para anggota band lainnya. Alhasil, para personel yang lain berusaha ingin memecat manajer mereka.
Max merasa hal tersebut merupakan sebuah pengkhianatan lantaran manajer Sepultura saat itu adalah istri Max sekaligus ibu Dana. Percakapan mengenai hal ini terjadi tepat setelah konser mereka pada 16 Desember 1996 di London yang direkam untuk album live Under a Pale Grey Sky.