2 Bomber Boston Incar Ledakkan Bom di Times Square New York

Kedua pelaku berencana menuju New York setelah membajak mobil dan sopirnya di Boston Kamis malam pekan lalu.

oleh Liputan6Diterbitkan 26 April 2013, 03:49 WIB
Dua bersaudara bomber Tamerlan dan Dzhokhar Tsarnaev tak merasa cukup meledakkan dua bom di ajang Boston Marathon 15 April 2013. Yang menewaskan 3 orang dan mencederai 260 lainnya.

Menurut Walikota New York City, Michael Bloomberg keduanya juga berencana meledakkan sisa bahan peledak yang mereka miliki di Times Square --persimpangan jalan utama di Manhattan.

Walikota Bloomberg mengatakan, Dzhokhar tersangka yang masih hidup, mengaku pada FBI bahwa ia dan kakaknya "secara spontan" menentukan New York adalah sasaran selanjutnya.

"Malam tadi kami mendapat informasi dari FBI bahwa tersangka yang selamat mengungkap, New York City ada di daftar sasaran mereka selanjutnya," kata Walikota Bloomberg dalam konferensi pers di balai kota, seperti dimuat BBC, Kamis (25/4/2013).

"Dia dan kakaknya berniat menyetir ke New York dan meledakkan bahan-bahan peledak itu di Times Square."

Bloomberg memuji penegak hukum Massachusetts karena berhasil menghentikan tersangka. "Kami tahu mereka memiliki kapasitas untuk melakukan serangan".

Apalagi, Dzhokhar Tsarnaev diketahui pergi ke New York, setidaknya sekali musim gugur lalu.

Sebelumnya, Komisioner Polisi, Raymond Kelly mengatakan bahwa tersangka masih punya bom presto dan lima bom pipa.

Kedua pelaku berencana menuju New York setelah membajak mobil dan sopirnya di Boston Kamis malam pekan lalu.

"Rencana itu akhirnya buyar setelah mereka menyadari bahwa kendaraan yang mereka bajak hanya punya sedikit bahan bakar. Mereka meminta sopirnya berhenti di SPBU terdekat," kata Kelly, menambahkan saat itulah, sopir itu melarikan diri dan melapor ke polisi.

Aparat langsung mencegat dua bersaudara itu di dalam van curiannya, terlibat baku tembak yang menewaskan Tamerlan Tsarnaev.  

Meski aksi itu hanya terjadi di Boston, belum sempat ke New York, masih ada pernyataan besar, apakah aparat AS sudah melakukan antisipasi cukup untuk mencegah aksi bom.

Sebab, aparat keamanan Rusia telah mengontak FBI pada 2011, atas kecurigaan Tamerlan Tsarnaev diduga menjadi anggota sebuah gerakan Islam radikal. Namun karena tak ditemukan cukup bukti, kasus ditutup.

Nama Tamerlan ditambahkan dalam daftar pengawasan 18 bulan lalu, atas permintaan CIA.

Para pejabat AS mengakui sebelumnya komunitas intelijen mereka tidak memiliki informasi tentang ancaman terkait Boston Marathon. Informasi yang terbukti salah. (Ein)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya