Piringan hitam punya peluang untuk kembali hidup di dunia musik Indonesia. Kendati, masa jaya pelat hitam tersebut di Indonesia berakhir di penghujung dekade 70-an seiring banyaknya penggunaan pita kaset.
"Kita tidak pernah bisa menduga kalau siklus itu kembali," ujar mantan wartawan dan pengamat musik Bens Leo saat Dialog Industri Musik yang digelar di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Kamis (18/4/2013) kemarin.
"Kalau bisa ada rekaman ulang kemudian memakai piringan hitam, itu sudah cukup menarik," imbuh pemilik nama asli Benny Hadi Utomo. Bens Leo mencontohkan suatu toko CD Irlandia yang pernah dikunjunginya. "Ada piringan hitam yang penjualannya hampir sama dengan CD."
Band asal Bali Superman Is Dead juga mengeluarkan piringan hitam. S.I.D merilis album dalam format vinyl tahun lalu yang berisi delapan lagu terbaik mereka dari tahun 1997-2009.
Menurut lelaki kelahiran Pasuruan, Jawa Timur, 8 Agustus 1952 tersebut, bila piringan hitam hadir kembali, maka akan semakin memperbesar kemungkinan para seniman lainnya berkreasi. "Misalnya perancang grafis yang dapat mencurahkan kreativitas untuk membuat sampul album." tuturnya.
Dia menyebut salah satu fenomena yang dipicu oleh sebuah sampul album, yaitu Abbey Road. Sampul itu bergambar foto para anggota grup The Beatles sedang menyeberangi Abbey Road menjadi fenomenal.
"Kalau ke Inggris belum menyeberangi Abbey Road itu rasanya 'belum ke Inggris'," tukas Bens.
"Kalau versi digital, terkadang lagu hanya ada judul dan penyanyi. Ciptaan siapa nggak tertulis, nah itu yang merugikan pencipta lagu," pungkasnya.(Ant/Ans)
"Kita tidak pernah bisa menduga kalau siklus itu kembali," ujar mantan wartawan dan pengamat musik Bens Leo saat Dialog Industri Musik yang digelar di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Kamis (18/4/2013) kemarin.
"Kalau bisa ada rekaman ulang kemudian memakai piringan hitam, itu sudah cukup menarik," imbuh pemilik nama asli Benny Hadi Utomo. Bens Leo mencontohkan suatu toko CD Irlandia yang pernah dikunjunginya. "Ada piringan hitam yang penjualannya hampir sama dengan CD."
Band asal Bali Superman Is Dead juga mengeluarkan piringan hitam. S.I.D merilis album dalam format vinyl tahun lalu yang berisi delapan lagu terbaik mereka dari tahun 1997-2009.
Menurut lelaki kelahiran Pasuruan, Jawa Timur, 8 Agustus 1952 tersebut, bila piringan hitam hadir kembali, maka akan semakin memperbesar kemungkinan para seniman lainnya berkreasi. "Misalnya perancang grafis yang dapat mencurahkan kreativitas untuk membuat sampul album." tuturnya.
Dia menyebut salah satu fenomena yang dipicu oleh sebuah sampul album, yaitu Abbey Road. Sampul itu bergambar foto para anggota grup The Beatles sedang menyeberangi Abbey Road menjadi fenomenal.
"Kalau ke Inggris belum menyeberangi Abbey Road itu rasanya 'belum ke Inggris'," tukas Bens.
"Kalau versi digital, terkadang lagu hanya ada judul dan penyanyi. Ciptaan siapa nggak tertulis, nah itu yang merugikan pencipta lagu," pungkasnya.(Ant/Ans)