Liputan6.com, Jakarta: Di sini segalanya bermula... Begitulah keyakinan masyarakat kota tua Melaka, di belahan barat Malaysia. Maklumlah. Di kawasan seluas 1.650 kilometer persegi itu, sederet bukti sejarah berdirinya Kerajaan Malaysia menjadi saksi bisu yang siap dikunjungi sampai saat ini. Tak heran pula bila Melaka lebih dikenal sebagai Kota Sejarah di Negeri Jiran, yang letaknya tak terlalu jauh dari Pulau Bengkalis, di belahan timur Provinsi Riau. Kota tua Melaka menjadi potret perubahan peradaban pembentuk kultur dan struktur masyarakat Malaysia.
Berdasarkan catatan sejarah, Kesultanan Melaka didirikan oleh Parameswara pada 1396. Di wilayah kerajaan sosok yang juga dikenal sebagai Raja Iskandar itulah, pusat perdagangan antarnegara mulai dirintis, dan perlahan tapi pasti, mengukir sejarah bagi bangsa Melayu di Selat Melaka. Sejumlah pendatang hadir ke bandar maritim yang bermula dari pemerintahan Kerajaan Melayu Temasik (Singapura), dari berbagai belahan dunia: Cina, Arab, Jepang, India, Afrika Selatan, Portugis, Belanda, dan Inggris. Sejak itu pula Melaka yang berarti "tempat sang baginda bersandar" dikenal sebagai lambang semangat perpaduan antarbangsa yang telah ditempa melalui ukiran dan tenunan sejarah nan unik.
Pada 1511, Kesultanan Melaka jatuh ke tangan Portugis, dan kemudian direbut Belanda pada 1641 lewat peperangan yang sengit. Pada 1795, Melaka diserahkan kepada Inggris dengan tujuan supaya tak jatuh ke tangan Prancis, semasa Belanda dilanda peperangan melawan Napoleon Bonaparte. Selepas itu, Melaka dikembalikan kepada Belanda pada 1818 di bawah Perjanjian Vienna. Belakangan, posisi itu bertukar kembali melalui perjanjian menukar wilayah tersebut dari tangan Belanda dengan daerah Bengkulu yang dipegang Inggris. Terhitung sejak 1826, Melaka bersama-sama Singapura diperintah Inggris berdasarkan Perjanjian Selat di Calcuta, India.
Selepas Perang Dunia II, protes anti-koloni merebak di seluruh negara persemakmuran Inggris. Buntutnya, dibuatlah perjanjian kemerdekaan dengan nama Perisytiharan Kemerdekaan oleh Tunku Abdul Rahman Putra, Perdana Menteri Malaysia yang pertama di Padang Pahlawan di Bandar Hilir, Melaka, 20 Februari 1956. Sejak itulah, Malaysia menjadi negara merdeka, dan menyisakan Melaka dengan sederet guratan sejarahnya.
Berbagai bangunan tua bersejarah masih terawat sampai sekarang dan menjadi satu dari sederet aset wilayah di bidang pariwisata daerah dengan pusat konsentrasi di Bandar Melaka. Mulai dari bangunan Stadhuys, yang berdiri pada 1650, sebagai penempatan resmi Gubernur Belanda. Kini, bangunan yang mengusung seni arsitektur khas Belanda berwarna merah jambu itu diubah fungsinya menjadi Muzium Sejarah dan Etnografi. Di dalamnya terdapat sejumlah pakaian pengantin tradisional dan artifak dari zaman kejayaan Melaka.
Pemerintah Belanda tampaknya penuh semangat membangun bukti sejarah. Selain Stadhuys, mereka juga membangun Gereja Christ. Bangunan berwarna merah terang berkat batu bata khusus yang dibawa dari Negeri Kincir Angin itu menampilkan beragam mahakarya seni bernilai tinggi. Di antaranya struktur bangunan tanpa sambungan, kitab Injil tembaga, plus batu nisan bertuliskan dalam bahasa Armenia, serta lukisan "Perjamuan Terakhir" pada ubin bangunan.
Kolonial Belanda pun mendirikan Gereja St. Peter pada 1710. Gereja ini adalah bangunan Roman Katolik tertua di Malaysia dan dibangun di atas tanah milik seorang warga negara Belanda, Maryber Franz Amboer. Dinding depan dan asesorisnya menampilkan kombinasi arsitektur Timur dan Barat. Loncengnya sengaja dibawa dari Goa pada 1608.
Untuk memperkuat posisi di wilayah jajahannya, Belanda mendirikan kota wilayah monopoli cukai di daerah Naning. Namun sejak kekalahan dalam peperangan Naning (1831-1832) melawan rakyat pribumi, Kota Belanda akhirnya ditinggalkan. Setelah itu, mereka mendirikan benteng di bekas Gereja St. John. Di benteng tersebut terdapat sebuah meriam besar yang menghadap ke arah arah darat. Alasannya, pada masa itu serangan musuh ke Malaka lebih banyak datang dari daratan ketimbang wilayah perairan sekitar.
Selain Belanda, Portugis pun sempat bertandang ke Melaka. Pemerintahan kolonial di sana mendirikan sebuah gereja melalui Kapten Duarte Coelho. Setelah proses pergantian kepemimpinan di tangan Belanda, bangunan tadi berubah nama menjadi Gereja St. Paul Hill. Nama bangunan tempat persemayaman St. Francis Xavier dari Portugis itu sempat dijuluki sebagai "Gereja Our Lady of The Hill". Belakangan, jasad Xavier yang sudah berada di gereja itu sejak 1553 akhirnya dibawa ke Goa, India.
Sebenarnya, Portugis pun mendirikan gereja khusus yang dinamakan Gereja St. Francis Xavier, yang didirikan pada 1849 oleh Paderi Farve, seorang warga Prancis. Menara gereja dibangun sebagai peringatan terhadap sosok Xavier. Dia dikenal sebagai misionaris penyebar agama Katolik di kawasan Asia Tenggara pada abad ke-16.
Portugis tak hanya menyisakan bukti sejarah bernapaskan religi. Pemerintah kolonial di Melaka juga membangun sebuah Mercu Suar Kota A`Famosa yang letaknya bersebelahan dengan Stadhuys pada 1511. Bangunan itu didirikan sebagai kubu pertahanan. Namun saat Belanda menguasai wilayah tersebut, mercu suar tadi tak terawat. Bahkan A`Famosa nyaris dihancurkan pemerintahan Inggris. Tapi berkat campur tangan Stamford Rafles pada 1808, A`Famosa berhasil dipertahankan, dan masih dapat dikunjungi hingga sekarang.
Saat ini, sektor pariwisata di Melaka pun menawarkan sejumlah museum bagi turis mancanegara. Di antaranya Muzium Belia, yang memaparkan sejarah kebangsaan dan antarbangsa di Malaysia. Lantas ada Muzium Rakyat yang memamerkan proses pertumbuhan sosial ekonomi Malaysia, sejak zaman Melaka sampai saat ini. Sementara sebagai bukti masyarakat maritim, pemerintah daerah setempat mendirikan Muzium Samudera yang dibuat dengan bentuk mirip "Flora De La Mar", sebuah kapal Portugis yang karam di pinggir pantai Melaka. Di museum itu, para pengunjung bisa menyimak sejarah kejayaan Kesultanan Melayu pada abad ke-14, di era Portugis, Belanda, dan terakhir Inggris.
Sajian tradisional yang tak kalah ketinggalan adalah wisata berjalan-jalan dengan menaiki becak. Ada anggapan, cara terbaik menyimak Melaka adalah bertamasya naik becak. Sebab kendaraan roda tiga itu bakal membawa Anda melalui jalan dan lorong di seluruh areal bandar bersejarah itu, mulai dari pangkalannya di dekat Stadhuys.
Yang terakhir adalah menumpang kereta lembu, yang dipercaya sebagai alat transportasi orang-orang kaya di Melaka, pada masa silam. Kereta lembu ala Melaka tampil dengan hiasan atap berbentuk tanduk lembu penuh warna-warni. Nah, tertarik melawat ke Melaka, kisah sejarah Jiran negeri serumpun?(BMI/Dian Wignyo dan Binsar Rahardian)
Berdasarkan catatan sejarah, Kesultanan Melaka didirikan oleh Parameswara pada 1396. Di wilayah kerajaan sosok yang juga dikenal sebagai Raja Iskandar itulah, pusat perdagangan antarnegara mulai dirintis, dan perlahan tapi pasti, mengukir sejarah bagi bangsa Melayu di Selat Melaka. Sejumlah pendatang hadir ke bandar maritim yang bermula dari pemerintahan Kerajaan Melayu Temasik (Singapura), dari berbagai belahan dunia: Cina, Arab, Jepang, India, Afrika Selatan, Portugis, Belanda, dan Inggris. Sejak itu pula Melaka yang berarti "tempat sang baginda bersandar" dikenal sebagai lambang semangat perpaduan antarbangsa yang telah ditempa melalui ukiran dan tenunan sejarah nan unik.
Pada 1511, Kesultanan Melaka jatuh ke tangan Portugis, dan kemudian direbut Belanda pada 1641 lewat peperangan yang sengit. Pada 1795, Melaka diserahkan kepada Inggris dengan tujuan supaya tak jatuh ke tangan Prancis, semasa Belanda dilanda peperangan melawan Napoleon Bonaparte. Selepas itu, Melaka dikembalikan kepada Belanda pada 1818 di bawah Perjanjian Vienna. Belakangan, posisi itu bertukar kembali melalui perjanjian menukar wilayah tersebut dari tangan Belanda dengan daerah Bengkulu yang dipegang Inggris. Terhitung sejak 1826, Melaka bersama-sama Singapura diperintah Inggris berdasarkan Perjanjian Selat di Calcuta, India.
Selepas Perang Dunia II, protes anti-koloni merebak di seluruh negara persemakmuran Inggris. Buntutnya, dibuatlah perjanjian kemerdekaan dengan nama Perisytiharan Kemerdekaan oleh Tunku Abdul Rahman Putra, Perdana Menteri Malaysia yang pertama di Padang Pahlawan di Bandar Hilir, Melaka, 20 Februari 1956. Sejak itulah, Malaysia menjadi negara merdeka, dan menyisakan Melaka dengan sederet guratan sejarahnya.
Berbagai bangunan tua bersejarah masih terawat sampai sekarang dan menjadi satu dari sederet aset wilayah di bidang pariwisata daerah dengan pusat konsentrasi di Bandar Melaka. Mulai dari bangunan Stadhuys, yang berdiri pada 1650, sebagai penempatan resmi Gubernur Belanda. Kini, bangunan yang mengusung seni arsitektur khas Belanda berwarna merah jambu itu diubah fungsinya menjadi Muzium Sejarah dan Etnografi. Di dalamnya terdapat sejumlah pakaian pengantin tradisional dan artifak dari zaman kejayaan Melaka.
Pemerintah Belanda tampaknya penuh semangat membangun bukti sejarah. Selain Stadhuys, mereka juga membangun Gereja Christ. Bangunan berwarna merah terang berkat batu bata khusus yang dibawa dari Negeri Kincir Angin itu menampilkan beragam mahakarya seni bernilai tinggi. Di antaranya struktur bangunan tanpa sambungan, kitab Injil tembaga, plus batu nisan bertuliskan dalam bahasa Armenia, serta lukisan "Perjamuan Terakhir" pada ubin bangunan.
Kolonial Belanda pun mendirikan Gereja St. Peter pada 1710. Gereja ini adalah bangunan Roman Katolik tertua di Malaysia dan dibangun di atas tanah milik seorang warga negara Belanda, Maryber Franz Amboer. Dinding depan dan asesorisnya menampilkan kombinasi arsitektur Timur dan Barat. Loncengnya sengaja dibawa dari Goa pada 1608.
Untuk memperkuat posisi di wilayah jajahannya, Belanda mendirikan kota wilayah monopoli cukai di daerah Naning. Namun sejak kekalahan dalam peperangan Naning (1831-1832) melawan rakyat pribumi, Kota Belanda akhirnya ditinggalkan. Setelah itu, mereka mendirikan benteng di bekas Gereja St. John. Di benteng tersebut terdapat sebuah meriam besar yang menghadap ke arah arah darat. Alasannya, pada masa itu serangan musuh ke Malaka lebih banyak datang dari daratan ketimbang wilayah perairan sekitar.
Selain Belanda, Portugis pun sempat bertandang ke Melaka. Pemerintahan kolonial di sana mendirikan sebuah gereja melalui Kapten Duarte Coelho. Setelah proses pergantian kepemimpinan di tangan Belanda, bangunan tadi berubah nama menjadi Gereja St. Paul Hill. Nama bangunan tempat persemayaman St. Francis Xavier dari Portugis itu sempat dijuluki sebagai "Gereja Our Lady of The Hill". Belakangan, jasad Xavier yang sudah berada di gereja itu sejak 1553 akhirnya dibawa ke Goa, India.
Sebenarnya, Portugis pun mendirikan gereja khusus yang dinamakan Gereja St. Francis Xavier, yang didirikan pada 1849 oleh Paderi Farve, seorang warga Prancis. Menara gereja dibangun sebagai peringatan terhadap sosok Xavier. Dia dikenal sebagai misionaris penyebar agama Katolik di kawasan Asia Tenggara pada abad ke-16.
Portugis tak hanya menyisakan bukti sejarah bernapaskan religi. Pemerintah kolonial di Melaka juga membangun sebuah Mercu Suar Kota A`Famosa yang letaknya bersebelahan dengan Stadhuys pada 1511. Bangunan itu didirikan sebagai kubu pertahanan. Namun saat Belanda menguasai wilayah tersebut, mercu suar tadi tak terawat. Bahkan A`Famosa nyaris dihancurkan pemerintahan Inggris. Tapi berkat campur tangan Stamford Rafles pada 1808, A`Famosa berhasil dipertahankan, dan masih dapat dikunjungi hingga sekarang.
Saat ini, sektor pariwisata di Melaka pun menawarkan sejumlah museum bagi turis mancanegara. Di antaranya Muzium Belia, yang memaparkan sejarah kebangsaan dan antarbangsa di Malaysia. Lantas ada Muzium Rakyat yang memamerkan proses pertumbuhan sosial ekonomi Malaysia, sejak zaman Melaka sampai saat ini. Sementara sebagai bukti masyarakat maritim, pemerintah daerah setempat mendirikan Muzium Samudera yang dibuat dengan bentuk mirip "Flora De La Mar", sebuah kapal Portugis yang karam di pinggir pantai Melaka. Di museum itu, para pengunjung bisa menyimak sejarah kejayaan Kesultanan Melayu pada abad ke-14, di era Portugis, Belanda, dan terakhir Inggris.
Sajian tradisional yang tak kalah ketinggalan adalah wisata berjalan-jalan dengan menaiki becak. Ada anggapan, cara terbaik menyimak Melaka adalah bertamasya naik becak. Sebab kendaraan roda tiga itu bakal membawa Anda melalui jalan dan lorong di seluruh areal bandar bersejarah itu, mulai dari pangkalannya di dekat Stadhuys.
Yang terakhir adalah menumpang kereta lembu, yang dipercaya sebagai alat transportasi orang-orang kaya di Melaka, pada masa silam. Kereta lembu ala Melaka tampil dengan hiasan atap berbentuk tanduk lembu penuh warna-warni. Nah, tertarik melawat ke Melaka, kisah sejarah Jiran negeri serumpun?(BMI/Dian Wignyo dan Binsar Rahardian)