Liputan6.com, Jakarta: Indonesia kehilangan sosiolog kawakan. Profesor Doktor Selo Soemardjan, sang pakar itu, meninggal dunia pada usia 88 tahun, Rabu (11/6) siang, karena serangan jantung. Sebelum mengembuskan napas terakhir, dia sempat dirawat di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta Barat, sejak Senin silam. Saat ini jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka di Jalan Kebumen Nomor 5 Menteng, Jakarta Pusat. Menurut pihak keluarga, almarhum akan dimakamkan di pemakaman keluarga di Yogyakarta, Kamis siang besok. Rencananya, jenazah akan diterbangkan besok pagi.
Selo Soemardjan lahir di Yogyakarta 23 Mei 1915. Menikah dengan Rr. Suleki Brotoatmodjo, ia dianugerahi enam anak. Satu di antaranya, penerbang TNI-AU, yang tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat di sekitar Madiun. Penggemar joging yang di rumah suka mengepel dan mencuci piring itu pergi meninggalkan 16 cucu dan dua cicit.
Pada 1968-1974, Selo Soemardjan menjabat sebagai Dekan pertama pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan Universitas Indonesia (FIPKUI)--sekarang FISIP. Dalam buku Apa & Siapa terbitan Pusat Dokumentasi dan Analisa Tempo 1985-1986, dituliskan bahwa sejak usia 20, Selo bekerja sebagai pegawai Kesultanan Yogyakarta/Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (1935-1949). Pindah ke Jakarta, dia sempat memangku berbagai jabatan dalam pemerintahan. Dia menjadi Sekretaris Wakil Presiden sejak zaman Sri Sultan Hamengkubuwono IX (1973-1978) hingga Umar Wirahadi Kusuma. Dia juga pernah menjabat Asisten Wakil Presiden Urusan Kesejahteraan Rakyat (1978- 1983).
Menurut Hastari Biran, putri keempat begawan sosiologi itu, hingga ajal datang menjelang, sebenarnya ada satu keinginan Selo yang belum terlaksana: Universitas Indonesia harus mampu menyumbangkan sesuatu yang berarti guna memperbaiki kondisi bangsa saat ini. Sementara menurut wartawan senior Rosihan Anwar, Selo amat menguasai masalah kemasyarakatan yang digelutinya hingga akhir hayat.
Semasa hidup, sang sosiolog mengaku tidak pernah ingat jumlah buku yang sudah ditulisnya. Namun perubahan sosial di Yogyakarta diangkat dari disertasinya ketika meraih gelar doktor dari Universitas Cornell, AS, 1959. Dengan gaya yang kocak dan penuh humor, dia selalu sukses membuat pendengar bersemangat mengikuti ceramahnya. Permasalahan yang dilontarkan acap dibumbui contoh konkret menggelitik. Selorohnya membuat kantuk lenyap dan tawa menggemuruh. Dan semua itu sekarang tinggal kenangan. Selamat jalan Pak Selo...(RSB/Retno Pinasti dan Zainal)
Selo Soemardjan lahir di Yogyakarta 23 Mei 1915. Menikah dengan Rr. Suleki Brotoatmodjo, ia dianugerahi enam anak. Satu di antaranya, penerbang TNI-AU, yang tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat di sekitar Madiun. Penggemar joging yang di rumah suka mengepel dan mencuci piring itu pergi meninggalkan 16 cucu dan dua cicit.
Pada 1968-1974, Selo Soemardjan menjabat sebagai Dekan pertama pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan Universitas Indonesia (FIPKUI)--sekarang FISIP. Dalam buku Apa & Siapa terbitan Pusat Dokumentasi dan Analisa Tempo 1985-1986, dituliskan bahwa sejak usia 20, Selo bekerja sebagai pegawai Kesultanan Yogyakarta/Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (1935-1949). Pindah ke Jakarta, dia sempat memangku berbagai jabatan dalam pemerintahan. Dia menjadi Sekretaris Wakil Presiden sejak zaman Sri Sultan Hamengkubuwono IX (1973-1978) hingga Umar Wirahadi Kusuma. Dia juga pernah menjabat Asisten Wakil Presiden Urusan Kesejahteraan Rakyat (1978- 1983).
Menurut Hastari Biran, putri keempat begawan sosiologi itu, hingga ajal datang menjelang, sebenarnya ada satu keinginan Selo yang belum terlaksana: Universitas Indonesia harus mampu menyumbangkan sesuatu yang berarti guna memperbaiki kondisi bangsa saat ini. Sementara menurut wartawan senior Rosihan Anwar, Selo amat menguasai masalah kemasyarakatan yang digelutinya hingga akhir hayat.
Semasa hidup, sang sosiolog mengaku tidak pernah ingat jumlah buku yang sudah ditulisnya. Namun perubahan sosial di Yogyakarta diangkat dari disertasinya ketika meraih gelar doktor dari Universitas Cornell, AS, 1959. Dengan gaya yang kocak dan penuh humor, dia selalu sukses membuat pendengar bersemangat mengikuti ceramahnya. Permasalahan yang dilontarkan acap dibumbui contoh konkret menggelitik. Selorohnya membuat kantuk lenyap dan tawa menggemuruh. Dan semua itu sekarang tinggal kenangan. Selamat jalan Pak Selo...(RSB/Retno Pinasti dan Zainal)