Nukila Evanty dikenal sebagai Chairwoman dari Inisiasi Masyarakat Adat (IMA) dan juga Direktur Eksekutif dari Women Working Group (WWG) mewakili Indonesia dan juga masyarakat sipil di regional Asia Pasifik untuk menjadi panelist dalam acara 2024 Global Summit for Disaster Risk Reduction (DRR) yang berlangsung di Nairobi, Kenya, Afrika, belum lama ini.
Advertisement
Liputan6.com, Jakarta Nukila secara khusus berbicara tentang kearifan lokal yang merupakan bagian dari mitigasi risiko bencana. Dalam pandangan Nukila, local wisdom adalah kearifan, nilai-nilai (etika), jati diri, perilaku hidup, hingga tradisi, yang diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang baik tertulis maupun tidak tertulis yang kemudian dipraktikkan oleh masyarakat adat untuk berinteraksi secara bijaksana dengan lingkungannya sehari-hari.
Dalam konteks Disaster Risk Reduction, kearifan lokal dapat dijadikan pedoman sekaligus kekuatan diri dalam beradaptasi, menata dan membina pengaruh alam dan budaya serta menjadi penggerak dalam pengaturan tatanan kehidupan masyarakat.
Letak Indonesia yang berada pada pertemuan tiga lempeng besar yaitu Pasifik, Eurasia, dan Indo-Australia berdampak pada tingginya potensi bencana khususnya gempa bumi, pergerakan tanah di darat, hingga tsunami.
Kearifan Lokal
Sepanjang tahun 2023, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan terjadi 4.940 bencana alam.
Dalam menghadapi bencana, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia mempunyai kearifan lokal mengatasi bencana yang masih dipertahankan hingga saat ini.
Saat melakukan advokasi dan penguatan kapasitas komunitas diberbagai daerah di Indonesia, Nukila menemukan bahwa setiap daerah memiliki kearifan lokal dalam melihat gejala bencana alam yang akan terjadi.
Menyelamatkan
Misalnya Smong merupakan sebuah kearifan lokal yang menyelamatkan masyarakat Pulau Simeulue, di Aceh dari bencana gempa bumi dan tsunami. Smong sudah menjadi kesenian tradisional yang populer di Simeulue. Melalui kesenian tersebut para orang tua di Kabupaten Simuelue mengajarkan kepada anak-anaknya mengenai kearifan lokal dalam melihat gejala bencana alam yang akan terjadi, seperti gempa bumi dan gelombang laut besar atau tsunami.
Tsunami dikenal dengan nama Smong. Sejak tahun 1907, warga Simeulue sudah mengenal tsunami yang sempat terjadi di daerah Salur, Kecamatan Teupah Selatan, Kabupaten Simeulue. Pengalaman tsunami tersebut kemudian diturunkan melalui syair nyanyian agar cermat dalam membaca tanda alam. Dalam syair tersebut juga dijelaskan ciri-ciri dari gejala bencana alam, seperti guncangan kuat, air laut yang tiba-tiba surut, serta gelombang besar yang akan melanda.