Nukila Evanty Bicara Kearifan Lokal untuk Mitigasi Bencana di Nairobi, Kenya

Nukila Evanty mewakili Indonesia dan juga masyarakat sipil di regional Asia Pasifik.

oleh Aditia SaputraDiperbarui 27 Februari 2024, 22:54 WIB
Nukila Evanty, Chairwoman dari Inisiasi Masyarakat Adat (IMA) dan Direktur Eksekutif dari Women Working Group (WWG) dalam acara 2024 Global Summit for Disaster Risk Reduction yang berlangsung di Nairobi, Kenya, Afrika.

 

 Nukila Evanty dikenal sebagai Chairwoman dari Inisiasi Masyarakat Adat (IMA) dan juga Direktur Eksekutif dari Women Working Group (WWG) mewakili Indonesia dan juga masyarakat sipil di regional Asia Pasifik untuk menjadi panelist dalam acara 2024 Global Summit for Disaster Risk Reduction (DRR) yang berlangsung di Nairobi, Kenya, Afrika, belum lama ini.

Liputan6.com, Jakarta Nukila secara khusus berbicara tentang kearifan lokal yang merupakan bagian dari mitigasi risiko bencana. Dalam pandangan Nukila, local wisdom adalah kearifan, nilai-nilai (etika), jati diri, perilaku hidup, hingga tradisi, yang diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang baik tertulis maupun tidak tertulis yang kemudian dipraktikkan oleh masyarakat adat untuk berinteraksi secara bijaksana dengan lingkungannya sehari-hari.

Dalam konteks Disaster Risk Reduction, kearifan lokal dapat dijadikan pedoman sekaligus kekuatan diri dalam beradaptasi, menata dan membina pengaruh alam dan budaya serta menjadi penggerak dalam pengaturan tatanan kehidupan masyarakat.

Letak Indonesia yang berada pada pertemuan tiga lempeng besar yaitu Pasifik, Eurasia, dan Indo-Australia berdampak pada tingginya potensi bencana khususnya gempa bumi, pergerakan tanah di darat, hingga tsunami.

 


Kearifan Lokal

Nukila Evanty, Chairwoman dari Inisiasi Masyarakat Adat (IMA) dan Direktur Eksekutif dari Women Working Group (WWG) dalam acara 2024 Global Summit for Disaster Risk Reduction yang berlangsung di Nairobi, Kenya, Afrika.

 

 Sepanjang tahun 2023, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan terjadi 4.940 bencana alam.

Dalam menghadapi bencana, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia mempunyai kearifan lokal mengatasi bencana yang masih dipertahankan hingga saat ini.

Saat melakukan advokasi dan penguatan kapasitas komunitas diberbagai daerah di Indonesia, Nukila menemukan bahwa setiap daerah memiliki kearifan lokal dalam melihat gejala bencana alam yang akan terjadi.

 


Menyelamatkan

Misalnya Smong merupakan sebuah kearifan lokal yang menyelamatkan masyarakat Pulau Simeulue, di Aceh dari bencana gempa bumi dan tsunami. Smong sudah menjadi kesenian tradisional yang populer di Simeulue. Melalui kesenian tersebut para orang tua di Kabupaten Simuelue mengajarkan kepada anak-anaknya mengenai kearifan lokal dalam melihat gejala bencana alam yang akan terjadi, seperti gempa bumi dan gelombang laut besar atau tsunami.

Tsunami dikenal dengan nama Smong. Sejak tahun 1907, warga Simeulue sudah mengenal tsunami yang sempat terjadi di daerah Salur, Kecamatan Teupah Selatan, Kabupaten Simeulue. Pengalaman tsunami tersebut kemudian diturunkan melalui syair nyanyian agar cermat dalam membaca tanda alam. Dalam syair tersebut juga dijelaskan ciri-ciri dari gejala bencana alam, seperti guncangan kuat, air laut yang tiba-tiba surut, serta gelombang besar yang akan melanda.

Lanjut Baca:

Terbukti ketika terjadi gempa dan tsunami di pantai barat Aceh dan Sumatra Utara pada 26 Desember 2004 lalu, warga Simeulue yang tinggal di kawasan pesisir tercatat sebagai daerah dengan jumlah korban jiwa paling minim. Tercatat dari 78.000 penduduk Pulau Simeulue, korban jiwa berjumlah tujuh orang. Meskipun mereka tidak memiliki alat atau teknologi untuk memperingatkan terjadinya tsunami, masyarakat Simeulue sudah mampu membaca tanda-tanda alam melalui kearifan lokal yang sudah diwariskan secara turun-temurun. Tak hanya di Aceh, Nukila juga menemukan di Pariaman, Sumatera Barat, ada tradisi yang disebut “hoyak tabuik”. Prosesi mengguncang patung Tabot, serta adanya penanaman tanaman cemara dan mangrove di pesisir pantai, serta keyakinan akan terlindungi oleh pulau-pulau kecil di sekitar laut Kota Pariaman. Tradisi yang dilakukan masyarakat Kota Pariaman sebagai antisipasi dalam mitigasi bencana tsunami dan gempa bumi di kota pariaman

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya