Liputan6.com, Jakarta - Gunung Iliwerung adalah gunung berapi yang berlokasi di bagian selatan dari Pulau Lembata, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia. Gunung Iliwerung merupakan kubah terbuka Gunung Ile Adowajo sebelum gunung besar dengan ketinggian lebih dari 1.000 Mdpl ini meletus hebat hingga membuat sebagian runtuh di sisi tenggaranya.
Sisa-sisa puncak gunung ini berada di utara Gunung Ilewerung yang dikenal dengan Gunung Mauraja, sedangkan Gunung Ile Adowajo ketinggisnnya kini hanya menjadi 300 Mdpl. Di tahun 1870 terjadi letusan di Gunung Ile Adowajo sampai membentuk kubah Gunung Iliwerung yang sekarang ada.
Advertisement
Masih banyak hal mengenai Gunung Iliwerung selain lokasinya. Berikut enam fakta menarik Gunung Iliwerung yang dirangkum Liputan6.com pada Jumat (19/1/2024).
1. Proses Pembentukannya
Mengutip dari laman Gunung Bagging, gunung berapi Iliwerung yang kini berketinggian 1.018 mdpl membentuk ujung salah satu semenanjung utama di bagian selatan Lembata dan terdiri dari beberapa puncak dengan nama berbeda. Kalderanya sendiri dikenal sebagai kaldera Lerek meskipun nama lain digunakan untuk kawasan ini – Gunung Ile Adowajo.
Tampaknya ini juga merujuk pada rentang tersebut secara keseluruhan dan merupakan nama kuno. Gunung Ili Werung atau lebih dikenal sebagai Iliwerung sendiri merupakan kubah dan kawah lava mengesankan.
Kawah tersebut diperkirakan terbentuk dan berkembang sejak tahun 1870. Nama Iliwerung rupanya memiliki arti yang dalam bahasa lokal sebagai gunung berapi baru, lantaran proses pembentukannya itu.
2. Sejarah Letusan
Gunung api ini tercatat muncul sejak 1870 dan terus tumbuh hingga memiliki tinggi 586 Mdpl. Gunung Iliwerung tercatat pernah meletus pada tahun 1870, 1910, 1928, 1948, 1949, 1950, 1951 dan 1999.
Dilihat dari sejarah letusannya, gunung Iliwerung mempunyai perioda letusan terpendek 1 tahun. Sementara periode terpanjang adalah 40 tahun yakni antara tahun 1870-1910, dengan rata-rata adalah 26 tahun.
3. Titik Awal Pendakian
Dibutuhkan sekitar 2 jam untuk mencapai area tersebut melalui jalan darat dari Lewoleba melalui permukaan jalan yang sangat bervariasi dan terkadang menantang. Untuk mengunjungi titik tertinggi untuk menikmati pemandangan spektakuler dari atas dan juga kawasan kawah aktif, dapat dengan mudah dilakukan dalam perjalanan sehari dari Lewoleba.
Namun saat persiapan pendakian ke Gunung Iliwerung, pastikan untuk membawa air yang cukup karena hanya ada sedikit tempat berteduh yang dapat ditemukan di titik tersebut. Untuk mencapai puncaknya, pendaki harus melewati jalur puncak tertinggi (Mauraja) yang dimulai di Desa Lerek sengan ketinggian 678 mdpl.
4. Awalnya Ketinggian Hanya 596 mdpl
Iliwerung sendiri tingginya hanya berkisar 596 mdpl menurut peta kawasan Bakosurtanal. Puncak tertinggi di kawasan ini adalah gunung yang jauh lebih tinggi yang terletak sekitar 2 kilometer ke arah barat laut dan dapat diakses dari desa-desa setempat.
Peta Bakosurtanal menulis Ile Mauraja sebagai namanya dan tingginya 1.080 mdpl, meskipun perangkat GPS memberikan angka 1.047 mdpl di puncaknya. Puncak Mauraja ini menjadi tujuan pendakian utama bagi mereka yang berkunjung, dan bisa dianggap sebagai titik tertinggi kaldera Lerek atau gunung berapi purba Adowajo.
Mauraja tidak aktif lagi saat ini. Aktivitas fumarol terjadi di dataran rendah Ili Werung, namun pusat aktivitas di kompleks vulkanik sekarang sebenarnya berada lebih jauh ke selatan di Gunung Hobal, yakni sebuah gunung berapi bawah laut yang berjarak 800 meter dari pantai selatan.
5. Akses ke Pulau Lembata
Mengutip dari laman Gunung Id, Gunung Iliwerung berada di bagian selatan Pulau Lembata. Pulau tersebut tak terkenal seperti Pulau Komodo sehingga akses menuju ke sana sangat jarang. Namun ada cara untuk menuju Pulau Lembata dengan menempuh perjalanan dari Maumere menggunakan kendaraan sewaan.
Selain itu aksesnya, bisa menggunakan pesawat kecil dari Kupang atau boat dari Larantuka. Di Puau Lembata sendiri sudah ada bandara, tapi landasan tak cukup memadai. Adapun penginapan hanya ada homestay saja untuk tempat bermalam.
6. Ladang Fumarol Watuwawer Dipakai untuk Masak
Kawah Iliwerung sendiri juga bisa diakses dari bawah. Ikuti jalan desa menuju pantai dan belok kiri. Berjalan kaki singkat akan membawa Anda ke fumarol yaitu lubang kerak bumi yang mengeluarkan gas gunung api.
Memang masyarakat sekitar sudah lama memanfaatkan ladang fumarol Watuwawer untuk memasak. Anda juga dapat mendaki ke tepi kawah dan mengintip ke dalam kawah, tetapi berhati-hatilah pada tanah yang mungkin tidak stabil.
Seperti disebutkan di atas, terdapat ventilasi bawah air aktif yang bertanggung jawab atas sebagian besar aktivitas baru-baru ini. Dikenal juga sebagai Hobal dan terletak sekitar 800 meter lepas pantai.
Ada juga kubah kecil di pantai namun dekat dengan garis pantai yang disebut Ili Grippe, yang tampaknya terbentuk pada 1948. Tidak terhubung dengan gunung berapi tetapi berdampak buruk pada daerah setempat, pada 1979 terjadi tsunami yang menewaskan lebih dari 500 orang dan desa tersebut Waiteba terkubur tanah longsor.