Liputan6.com, Gaza - Israel dan Hamas sepakat perjanjian tentang bantuan kemanusiaan yang masuk ke Jalur Gaza. Qatar dan Prancis berkolaborasi sebagai mediator pada perjanjian terbaru ini.
Dilaporkan BBC, Rabu (17/1), perjanjian baru ini menyebut agar obat-obatan dapat diberikan kepada para tawanan di Jalur Gaza. Sebagai timbal balik, Israel akan mengizinkan lebih banyak bantuan pokok masuk ke Jalur Gaza.
Advertisement
Bantuan kemanusiaan akan berangkat lewat Doha, ibu kota Qatar, menuju Mesir pada Rabu ini. Kemudian, bantuan itu akan diantarkan ke Gzaza untuk rakyat sipil, sementara obat-obatan akan dibawa untuk tawanan dari Israel.
Obat-obatan itu dikirim karena anggota keluarga para tawanan melaporkan kepada pemerintah bahwa banyak dari korban penculikan Hamas yang butuh obat-obatan, beberapa bahkan dinyatakan dalam kondisi bahaya.
Sebelumnya, Sekjen PBB Antonio Guterres sempat meminta agar bantuan bisa dibawa ke Jalur Gaza dengan aman. Lebih dari 100 staf PBB juga telah meninggal akibat perang di Gaza.
Amerika Serikat berharap agar ada diskusi-diskusi lanjutan yang bisa membawa pelepasan tawanan. Utusan AS untuk Timur Tengah juga telah berdiskusi dengan Qatar agar hal itu tercapai.
Utusan AS berkata diskusi yang terjadi "sangat serius dan intensif" dan diharapkan bisa segera berdampak nyata.
Sudah lebih dari 24 ribu orang korban serangan Israel di Jalur Gaza, banyak korban tewas merupakan perempuan dan anak-anak.
Cerita Dokter Lulusan Indonesia Bertahan di Gaza Utara: di Sini Sangat Susah, Sembako Naik 10 kali Lipat
Serangan Pasukan israel ke wilayah Gaza Palestina hingga kini masih berlangsunng. Perang yang telah melewati hari ke-100 ini sejak pertama kali pecah pada 7 Oktober 2023 lalu telah menyisakan duka yang mendalam bagi warga Gaza.
Mereka kehilangan keluarga, tempat tinggal, serta hak hidup secara bebas tanpa kegelisahan menghadapi ancaman maut yang bisa datang setiap detik.
Perang ini mengakibatkan infrastruktur di Gaza porak-poranda. Rumah sakit dibombardir, jaringan telekomunikasi diputus, tak ada akses ke air bersih dan makanan yang semestinya menjadi kebutuhan pokok sehari-hari.
dr Muhammad, salah seorang Tenaga Medis dari Asosiasi Emergency Al-fursan Palestina (FPEA), yang bertempat di wilayah Gaza Utara menceritakan bagaimana kekacauan yang terjadi di Gaza saat ini.
"Kondisi di gaza utara sangat susah, tidak ada supply makan, minum yg baik. Harga barang pokok naik 7-10 kali lipat, itu pun kalau ada," ujar Muhammad dalam pesan singkat yang dikirim kepada Liputan6.com, dari wilayah Gaza Utara, 15 Januari 2024.
Dia mengatakan, warga Gaza kini menjalankan hidup apa adanya. Minimnya akses bantuan yang masuk karena ketatnya penjagaan Tel Aviv di wilayah perbatasan membuat mereka harus menjaga ketersediaan makanan agar tidak habis. Belum lagi kebutuhan obat-obatan yang sangat minim.
Kebanyakan Warga Gaza menurutnya sudah seperti putus harapan dan menunggu dalam ketidakpastian kapan perang akan berakhir.
"Tidak ada harapan yang muncul akan berakhirnya perang dan agresi ini. Sudah 3 bulan lebih menderita, kehilngan nyawa, rumah dan semua bentuk kehidupan," ucap Muhammad yang sempat menempuh pendidikan kedokteran di Indonesia melalui program beasiswa Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI).
Dokter Muhammad: Banyak Logistik, Bantuan yang Tertahan
Terkait bantuan minim yang diterima oleh warga Gaza, Dokter Muhammad mengatakan bukan karena tidak ada bantuan dari negara-negara lain. Bantuan itu ada, namun akses masuk kendaraan logistik di tiap pintu perbatasan yang diberikan militer Israel sangat ketat. Banyak logistik dan bantuan yang tertahan dan akses terbatas.
"Bantuan yang masuk di gaza utara tidak melebihi 1% kebutuhan warga disana. Baik bantuan medis atau kebutuhan sehari-hari," ucap dia.
Karena minimnya bantuan, harga barang-barang pokok pun melejit berkali lipat. Dokter Muhammad pun mencontohkan beberapa barang kebutuhan pokok yang meroket karena terjadi kelangkaan di masyarakat.
"Misalkan gandum sebagai bahan pokok untuk pembuatan roti. Pada umumnya 1kg berharga sekitar 5000 Rp, namun saat ini berharga 126.000 Rp. Jadi naik harga 25 kali lipat karena memang tidak ada dan bantuan jarang masuk serta tidak mencukupi," kata Muhammad.
Dia pun berharap kondisi sepert ini segera berakhir. Perang hanya akan menyisakan penderitaan bagi masyarakat.
"90% penduduk Gaza utara sudah mengungsi ke selatan, dan yang tinggal di Gaza utara sedang menempati tempat-tempat penampungan setelah mengungsi dari tempat ke tempat. Kehidupan di sini tidak layak untuk dihidupkan oleh manusia," kata dia.
Sekjen PBB: Tak Ada Tempat Aman
Sekjen PBB Antonio Guterres mengungkap kekhawatiran terhadap kondisi di Jalur Gaza pada 100 hari perang yang sedang terjadi. Pada awal pidatonya, Antonio Guterres menyorot serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menyerang dan menculik rakyat sipil.
Kemudian, Guterres menegaskan bahwa hukuman kolektif yang dilakukan Israel juga tidak boleh dilakukan.
"Tidak ada yang bisa menjustifikasi hukuman kolektif terhadap rakyat Palestina. Situasi kemanusiaan di Gaza sudah tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Tidak ada tempat dan tidak ada orang yang aman," ujar Guterres pada keterangan resminya Senin (15/1).
Sekjen PBB mengingatkan bahwa mayoritas korban di Jalur Gaza adalah perempuan dan anak-anak. Jumlah korban tewas sudah tembus 20 ribu orang. Selain itu, 152 orang staf PBB yang tewas di Jalur Gaza. Guterres berkata itu adalah kehilangan nyawa terbesar yang dialami PBB pada sebuah krisis.
"Petugas bantuan, di bawah tekanan berat dan dengan tiada jaminan keselamatan, sedang melakukan yang terbaik untuk melaksanakan tugas di dalam Gaza," ujarnya.
Sekjen PBB juga meminta agar semua pihak menghormati hukum kemanusiaan internasional, sreta menghormati dan melindungi rakyat sipil.