Menara Sutet Sumedang Baru Berusia 13 Tahun

Tingkat curah hujan yang tinggi sejak beberapa bulan yang lalu mempengaruhi stabilitas pijakan tanah dari menara SUTET 500 kV di sekitar area Sumedang, Jawa Barat.

oleh Liputan6Diterbitkan 31 Maret 2013, 12:29 WIB
Tingkat curah hujan yang tinggi sejak beberapa bulan yang lalu mempengaruhi stabilitas pijakan tanah (landslide) dari menara Saluran Udara Tegangan ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV di sekitar area Sumedang, Jawa Barat.

Akibat dari kejadian tersebut, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) mesti melakukan pekerjaan perbaikan dan penguatan sistem transmisi di jalur Mandirancan, Cirebon hingga Bandung Selatan sejak Kamis (28/3/2013) lalu secara maraton tanpa henti hingga gangguan bisa diminimalisasi.

General Manager Penyaluran dan Pusat Pengaturan Beban Jawa Bali E Haryadi mengatakan, puncak musim hujan Indonesia yang terjadi Januari hingga Maret 2013 telah menyebabkan tergesernya tanah di areal Sutet Mandarancan beberapa waktu lalu. Akibatnya perusahaan mesti melakukan pemadaman listrik yang akan dilaksanakan sepekan ke depan.

"Dengan terjadinya pergeseran tanah pada kontur tanah yang miring, yang diakibatkan adanya curah hujan tinggi dan aliran air dekat menara. Namun Kami akan tetap berusaha menyelesaikan gangguan alam di jalur SUTET ini secepat mungkin, dengan melakukan pekerjaan non stop di area gangguan hingga tuntas," ujar Haryadi saat meninjau lokasi tower Sutet di Sumedang, Jawa Barat, Minggu (31/1/2013).

Haryadi menjelaskan, pihak PLN sejak kamis pukul 22.00 WIB kemarin sudah melakukan perbaikan menara SUTET di Sumedang selama delapan hari. Namun pekerjaan normal perbaikan menara harus dilakukan selama 16 hari.

Kendati demikian, PLN berjanji akan terus mempercepat waktu perbaikan Sutet tersebut sehingga dampak pemadaman dapat diminalisasi.

Saat ini, lanjut Haryadi, menara Sutet yang sudah berdiri semenjak 2000 tercatat telah beroperasi selama 13 tahun. "Tapi, dari penelitian tim gabungan internal PLN menemukan fakta, bahwa faktor alam yang menyebabkan terjadinya perbaikan menara tersebut," kata Haryadi.

Seperti diketahui, SUTET Mandirancan-Bandung terdiri dari dua sirkuit. Keberadaan SUTET memasok listrik untuk wilayah barat Jawa yang membutuhkan transfer listrik rata-rata mencapai 2.500 Mega Watt (MW) dari wilayah tengah dan timur Jawa. Dimana 1.700 MW diantaranya dipasok via Mandirancan-Bandung Selatan dan sisanya via Tasik-Depok.

Beban listrik di wilayah barat Jawa (Jawa Barat, Jakarta dan Banten) tercatat mencapai sekitar 13,500 MW, terdiri dari Jakarta-Banten 9.500 MW dan Jawa Barat 4.000 MW.

Dengan terganggung satu sirkit Mandirancan-Bandung Selatan, transfer listrik dibatasi hanya 1.600 MW agar tegangan wilayah barat terutama DKI masih dapat terpenuhi.

Ia menambahkan, pemadaman pada minggu depan akan sebesar 200 MW di masing-masing wilayah DKI dan Jawa Barat. Pemadaman akan diatur sedemikian rupa agar setiap pelanggan berpotensi mengalami pemadaman satu kali, selama 3 jam di minggu besok.

"Dengan adanya gangguan pemadaman, kami memohon sebesar-besarnya atas gangguan force majeur ini dan mohon partisipasi pelanggan untuk dapat mengurangi pemakaian listrik dirumah dan di kantor," tambahnya. (Dis/Shd)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya