Adjustment Disorder Dapat Terjadi pada Anak, Yuk Kenali Penyebab dan Gejalanya

gangguan penyesuaian atau adjustment disorder adalah kondisi yang berhubungan dengan stres yang tidak memenuhi kriteria lengkap untuk gangguan mental lainnya.

oleh Wanda Andita PutriDiterbitkan 12 Desember 2023, 17:07 WIB
Peringati Hari Anak Nasional dengan mencoba belajar jadi ibu yang pengertian melalui pola asuh mindful parenting. (Ilustrasi: Pexels.com/Pixabay)

Liputan6.com, Jakarta - Pernahkah kamu mendengar istilah adjustment disorder atau gangguan penyesuaian pada anak? Ketika seorang anak kesulitan menyesuaikan diri dengan perubahan, itu bisa menjadi pertanda adanya masalah. Seorang anak yang menunjukkan perubahan suasana hati atau perilaku setelah peristiwa kehidupan yang penuh tekanan mungkin akan mengalami gangguan penyesuaian atau yang disebut sebaga adjusment disorder

Gangguan penyesuaian merupakan kondisi kesehatan mental yang mungkin memerlukan bantuan profesional. Dengan adanya penanganan yang tepat, gangguan peyesuaian ini biasanya akan merespons pengobatan dengan baik. Lantas, apa penyebab dan gejala dari gangguan penyesuaian pada anak ini? Berikut ulasannya, seperti yang dilansir dari halaman Verywell Mind pada Selasa (12/12/23).

Apa Penyebab dari Adjustment Disorder pada Anak?

Orang-orang dari segala usia dapat mengalami gangguan penyesuaian atau adjustment disorder ini, tetapi penyakit ini sangat umum terjadi pada anak-anak dan remaja. Gangguan penyesuaian ini disebabkan oleh respons adaptif terhadap stres. Hal ini akan membawa semacam perubahan dalam kehidupan seorang anak. Terdapat banyak jenis peristiwa stres yang dapat menyebabkan gangguan penyesuaian atau adjustment disorder pada anak, di antaranya ialah:

  • Anak-anak yang menghadapi perceraian mungkin akan mengalami banyak perubahan, termasuk perubahan situasi kehidupan atau ketidakhadiran salah satu orang tua;
  • Adanya perubahan tempat tinggal, baik itu rumah di lingkungan berbeda atau apartemen di kota baru, seorang anak mungkin kesulitan menyesuaikan diri dengan perubahan;
  • Memasuki sekolah baru di kota lain bisa mengakibatkan perubahan dalam pertemenan dan perubahan besar pada rutinas anak;
  • Adanya perubahan kesehatan dari anggota keluarga juga dapat menimbulkan gangguan penyesuaian ini, seperti anak yang didiagnosis mengidap suatu penyakit atau orang tuanya yang mengalami gangguan kesehatan.

Perlu diingat bahwa tidak semua anak yang mengalami peristiwa stres akan mengalami gangguan penyesuaian. Apa yang diangap stres oleh seorang anak mungkin bukan masalah besar bagi anak lainnya. Jadi, meskipun satu anak mengalami gangguan penyesuaian setelah orang tuanya berpisah, anak yang lain dalam keluarga yang sama mungkin tidak mengalami respons yang sama.

Beberapa faktor, seperti temperamen anak dan pengalaman masa lalu, akan memengaruhi apakah seorang anak mengalami gangguan penyesuaian setelah peristiwa yang membuat stres. Sistem pendukung yang kuat dan keterampilan mengatasi masalah yang sehat dapat berfungsi sebagai faktor pelindung yang mengurangi kemungkinan seorang anak mengalami gangguan penyesuaian atau adjustment disorder.

 

Apa Saja Subtipe dari Adjustment Disorder pada Anak?

Peringati Hari Anak Sedunia 2023, UNICEF Ungkap 3 Hal yang Perlu Dipenuhi, Salah Satunya Hak Hidup Damai. Foto: jcomp from Freepik.

Terdapat beberapa subtipe gangguan penyesuaian dan diagnosisnya bergantung pada gejala emosional dan perilaku anak setelah peristiwa stres. Berikut tipe-tipe adjustment disorder pada anak secara spesifik.

  • Gangguan penyesuaian dengan suasana hati depresi: Seorang anak mungkin menunjukkan tangisan, kehilangan minat pada aktivitas biasa, perasaan putus asa, dan kesedihan yang meningkat;
  • Gangguan penyesuaian dengan kecemasan: Seorang anak mungkin tampak lebih cemas dan khawatir dari biasanya. Kecemasan ini dapat bermanifestasi sebagai kecemasan akan sebuah perpisahan, seperti ketika seorang anak kesal karena dipisahkan dari pengasuhnya;
  • Gangguan penyesuaian dengan campuran antara kecemasan dan suasana hati depresi: Ketika seorang anak mengalami suasana hati tertekan dan cemas, ia mungkin didiagnosis menderita tipe ini;
  • Gangguan penyesuaian dengan gangguan tingkah laku: Seorang anak mungkin didiagnosis dengan tipe ini ketika perilakunya berubah, tetapi suasana hatinya tampaknya tetap sama. Ia mungkin menunjukkan peningkatan penolakan;
  • Campuran gangguan emosi dan perilaku: Seorang anak yang mengalami gangguan suasana hati atau kecemasan dan menunjukkan perubahan perilaku, mungkin didiagnosis mengalami gangguan campuran emosi dan perilaku;
  • Gangguan penyesuaian tidak ditentukan: Seorang anak yang mengalami kesulitan menghadapi peristiwa stres, tetapi tidak memenuhi kriteria tipe lainnya, mungkin didiagnosis dengan subtipe ini.

Penting untuk diketahui bahwa hanya karena anak kamu didiagnosis menderita gangguan penyesuaian dengan suasana hati depresi, bukan berarti ia didiagnosis mengidap gangguan penyesuaian diri dengan suasana hati tertekan. Berdasarkan definisinya, gangguan penyesuaian atau adjustment disorder adalah kondisi yang berhubungan dengan stres yang tidak memenuhi kriteria lengkap untuk gangguan mental lainnya. Hal ini mungkin membingungkan orang tua, tetapi ini adalah perbedaan yang penting diketahui.

Bagaimana Gejala dari Adjustment Disorder pada Anak?

Stimulasi kecerdasan anak dapat dilakukan melalui aktivitas sehari-hari. (Foto: Unsplash/Ben Griffiths)

Hanya karena seorang anak mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan keadaan baru atau situasi stres, bukan berarti anak tersebut memiliki kondisi kesehatan mental yang dapat didiagnosis. Agar memenuhi syarat untuk diagnosis gangguan penyesuaian, gangguan yang dialami anak harus melampaui apa yang dianggap normal dalam keadaan tersebut.

Gangguan penyesuaian akan mengganggu fungsi sosial atau akademik anak. Misalnya, penurunan nilai, kesulitan menjaga persahabatan, atau keengganan untuk bersekolah. Remaja mungkin menunjukkan perilaku anti-sosial, seperti vandalisme atau mencuri.

Anak-anak dengan gangguan penyesuaian sering kali melaporkan gejala fisik, seperti sakit perut dan sakit kepala. Masalah tidur dan kelelahan juga sering terjadi. Gejala harus muncul dalam waktu tiga bulan setelah peristiwa stres tertentu.

Namun, gejalanya tidak bisa bertahan lebih dari enam bulan. Jika seorang anak terus mengalami gejala setelah enam bulan, situasi tersebut memenuhi syarat untuk diagnosis kelainan lain, seperti diagnosis gangguan kecemasan atau depresi.

Tidak menutup kemungkinan anak mengalami kondisi komorbid. Misalnya, seorang anak yang sebelumnya pernah terdiagnosis ADHD atau gangguan pemberontak, mungkin juga akan mengalami gangguan penyesuaian setelah peristiwa stres tersebut.

Infografis peranan penting orang tua dalam pengasuhan anak (parenting) Source: Kementerian Sosial Reublik Indonesia

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya