Meski teknologi tidak berkembang begitu pesat di sejumlah negara Asia Tenggara, namun kawasan ini menyimpan potensi besar dalam pengembangan teknologi di masa depan. Salah seorang insinyur dan pengembang software Google pun menyadari ini setelah melakukan kunjungan wisata ke Vietnam.
Dilansir dari laman blog pribadi insinyur Google Neil Fraser, Jumat (22/3/2013), meski memiliki keterbatasan dalam hal dana, Vietnam punya potensi besar dalam pemrograman komputer. Neil pun terkejut dengan kurikulum pendidikan di Vietnam yang jauh lebih berkembang dari Amerika Serikat dalam hal ilmu komputer.
Di kelas 2 tingkat Sekolah Dasar, Neil menyebut bahwa kurikulum memang hanya mengajarkan tentang dasar-dasar hardware. Salah satunya adalah mengenal floppy disc dan cara merawatnya.
Tapi setahun berikutnya, di kelas 3 pelajar Vietnam sudah mempelajari pengoperasian Microsoft Windows. Neil paham bahwa sebagian besar software merupakan bajakan dan satu Serial Number digunakan untuk banyak komputer.
Namun dia memahaminya. "Satu copy Windows setara dengan satu bulan gaji. Tentu ini mudah dimengerti," ucap Neil Fraser dalam blognya.
Di kelas 4, pelajar Vietnam sudah memelajari bahasa pemrograman dan command. Kelas 5 dan 6 pun semakin sulit, yaitu dengan memelajari loop atau pemrograman yang membutuhkan rangkaian instruksi. Neil Fraser membandingkan dengan pelajar SMA kelas 11 dan 12 di AS yang bahkan hanya sedikit yang menguasai loop.
Tapi pelajar Vietnam agak kesulitan dalam memelajari pembuatan software. Insinyur Google ini kemudian memberikan pengajaran dan memberi contoh dengan membuat Blockly Maze pada sebuah sekolah di Vietnam. Ini merupakan software yang dilengkapi tutorial untuk mengembangkan penggunaan loop dan conditionals.
Neil mengaku kesulitan dalam mengembangkan Blockly Maze, sebab jaringan internet yang layak. Setelah selesai membuat itu dan menyerahkan ke sekolah, guru komputer pun berjanji mengajarkan ke muridnya. Tapi ada kesulitan lain, sekolah tak mampu membayar gaji guru komputer, yang sekitar Rp 1 juta per bulan. Neil pun melakukan donasi dengan menjamin gaji dua guru komputer hingga setahun mendatang.
Hasilnya, menurut Neil, dalam dua minggu para pelajar kelas 5 SD di Vietnam punya kemampuan setara pelajar SMA kelas 11 di AS.
Tapi rasa penasaran Neil tak berhenti di situ. Dia kemudian mencari tahu apa yang dipelajari pelajar SMA kelas 11 di Vietnam. Hasilnya, dia mengetahui bahwa pelajar kelas 11 di Vietnam harus menyelesaikan sebuah persoalan sulit untuk menyelesaikan maze dengan menggunakan data file berupa kode biner.
Neil kembali terkejut, sebab sebagian besar pelajar bisa menyelesaikan soal dalam waktu 45 menit untuk menyelesaikan desain jawaban dengan program Pascal. Sebagian lain butuh tambahan waktu 5 menit.
Ketika pulang ke AS, Neil menanyakan ke insinyur senior Google tentang tingkat kesulitan soal itu. Ternyata, soal itu dikategorikan sebagai soal yang ditanya dalam tes penerimaan Google, malah dengan tingkat kesulitan peringkat ketiga tersulit.
"Tak ada keraguan lagi, sebagian pelajar kelas 11 di Vietnam bisa lolos dalam tes masuk ke Gooogle," ujar Neil. (gal)
Dilansir dari laman blog pribadi insinyur Google Neil Fraser, Jumat (22/3/2013), meski memiliki keterbatasan dalam hal dana, Vietnam punya potensi besar dalam pemrograman komputer. Neil pun terkejut dengan kurikulum pendidikan di Vietnam yang jauh lebih berkembang dari Amerika Serikat dalam hal ilmu komputer.
Di kelas 2 tingkat Sekolah Dasar, Neil menyebut bahwa kurikulum memang hanya mengajarkan tentang dasar-dasar hardware. Salah satunya adalah mengenal floppy disc dan cara merawatnya.
Tapi setahun berikutnya, di kelas 3 pelajar Vietnam sudah mempelajari pengoperasian Microsoft Windows. Neil paham bahwa sebagian besar software merupakan bajakan dan satu Serial Number digunakan untuk banyak komputer.
Namun dia memahaminya. "Satu copy Windows setara dengan satu bulan gaji. Tentu ini mudah dimengerti," ucap Neil Fraser dalam blognya.
Di kelas 4, pelajar Vietnam sudah memelajari bahasa pemrograman dan command. Kelas 5 dan 6 pun semakin sulit, yaitu dengan memelajari loop atau pemrograman yang membutuhkan rangkaian instruksi. Neil Fraser membandingkan dengan pelajar SMA kelas 11 dan 12 di AS yang bahkan hanya sedikit yang menguasai loop.
Tapi pelajar Vietnam agak kesulitan dalam memelajari pembuatan software. Insinyur Google ini kemudian memberikan pengajaran dan memberi contoh dengan membuat Blockly Maze pada sebuah sekolah di Vietnam. Ini merupakan software yang dilengkapi tutorial untuk mengembangkan penggunaan loop dan conditionals.
Neil mengaku kesulitan dalam mengembangkan Blockly Maze, sebab jaringan internet yang layak. Setelah selesai membuat itu dan menyerahkan ke sekolah, guru komputer pun berjanji mengajarkan ke muridnya. Tapi ada kesulitan lain, sekolah tak mampu membayar gaji guru komputer, yang sekitar Rp 1 juta per bulan. Neil pun melakukan donasi dengan menjamin gaji dua guru komputer hingga setahun mendatang.
Hasilnya, menurut Neil, dalam dua minggu para pelajar kelas 5 SD di Vietnam punya kemampuan setara pelajar SMA kelas 11 di AS.
Tapi rasa penasaran Neil tak berhenti di situ. Dia kemudian mencari tahu apa yang dipelajari pelajar SMA kelas 11 di Vietnam. Hasilnya, dia mengetahui bahwa pelajar kelas 11 di Vietnam harus menyelesaikan sebuah persoalan sulit untuk menyelesaikan maze dengan menggunakan data file berupa kode biner.
Neil kembali terkejut, sebab sebagian besar pelajar bisa menyelesaikan soal dalam waktu 45 menit untuk menyelesaikan desain jawaban dengan program Pascal. Sebagian lain butuh tambahan waktu 5 menit.
Ketika pulang ke AS, Neil menanyakan ke insinyur senior Google tentang tingkat kesulitan soal itu. Ternyata, soal itu dikategorikan sebagai soal yang ditanya dalam tes penerimaan Google, malah dengan tingkat kesulitan peringkat ketiga tersulit.
"Tak ada keraguan lagi, sebagian pelajar kelas 11 di Vietnam bisa lolos dalam tes masuk ke Gooogle," ujar Neil. (gal)