Liputan6.com, Jakarta Akhirnya Erina Gudono buka suara soal Kaesang Pangarep jadi Ketua Umum PSI. Ia menceritakan momen seminggu lalu, sebelum Kaesang Pangarep menyampaikan pidato sebagai Ketum Partai Solidaritas Indonesia.
Seharian, Erina Gudono dan suami berada di rumah. Kala itu, Kaesang Pangarep mengetik sendiri pidato politik pertamanya berdasarkan poin-poin penting hasil diskusi bersama para petinggi PSI.
Advertisement
Karena enggak tega, Erina Gudono menawarkan bantuan untuk mengetik pidato pertama Kaesang Pangarep sebagai Ketum PSI. Bantuan ini ditolak. Putra bungsu Jokowi beralasan, pidato ini harus benar-benar berasal dari hatinya sendiri.
Erina Gudono menyebut, merestui Kaesang Pangarep terjun ke politik lewat PSI adalah keputusan terberat dalam hidupnya. Sebagai orang yang awam politik, ia menimbang perkara ini sejak lama.
Erina Gudono Enggak Tega
“Aku karena ngga tega, nawarin bantu jadi juru ketik ataupun cari orang lain bantu ketikin pun Mas nolak, karena kata Mas harus benar benar dari pemikiran dan hatinya sendiri,” tulis Erina Gudono.
“Aku ngga paham tentang dunia politik, dan salah satu keputusan paling berat yang aku buat adalah merestui Mas berjuang disini. Bukan keputusan sehari dua hari tapi udah sangat lama dipertimbangkan,” imbuhnya.
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Pidato Parpol Terbaik
Pernyataan sikap ini disampaikan Erina Gudono sembari mengunggah sejumlah potret Kaesang Pangarep menyampaikan pidato sebagai Ketum PSI, di akun Instagram terverifikasi, Rabu (4/10/2023).
Ia menyebut orasi Kaesang Pangarep sebagai pidato parpol terbaik yang pernah dilihat dan didengarnya. “Jujur bagiku, sebagai orang awam politik, pidato Mas minggu lalu adalah pidato parpol terbaik yang pernah aku lihat,” Eerina Gudono menyambung.
Respons Masyarakat Baik Buruk
Atmosfer dan kegembiraan tumpah ruah setelah Kaesang Pangarep memekik, “PSI menang, pasti menang!” Erina Gudono menyadari, keputusan Kaesang Pangarep bergabung dengan PSI ditanggapi beragam oleh masyarakat.
Namun, ia dan suami menanggapi respons publik dengan hati legawa. “Respon masyarakat baik buruk semua disyukuri sebagai bagian dari proses,” pungkas Erina Gudono.