Liputan6.com, Jakarta Harga emas bertahan di dekat level tertingginya dalam dua minggu pada hari Selasa, meskipun harga emas dunia terjebak dalam kisaran sempit karena fokus beralih ke pertemuan kebijakan Federal Reserve untuk memperbarui prospek suku bunga dan proyeksi ekonomi.
Advertisement
Dikutip dari CNBC, Rabu (20/9/2023), harga emas di pasar spot datar di USD 1,931.45 per ounce setelah mencapai level tertinggi sejak 5 September di awal sesi. Harga emas berjangka AS naik 0,1% menjadi USD 1,952.90.
Investor akan menantikan perkiraan terbaru dari pejabat Fed pada akhir pertemuan kebijakan dua hari pada hari Rabu, setelah data ekonomi AS yang kuat baru-baru ini mengurangi kekhawatiran resesi.
Fokus Investor
Para pedagang memperkirakan 99% peluang The Fed mempertahankan suku bunga tidak berubah pada akhir pertemuannya, dengan 35% kemungkinan kenaikan suku bunga lagi sebelum tahun 2024, menurut FedWatch Tool CME.
“Ekspektasinya adalah bahwa The Fed masih akan bersikap hawkish pada kebijakan moneter besok karena mereka ingin inflasi mendekati target 2%, yang tidak baik untuk emas,” kata Jim Wyckoff, analis pasar senior di Kitco.
“Hal yang penting adalah konferensi pers dari Ketua Jerome Powell dan pernyataan yang mungkin mengisyaratkan apa yang mungkin dilakukan The Fed hingga akhir tahun ini,” tambah Wyckoff.
Ramalan Suku Bunga
Prospek The Fed untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama telah mengangkat imbal hasil Treasury 10-tahun ke level tertinggi dalam 16-tahun, mengurangi daya tarik emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil.
Yang juga menjadi perhatian adalah pertemuan bank sentral antara lain Bank of Japan, Bank of England dan Swiss National Bank, yang akan dijadwalkan minggu ini.
Sementara itu, ekspor emas Swiss naik 7,3% pada bulan Agustus dibandingkan bulan Juli karena tingginya pengiriman ke India dan Tiongkok mengimbangi penurunan pasokan ke Turki, data bea cukai menunjukkan.
Ramalan Harga Emas Dunia, Terjun Bebas atau Makin Mahal?
Harga emas saat ini diombang-ambing oleh tarik-menarik antara bias kebijakan moneter hawkish The Federal Reserve (The Fed), serta potensi risiko yang terus membayangi pasar. Meskipun mempunyai momentum teknis, sejumlah analis menilai harga emas tidak punya cukup dorongan untuk mendobrak di atas level USD 1.980 per troy ons.
Pekan kemarin, harga emas berjangka pengiriman Desember diperdagangkan pada USD 1.945,60 per troy ons, tidak banyak berubah dari penutupan Jumat sebelumnya. Ini merupakan pekan keempat berturut-turut dimana harga emas berakhir pada hari Jumat tepat di bawah resisten awal, mendekati USD 1,950 per troy ons.
Mengutip Kitco News, Senin (18/9/2023), tarik ukur harga emas dunia akan terlihat jelas pekan ini, ketika The Fed merilis putusan kebijakan moneter terbaru dan memperbarui proyeksi ekonomi.
Bank Sentral AS tersebut memang diperkirakan tidak akan menaikan suku bunga pada pekan ini, namun Ketua The Fed Jerome Powell diperkirakan akan mempertahankan sikap hawkish terhadap kebijakan moneter.
"Apa yang dilakukan Powell terkesan hawkish lantaran pejabat The Fed tidak akan menutup kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut," kata analis suku bunga di TD Securities.
CME FedWatchTool menunjukkan bahwa pasar saat ini melihat peluang sekitar 60 persen terkait suku bunga tetap tidak berubah sepanjang sisa tahun ini. Namun, ekspektasi pasar ini relatif fluktuatif dan dapat berubah dengan cepat.
Pergerakan Harga Emas
Kendati wacana Powell dapat membatasi pergerakan emas, para analis menilai bahwa kebijakan moneter telah kehilangan efektivitasnya.
"Pesan keseluruhan di antara bank-bank sentral global adalah bahwa kenaikan suku bunga akan segera berakhir. Hal ini merupakan bullish (penguat) bagi emas," ujar Analis Pasar Senior OANDA, Edward Moya.
Kepala Strategi Pasar SIA Wealth Management Colin Cieszynski mengatakan, emas akan mengalami kesulitan untuk menembus harga di atas USD 1.980 per troy ons jelang pertemuan bank sentral AS. Namun, dia memandang pasar tampaknya akan mengalami pemantulan teknis.