Mendag Minta Indonesia Contoh India Soal Produksi Beras dan Gula

Menteri Perdagangan (Mendag) RI Zulkifli Hasan mengatakan, Indonesia sebagai negara pertanian perlu belajar dari India dalam menguatkan ketahanan pangan.

oleh Elza Hayarana SahiraDiperbarui 11 September 2023, 20:40 WIB
Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan mengatakan pemerintah akan menambah kuota impor beras sebanyak 1 juta ton dari sebelumnya 2 juta ton. Foto: Merdeka.com

Liputan6.com, Jakarta Menteri Perdagangan (Mendag) RI Zulkifli Hasan mengatakan, Indonesia sebagai negara pertanian perlu belajar dari India dalam menguatkan ketahanan pangan.

Perlu diketahui, India saat ini memiliki jumlah penduduk 1,4 miliar juta jiwa dengan kebutuhan berasnya mencapai 7 juta ton per tahunnya. Tidak hanya itu, produksi gulanya juga mencapai 20 juta ton per tahunnya.

Banyaknya kebutuhan dalam negeri tersebut,  tidak menjadi halangan bagi India untuk bisa mengekspor beras dan gula.

Ada sau kunci yang dinilai Mendag bisa menentukan produksi pertanian di India. India memprioritaskan pertanian dan memberi pupuk secara gratis dan kebijakan yang tidak menyulitkan pengusaha dan petani.

“Lebihnya ada 7 juta ton. Saya juga heran. Saya tanya sama menterinya kamu orang 1,4 miliar. Satu lagi gulanya itu lebih. Dia 20 juta lebih produksi gula.  Nah, dia bilang kalau pertanian kami enggak ada kebijakan yang susah,” kata Mendag Zulhas di Vertu Harmoni Hotel, Jakarta, Senin, (11/9/2023).

Pertanian Modern

Kemudian, ia menjelaskan, salah satu rahasia India adalah mengutamakan pertanian. Selain memberi pupuk gratis, India dalam bertani sawah tidak manual tetapi, memakai teknologi nano.

“Prioritas pertama pertanian dulu gratis dan pupuknya sudah pakai teknologi nano jadi sawahnya enggak kayak kita, dia [India] sudah pakai komputer,” jelasnya.

 

Sistem koperasi

Pekerja melakukan aktivitas bongkar muat beras impor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (16/12/2022). Perum Bulog mendatangkan 5.000 ton beras impor asal Vietnam guna menambah cadangan beras pemerintah (CBP) yang akan digunakan untuk operasi pasar. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Di sisi lain, imbuh Zulhas, India juga menerapkan sistem koperasi. Sedangkan Indonesia masih dijajah konglomerasi yang menguasai seluruh lini.

"Dan itu semua dikerjakan koperasi, enggak konglomerasi. Seperti zamannya Orde Baru Pak Harto (Soeharto) dulu. Pupuk koperasi, pabrik beras koperasi, agen beras ya koperasi, semua diatur begitu. Jadi, lingkaran masyarakat kepada masyarakat," tutur Zulhas.

"Ini yang mesti kita tata karena kita ini memang konglomerasi. Pakan ternak dia, ayam dia, telur dia, semua dia. Ini harus diatur, diperbaiki, tapi oleh pemerintah yang akan datang. Enggak terkejar kalau sekarang," imbuh Zulhas.

Puji Thailand

Selain memuji India, Zulhas heran dengan capaian Thailand. Ia mengatakan negara tetangga Indonesia di Asia Tenggara itu juga punya hasil ciamik soal produksi beras.

Selain itu, ia mengungkapkan jumlah penduduk Thailand lebih sedikit di bandingkan Indonesia. Namun, Zulhas menyebut produk pertanian negara bollywood itu bisa lebih maju dari Indonesia.

 

Swasembada di era Soeharto

Petani memanen padi dari Sawah Abadi di kawasan Ujung Menteng, Jakarta, Rabu (23/2/2022). Padi hasil panen tersebut tidak dijadikan beras, tapi dijadikan benih untuk dibagikan kepada kelompok tani yang ada di wilayah Jakarta. (merdeka.com/Imam Buhori)

Menurut sejarah, Indonesia pernah swasembada beras di era Soeharto. Begitu pula dengan komoditas gula yang membuat Indonesia dikenal sebagai negara eksportir.

Mantan Menteri Pertanian 2014-2019 Amran Sulaiman mengatakan Indonesia mendapat penghargaan dari Organisasi Pangan Dunia (FAO) berbentuk medali emas bergambar Soeharto.

Kendati, apa yang ditorehkan Soeharto tak mudah. Selama memimpin Indonesia 32 tahun lamanya, Indonesia baru bisa swasembada pangan usai 16 tahun Soeharto memimpin, yakni pada 1984.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya