Liputan6.com, Jakarta: Kontroversi goyang "ngebor" Inul Daratista terus bergulir. Setelah kritik keras sekaligus pencekalan oleh Raja Dangdut Raden Haji Oma Irama, simpati terhadap Inul terus berdatangan. Kali ini datang dari artis Nurul Arifin yang juga tengah getol-getolnya menyuarakan hak-hak kaum perempuan. Artis yang sempat dicap sebagai "bom seks" itu menilai, goyang ngebor adalah ekspresi seni diri seorang Inul. "Itu [goyang ngebor] ekspresi dirinya. Buat saya itu kebebasan individu masing-masing," kata Nurul di Jakarta, Kamis (1/5).
Nurul berpendapat, Inul melakukan goyang ngebor bukan larut dalam kapitalisme untuk mengeruk keuntungan finansial semata. Selain itu, kata Nurul, dangdut memang identik dengan goyang. "Siapa sih yang tidak bergoyang? Dari angkatan para pendahulunya juga udah bergoyang-goyang. Tapi kenapa sekarang dieksploitir pemberitaannya?" tanya Nurul.
Artis yang melejit era `80-an ini menilai, goyangan Inul biasa-biasa saja. Ia tak merasa moralnya rusak setelah melihat goyang Inul. Satu yang pasti, sejumlah rekannya sekarang ini tertarik menikmati dangdut setelah kehadiran Inul. Hal itu dinilai sebagai fenomena baik untuk perkembangan musik dangdut. "Tadinya kita nggak tahu dangdut. Tapi setelah ada Inul, kita jadi kepengen tahu dangdut," ungkap Nurul mencontohkan rekannya.
Penyanyi asal Gempol, Pasuruan, Jawa Timur, itu memang kini menjadi buah bibir tak hanya dari kalangan masyarakat penggemar dangdut, tapi juga hingga kalangan profesional bahkan mantan Presiden Abdurrahman Wahid [baca: Inul Makin "Digoyang", Pendukung Datang Menghadang]. Kalangan anggota Dewan pun seakan berlomba memberikan suara untuk sang Ratu Ngebor.(DEN/Retno Pinasti dan Adi Iskarpandi)
Nurul berpendapat, Inul melakukan goyang ngebor bukan larut dalam kapitalisme untuk mengeruk keuntungan finansial semata. Selain itu, kata Nurul, dangdut memang identik dengan goyang. "Siapa sih yang tidak bergoyang? Dari angkatan para pendahulunya juga udah bergoyang-goyang. Tapi kenapa sekarang dieksploitir pemberitaannya?" tanya Nurul.
Artis yang melejit era `80-an ini menilai, goyangan Inul biasa-biasa saja. Ia tak merasa moralnya rusak setelah melihat goyang Inul. Satu yang pasti, sejumlah rekannya sekarang ini tertarik menikmati dangdut setelah kehadiran Inul. Hal itu dinilai sebagai fenomena baik untuk perkembangan musik dangdut. "Tadinya kita nggak tahu dangdut. Tapi setelah ada Inul, kita jadi kepengen tahu dangdut," ungkap Nurul mencontohkan rekannya.
Penyanyi asal Gempol, Pasuruan, Jawa Timur, itu memang kini menjadi buah bibir tak hanya dari kalangan masyarakat penggemar dangdut, tapi juga hingga kalangan profesional bahkan mantan Presiden Abdurrahman Wahid [baca: Inul Makin "Digoyang", Pendukung Datang Menghadang]. Kalangan anggota Dewan pun seakan berlomba memberikan suara untuk sang Ratu Ngebor.(DEN/Retno Pinasti dan Adi Iskarpandi)