Liputan6.com, Yogyakarta: Bekerja di lingkungan keraton, apa pun tugas yang diemban, buat sebagian orang menjadi kebanggaan. Sebab, dia akan selalu bisa mengabdi secara total kepada sang raja. Padahal, upah yang mereka terima belum tentu sebanding dengan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Tapi mereka tetap senang. Demikian gambaran yang tersirat pada wajah para pekerja di Keraton Yogyakarta, baru-baru ini.
Demikian pula yang terpancar di wajah Kusnar dan Laspodo, penjaga gajah milik Keraton Yogyakarta. Keduanya tampak giat dan riang, meski harus selalu bekerja menjaga Argo dan Gilang--nama dua gajah milik Keraton Yogyakarta--di tengah terik matahari. Kusnar dan Laspodo juga tak pernah mengeluh bila setiap hari harus berjibaku membersihkan kotoran di kandang dua binatang berbelalai panjang ini.
Tak hanya itu tugas mereka. Setelah membersihkan kandang Argo dan Gilang yang ada di Kompleks Alun-Alun Selatan Kota Gudeg, Kusnar dan Laspodo masih harus memandikan dua hewan berbadan tambun dari Lampung tersebut. Sehabis itu, mereka mesti memberi makan gajah itu rumput segar. Demikianlah kehidupan mereka dari hari ke hari. Nyaris tak ada yang berubah. "Kita sudah bertahun-tahun kerja seperti ini," kata keduanya berbarengan.
Menilik kerja mereka memang berat. Apalagi keduanya hanya dibayar Rp 200 ribu per bulan. Tapi atas dasar pengabdianlah, Kusnar dan Laspodo bertahan dengan profesi yang sudah digeluti sejak 1996. Hati keduanya juga tetap riang. Terlebih keluarga mendukung apa yang mereka lakukan. "Bila hati senang, meski berat dan kerap menjadi tontonan warga, bagaimana mau pindah kerja," ungkap Kusnar.
Sekadar informasi, Keraton Yogyakarta sengaja memelihari gajah ini untuk keperluan upacara adat dan keagamaan. Karena itu, Argo dan Gilang sering diarak dan dipertontonkan pada Upacara Sekatenan atau peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dulunya, Keraton Yogyakarta memiliki tiga ekor gajah. Tapi seekor gajah betina yang ada sudah mati karena sakit.(ICH/Wiwiek Susilo)
Demikian pula yang terpancar di wajah Kusnar dan Laspodo, penjaga gajah milik Keraton Yogyakarta. Keduanya tampak giat dan riang, meski harus selalu bekerja menjaga Argo dan Gilang--nama dua gajah milik Keraton Yogyakarta--di tengah terik matahari. Kusnar dan Laspodo juga tak pernah mengeluh bila setiap hari harus berjibaku membersihkan kotoran di kandang dua binatang berbelalai panjang ini.
Tak hanya itu tugas mereka. Setelah membersihkan kandang Argo dan Gilang yang ada di Kompleks Alun-Alun Selatan Kota Gudeg, Kusnar dan Laspodo masih harus memandikan dua hewan berbadan tambun dari Lampung tersebut. Sehabis itu, mereka mesti memberi makan gajah itu rumput segar. Demikianlah kehidupan mereka dari hari ke hari. Nyaris tak ada yang berubah. "Kita sudah bertahun-tahun kerja seperti ini," kata keduanya berbarengan.
Menilik kerja mereka memang berat. Apalagi keduanya hanya dibayar Rp 200 ribu per bulan. Tapi atas dasar pengabdianlah, Kusnar dan Laspodo bertahan dengan profesi yang sudah digeluti sejak 1996. Hati keduanya juga tetap riang. Terlebih keluarga mendukung apa yang mereka lakukan. "Bila hati senang, meski berat dan kerap menjadi tontonan warga, bagaimana mau pindah kerja," ungkap Kusnar.
Sekadar informasi, Keraton Yogyakarta sengaja memelihari gajah ini untuk keperluan upacara adat dan keagamaan. Karena itu, Argo dan Gilang sering diarak dan dipertontonkan pada Upacara Sekatenan atau peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dulunya, Keraton Yogyakarta memiliki tiga ekor gajah. Tapi seekor gajah betina yang ada sudah mati karena sakit.(ICH/Wiwiek Susilo)