Liputan6.com, Jakarta Tanggal 30 Maret diperingati sebagai Hari Film Nasional. Tanggal ini dipilih karena pada 30 Maret menjadi hari pertama syuting film Darah dan Doa (1950) yang merupakan film Indonesia pertama yang disutradarai orang Indonesia dan diproduksi perusahaan Indonesia.
Industri film Indonesia terus berkembang pesat. Banyak film maupun aktor, aktris hingga sineas Tanah Air menorehkan prestasi bergengsi di ajang internasional. Dari segi penonton, film Indonesia juga mampu bersaing dengan film impor.
Advertisement
Sempat lesu karena pandemi Covid-19, gairah film Indonesia kembali membara. Ada 14 film rilisan 2022 yang menembus 1 juta penonton. KKN di Desa Penari bahkan mencetak rekor baru yakni 10 juta penonton (perolehan termasuk rilis ulang).
Genre film Indonesia juga makin variatif. Tak melulu drama atau horor, film nasional juga menghadirkan genre aksi hingga superhero. Salah satu genre yang cukup populer adalah religi Islami.
Sejak sukses Ayat-ayat Cinta (2008), film berlatar Islami terus bermunculan dan banyak yang meraih sukses komersial. Mengingat tahun ini peringatan Hari Film Nasional 2023 bertepatan dengan Ramadhan, kami rangkum 7 film dengan sentuhan Islami yang meraih lebih dari satu juta penonton, berdasarkan data situs filmindonesia.or.id yang disarikan Wikipedia Indonesia.
1. Ayat-ayat Cinta
Ayat-ayat Cinta diangkat dari novel laris karya Habiburrahman El Shirazy berjudul sama. Mengisahkan pemuda Indonesia bernama Fahri (Fedi Nuril) yang mengambil kuliah S2 di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Cenderung pemalu, Fahri mengalami dilema cinta usai dihadapkan pada empat gadis yang mengaguminya.
Disutradarai Hanung Bramatyo, film ini sempat membuat kecewa penggemar novel karena lokasi syuting bukan di Mesir, serta mengalami perubahan cerita dari novelnya. Terlepas dari itu, film produksi MD Pictures ini ditonton lebih dari 3,6 juta penonton bioskop dan menjadi film terlaris kedua pada 2008.
2. Ayat-ayat Cinta 2
Sembilan tahun kemudian, Ayat-ayat Cinta 2 produksi PH yang sama dirilis di bioskop. Masih diadaptasi dari novel Habiburrahman El Shirazy, namun kali ini disutradarai Guntur Soehardjanto. Fedi Nuril meneruskan peran sebagai Fahri.