Bom Bunuh Diri, Taktik Jitu Pasukan Irak

Pasukan Saddam Hussein mengancam akan lebih banyak menggunakan serangan bom bunuh diri untuk mengusir pasukan koalisi. Pentagon menuding serangan bom bunuh diri sebagai tindakan teroris.

oleh Liputan6Diterbitkan 31 Maret 2003, 17:14 WIB
Liputan6.com, Baghdad: Pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat benar-benar harus menyiapkan strategi lebih jitu untuk menghadapi pertempuran selanjutnya. Sebab, tak lama lagi pasukan sekutu akan menghadapi perlawanan pasukan elite Irak, Garda Republik pimpinan Qusay, putra bungsu Presiden Saddam Hussein. Apalagi, Garda Republik akan menerapkan taktik bom bunuh diri untuk menghalau musuh. Tak hanya itu, Deputi Perdana Menteri Irak Tariq Aziz pun mengatakan, pihaknya mengizinkan warga negara lain untuk berjihad di Irak. Dalam konferensi pers di Baghdad, Ahad (30/3), Aziz mengklaim memiliki lebih dari 4.000 warga Arab yang sudah siap menjadi martir hidup. Menurut Aziz, saat ini taktik itulah yang paling jitu, kecuali pasukan asing menarik diri dari teroterial Irak. Dan, semua pelaku bom bunuh diri akan dianggap sebagai pahlawan Irak.

Ancaman Irak ini cukup membuat AS miris. Setidaknya itu terungkap dalam briefing di Pentagon--Markas Pertahanan AS. Wakil Direktur Operasi Kerja Sama Staf Mayor Jenderal Stanley McChrystal mengatakan, pihaknya sangat memprihatinkan serangan bom bunuh diri Irak. Dia menuding serangan model itu adalah aksi terorisme. Dan, untuk menghadapi taktik itu, Pentagon akan menggunakan penyesuaian strategi, teknik, dan prosedur untuk memastikan keadaan benar-benar aman. Tapi langkah itu diyakini tak akan mempengaruhi operasi secara keseluruhan.

Asal tahu saja, serangan bom bunuh diri pertama kali dilancarkan Irak sejak invasi AS. Aksi itu dilakukan seorang perwira di pintu pemeriksaan Kota Najaf, Irak, Sabtu pekan silam. Tindakan harakiri ala tentara Irak terjadi ketika sebuah taksi berhenti karena dijegat lima tentara AS [baca: Bom Bunuh Diri Menewaskan Lima Prajurit AS ]. Saat itu pula taksi tersebut meledak dan menewaskan kelima tentara pasukan AS.

Dari medan perang, pertempuran sengit terus berlangsung di Kota Nasiriyah, sebelah selatan Irak. Helikopter Apache AS terus melayang tinggi di atas kota tersebut sambil menembakkan peluru ke sejumlah tempat yang menjadi target. Setelah baku tembak beberapa jam, Marinir AS dilaporkan berhasil menguasai beberapa bangunan di dekat kota tersebut, meski belum sepenuhnya mengendalikan kota ini.

Situasi berbeda terlihat di sebelah utara Nasiriyah. Di sana anggota Marinir AS yang tergabung dalam Batalyon First Light Armored Reconnaissance justru tengah mengadakan upacara penghormatan bagi Kopral Jesus Suarez del Solar, yang tewas dalam pertempuran pada 29 Maret silam. Suarez yang baru berusia 29 tahun itu ialah serdadu pertama dari pasukan Marinir yang tewas dalam invasi AS ke Irak. Suarez tewas akibat serentetan tembakan pasukan Irak ketika bertugas mengintai di atap sebuah gedung. Menurut Sayne, istri korban, Suarez memilih berperang ke Irak untuk mencegah adanya serangan terorisme ke AS, seperti yang digembor-gemborkan pemerintahan Presiden George Walker Bush.

Di pegunungan Daka, sekitar 55 kilometer dari Kota Mosul di Irak utara, pasukan AS dan sekutu menjatuhkan sekitar 20 bom di wilayah tersebut pada pertempuran yang belangsung Ahad kemarin [baca: Baghdad Masih Dijatuhi Bom ]. Bom yang diperkirakan dibawa pesawat pembom B-52 itu diarahkan ke sebelah timur Kota Fayda. Serangan udara pasukan koalisi itu telah meluluhlantakkan kota kaya minyak tersebut. Serangan dahsyat selama 15 menit ini sepertinya diarahkan ke wilayah pemukiman hingga menyebabkan ratusan warga sipil terluka dan harus dirawat di rumah sakit.

Sementara itu ratusan sukarelawan dari Syiriah, yang bertekad membela Presiden Saddam Hussein mulai berdatangan ke Mosul. Para sukarelawan menggunakan puluhan truk dari perbatasan Syiriah-Irak [baca: Relawan Mulai Membanjiri Irak]. Sebelumnya Wakil Presiden Irak Taha Yassin Ramadan memang menggembar-gemborkan bahwa ratusan sukarelawan telah berdatangan ke Irak untuk membantu melawan invasi AS ke Irak.

Sementara itu, pasukan Inggris mengklaim menemukan sebuah tempat penyimpanan amunisi di luar Kota Basra, bagian selatan Irak. Jumlah amunisi yang ditemukan itu dianggap cukup untuk menyuplai satu Skuadron tank dan pasukan artileri. Kota Basra sendiri terus mendapat serangan hebat baik dari udara maupun darat pasukan Inggris. Pasukan elite Kerajaan Inggris itu telah beberapa hari mengepung dan membombardir Basra. Tapi hingga saat ini, mereka belum berhasil menguasai sepenuhnya wilayah tersebut. Serangan koalisi AS itu hanya mengacaukan aliran listrik di Basra, dan memaksa warga sipil melarikan diri dari kota kedua terbesar di Irak tersebut.

Gempuran udara pasukan AS dan serangan darat pasukan Inggris itu meluluhlantakkan gedung pemerintahan dan sekolah di pusat kota. Tank pasukan koalisi yang berkeliling di jalan-jalan kota itu menembaki kantor pusat Partai Baath. Tapi serangan gencar itu tak berhasil karena pendukung Saddam Hussein memindahkan aktivitasnya ke gedung lain. Sejumlah warga sipil yang luka-luka akibat serangan sepanjang Sabtu dan Ahad, termasuk anak-anak kini dirawat di rumah sakit setempat.

Serbuan pasukan sekutu itu tentu membuat kehidupan warga Kota Basra semakin tak menentu. Kendati begitu beberapa restoran di kota itu masih buka seperti biasa. Mereka menyediakan makanan ikan dan domba. Hanya harga-harga melonjak karena pasokan berkurang. Kendati kesulitan, warga Irak tak pernah menyalahkan Partai Baath. Mereka menjalani kehidupan seperti biasa. Perang seolah tak mengganggu aktivitas mereka. Antrean panjang orang masuk ke Kota Basra terjadi setiap hari untuk bertransaksi. Terbetik kabar, dari antrean itu terdapat sejumlah warga yang akan berjihad dan membantuk pasukan Saddam Hussein [baca: Relawan Mulai Membanjiri Irak].(DEN/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya