Inilah El Clasico! Inilah Spanyol! Keberadaan wasit dalam laga besar antara Barcelona dan Real Madrid tak bisa diabaikan begitu saja. Dalam beberapa laga, keputusan wasit seringkali menguntungkan salah satu klub. Jika sudah begitu, klub yang merasa dirugikan hanya bisa mengurut dada atau mengajukan protes.
Jelang El Clasico untuk duel kedua perdelapan final Piala Raja, sorotan tersebut mengarah pada wasit kelahiran Pamplona, Spanyol, 8 Oktober 1973: Undiano Mallenco. Bersama Mallenco, tuan rumah Barcelona lebih banyak kalah.
Dalam empat musim hegemoni Barca bersama pelatih Josep Guardiola (2008-2012), wakil Katalunya memenangkan 211 dari 288 laga dengan rata-rata 73,26 persen. Mereka hanya kalah 25 kali dengan rata-rata 8,68 persen. Di era Tito Vilanova, volume kekalahan meningkat menjadi 21,5 persen. Dari total 14 kekalahan, tiga di antaranya dipimpin Mallenco.
Jika diakumulasi dalam lima musim terakhir, rata-rata kemenangan turun menjadi 64 persen. Sejak 2007, Barca memenangkan sembilan dari 14 laga yang dipimpin oleh Mallenco.
Di sisi Madrid, pasukan Jose Mourinho hanya merebut tiga kemenangan dalam 15 laga kontra Barcelona. Peran Mallenco dalam catatan itu cukup signifikan karena dua dari tiga kemenangan El Real atas El Barca terjadi di bawah peluit yang dihembuskannya. Satu kemenangan lain milik Madrid dipimpin oleh Clos Gomez di Piala Super Spanyol (2-1), Agustus lalu.
Yang paling dikenang Barcelona adalah pertarungan di musim 2011/2012. Mallenco mengabaikan pelanggaran yang dilakukan Alvaro Arbeloa terhadap David Villa ketika kedua tim bertemu dalam pertarungan La Liga di Santiago Bernabeu, 10 Desember 2011.
Sebulan setelah itu, Mallenco mewariskan "protes abadi" dalam insiden Pepe dan Messi di leg pertama perempat final Piala Raja, 18 Januari 2012. Federasi Sepakbola Spanyol (RFEF) mengabaikan tindakan Pepe menginjak tangan Messi. Tentu saja itu diawali dengan tak adanya catatan atas insiden itu dalam laporan pertandingan yang ditandatangani Mallenco. (MD/Def)
Jelang El Clasico untuk duel kedua perdelapan final Piala Raja, sorotan tersebut mengarah pada wasit kelahiran Pamplona, Spanyol, 8 Oktober 1973: Undiano Mallenco. Bersama Mallenco, tuan rumah Barcelona lebih banyak kalah.
Dalam empat musim hegemoni Barca bersama pelatih Josep Guardiola (2008-2012), wakil Katalunya memenangkan 211 dari 288 laga dengan rata-rata 73,26 persen. Mereka hanya kalah 25 kali dengan rata-rata 8,68 persen. Di era Tito Vilanova, volume kekalahan meningkat menjadi 21,5 persen. Dari total 14 kekalahan, tiga di antaranya dipimpin Mallenco.
Jika diakumulasi dalam lima musim terakhir, rata-rata kemenangan turun menjadi 64 persen. Sejak 2007, Barca memenangkan sembilan dari 14 laga yang dipimpin oleh Mallenco.
Di sisi Madrid, pasukan Jose Mourinho hanya merebut tiga kemenangan dalam 15 laga kontra Barcelona. Peran Mallenco dalam catatan itu cukup signifikan karena dua dari tiga kemenangan El Real atas El Barca terjadi di bawah peluit yang dihembuskannya. Satu kemenangan lain milik Madrid dipimpin oleh Clos Gomez di Piala Super Spanyol (2-1), Agustus lalu.
Yang paling dikenang Barcelona adalah pertarungan di musim 2011/2012. Mallenco mengabaikan pelanggaran yang dilakukan Alvaro Arbeloa terhadap David Villa ketika kedua tim bertemu dalam pertarungan La Liga di Santiago Bernabeu, 10 Desember 2011.
Sebulan setelah itu, Mallenco mewariskan "protes abadi" dalam insiden Pepe dan Messi di leg pertama perempat final Piala Raja, 18 Januari 2012. Federasi Sepakbola Spanyol (RFEF) mengabaikan tindakan Pepe menginjak tangan Messi. Tentu saja itu diawali dengan tak adanya catatan atas insiden itu dalam laporan pertandingan yang ditandatangani Mallenco. (MD/Def)