Harga Minyak Turun USD 1 per Barel Usai Pengetatan Stok AS

Harga minyak mentah berjangka Brent di level USD 80,98 per barel, turun persen USD 1,22 atau 1,5 persen.

oleh Maulandy Rizki Bayu KencanaDiterbitkan 23 Desember 2022, 08:30 WIB
Harga minyak mentah acuan AS turun 7,7 persen menjadi US$ 52,53 per barel dipicu sentimen krisis penyelesaian utang Yunani.

Liputan6.com, Jakarta Harga minyak turun sekitar USD 1 per barel pada perdagangan Kamis (Jumat waktu Jakarta) di tengah perdagangan yang bergejolak sebagai dampak dari pengetatan stok minyak mentah Amerika Serikat (AS).

Hal ini akibat badai musim dingin di Amerika Serikat yang tidak sebanding dengan kekhawatiran bahwa kenaikan suku bunga Federal Reserve dan meningkatnya kasus COVID-19 di China akan mengurangi permintaan.

Dikutip dari CNBC, Jumat (23/12/2022), harga minyak mentah berjangka Brent di level USD 80,98 per barel, turun persen USD 1,22 atau 1,5 persen. 

Sedangkan harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS menetap di USD 77,49, turun 80 sen atau 1 persen.

Kedua patokan harga minyak dunia ini telah naik USD 1 per barel di awal sesi.

Minyak turun usai mengalami kenaikan harian setelah rilis data ekonomi AS menunjukkan jumlah orang yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran meningkat kurang dari yang diharapkan minggu lalu dan ekonomi pulih lebih cepat dari perkiraan sebelumnya pada kuartal ketiga.

Data yang cerah meningkatkan kekhawatiran bahwa Fed lebih cenderung mengintensifkan kenaikan suku bunga dalam sebuah langkah yang dapat memperlambat ekonomi dan menghambat konsumsi bahan bakar.

“Itu mulai merusak momentum karena kekhawatiran The Fed akan kembali memangkas pasar lagi,” kata Phil Flynn, Seorang Analis di Price Futures Group di Chicago.

 

Penerbangan

Harga minyak cenderung variatif didorong sentimen ketegangan Rusia-Ukraina dan serangan Amerika Serikat ke Irak.

Pada saat yang sama, maskapai penerbangan membatalkan hampir 2.000 penerbangan AS yang dijadwalkan pada Kamis dan Jumat, mengganggu ribuan perjalanan liburan dan mengirimkan sinyal bearish untuk permintaan bahan bakar perjalanan.

Faktor lain yang juga membatasi harga minyak yaitu kenaikan kurs dolar AS dan penurunan ekuitas, bersama dengan kekhawatiran permintaan akibat lonjakan COVID-19 China.

China mungkin berjuang untuk mempertahankan jumlah infeksi COVID-19 yang akurat karena mengalami lonjakan besar dalam kasus di tengah kekhawatiran tentang kurangnya data dari negara tersebut.

Sebuah rumah sakit Shanghai mengatakan kepada stafnya untuk bersiap menghadapi “pertempuran tragis” dengan COVID-19 karena diperkirakan setengah dari 25 juta orang kota itu akan terinfeksi pada akhir minggu depan, karena virus menyebar ke seluruh China sebagian besar tidak terkendali.

 

Sempat Melonjak

Ilustrasi Harga Minyak Dunia Hari Ini. Foto: AFP

Kedua patokan harga minyak dunia ini melonjak pada hari Rabu setelah data pemerintah menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun jauh lebih banyak dari yang diperkirakan analis, membukukan penurunan 5,89 juta barel untuk pekan yang berakhir 16 Desember.

Stok sulingan, yang meliputi minyak pemanas dan bahan bakar jet, juga turun, bertentangan dengan ekspektasi untuk peningkatan, dalam apa yang disebut analis PVM Stephen Brennock sebagai “laporan stok yang sangat mendukung harga dari EIA.”

Stok turun karena permintaan untuk minyak pemanas akan melonjak karena badai musim dingin yang kuat, dengan angin dingin di bawah nol diperkirakan sampai ke selatan Texas dan perkiraan terendah yang memecahkan rekor untuk Florida. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya